- Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, membantah isu penggabungan atau merger antara Partai NasDem dan Partai Gerindra.
- Surya Paloh mengusulkan pembentukan Blok Politik sebagai bentuk rekayasa politik untuk menciptakan kerja sama kebijakan yang solid.
- Konsep Blok Politik yang masih berupa wacana ini tetap menjaga independensi masing-masing partai tanpa adanya peleburan organisasi.
Suara.com - Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, angkat bicara untuk meluruskan kesimpangsiuran informasi mengenai isu penggabungan Partai NasDem dan Partai Gerindra.
Willy menegaskan, bahwa penggunaan istilah "merger" dalam konteks partai politik adalah sebuah kesalahan fatal dan menunjukkan kedangkalan literatur politik.
Menurutnya, gagasan yang dibawa oleh Ketua Umum NasDem Surya Paloh bukanlah tentang peleburan organisasi secara korporasi, melainkan pembentukan sebuah Political Block (Blok Politik).
“Gini, teman-teman, biar tidak sesat berpikir. Ini kan tentang istilah, tapi istilah itu substansi. Saya bercanda itu harus teman-teman lihat apa sih referensi kita. Pak Surya tuh orang yang concern terhadap situasi politik kita. Apa referensi kita berpolitik? Itu Political Block. Ini orang yang membahas ini miskin, saya katakan, miskin literatur politiknya. Maka dia pakai istilah merger,” ujar Willy di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).
Willy menjelaskan, bahwa terdapat perbedaan mendasar antara organisasi bisnis dan organisasi politik.
Ia meminta semua pihak untuk menggunakan istilah yang tepat agar tidak menimbulkan penyesatan informasi di tengah masyarakat.
“Saya mau tanya sama teman-tahun, pasca reformasi pemilu pertama pascareformasi tahun 1999 apakah ada partai satu dan lainnya yang melakukan unifikasi? Kita punya Political Organization, kita punya Business Organization. It's so different. Maka gunakanlah istilah referensi yang tepat untuk sesuatu hal yang tepat. Jangan kemudian gebyah uyah. Kalau lu nggak ngerti atau lu ingin mendiskreditkan, itu lain cerita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Willy memaparkan bahwa konsep Political Block yang ditawarkan Surya Paloh merupakan sebuah terobosan atau out of the box dalam sistem presidensial Indonesia.
Hal ini dilakukan agar kerja sama antarpartai tidak lagi bersifat transaksional atau sekadar urusan pencalonan semata.
Baca Juga: Soal Isu Peleburan dengan Gerindra, NasDem: Tidak Masuk Akal, Kami Bukan PT Tbk
“Apa yang ditawarkan oleh seorang Surya Paloh adalah political block. Blok politik, bukan merger. Oke, apa itu political block? Teman-teman silakan lihat, ini adalah sebuah political engineering. Bagaimana perjuangan-perjuangan kebijakan itu menjadi satu tarikan napas, tidak transaksional. Kan selama ini kan transaksional banget. Nah, kita membutuhkan sebuah political block yang solid dari atas sampai ke bawah,” papar Willy.
Ia juga menekankan bahwa dalam political block, independensi masing-masing partai tetap terjaga, namun dipersatukan oleh tujuan objektif yang sama dalam mengawal kebijakan pemerintah.
“Bagaimana kita bisa melakukan proses political engineering secara kolektif bersama-sama dan independensi itu tetap ada. Yang mempersatukan kita adalah objektif. Di sana dong. Ini cetek banget nih orang-orang nih asal bacot aja gitu,” imbuhnya.
Menjawab pertanyaan mengenai apakah fusi antara NasDem dan Gerindra benar-benar akan terjadi, Willy menyatakan bahwa saat ini semuanya masih dalam tahap wacana atau diskursus politik yang sedang diperdalam.
“Politik ini discourse. Discourse-nya apa? Mulai dari mimpi, mimpi kemudian diturunkan menjadi diskusi, dari diskusi kemudian diperdalam eh kita mau seperti apa political block ini,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa konsep blok politik bukan hal baru dalam sejarah Indonesia, merujuk pada Front Nasional di era Bung Karno maupun sejarah berdirinya Golkar. Willy meminta agar publik tidak terjebak dalam simplifikasi yang menyesatkan.
Berita Terkait
-
Soal Isu Peleburan dengan Gerindra, NasDem: Tidak Masuk Akal, Kami Bukan PT Tbk
-
Pramono Sebut Parpol Bisa Beli Nama Halte, NasDem Langsung Incar Naming Rights Gondangdia
-
Isu Fusi NasDem-Gerindra Mencuat, Saan Mustopa: Sebagai Ide tentu Dipertimbangkan, Itu Hal Biasa
-
RDP DPR-BPIP Diwarnai Candaan, Willy Aditya Singgung Merger NasDem-Gerindra
-
Dasco: Bupati Tulungagung yang Kena OTT KPK Bukan Gerindra, Wakilnya Baru Kader
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Survei Cyrus Network: 70 Persen Masyarakat Puas Kinerja Menteri Kabinet Merah Putih
-
Survei Cyrus: 65,4 Persen Publik Dukung MBG
-
Lolos dari Bandara Soetta, Sabu 4,8 Kg Kiriman dari Iran Disergap di Pamulang!
-
Mendagri Tito Bahas Persiapan Program Perumahan di Wilayah Perbatasan
-
Bisa Jadi Pintu Masuk HIV: 19 dari 20 Remaja Jakarta Terinfeksi Penyakit Menular Seksual
-
Begal Petugas Damkar Ditangkap di Hotel Pluit, Polisi: Masih Ada 4 Pelaku yang Buron!
-
Makar atau Kebebasan Berekspresi? Membedah Kontroversi Pernyataan Saiful Mujani
-
Perintah Tegas Pramono ke Pasukan Kuning: Jangan Tunggu Viral, Jalan Rusak Harus Cepat Ditangani!
-
Dipolisikan Faizal Assegaf ke Polda Metro, Jubir KPK Santai: Itu Hak Konstitusi, Kami Hormati
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029