News / Internasional
Rabu, 22 April 2026 | 17:07 WIB
Kapal induk milik Amerika Serikat USS Gerald R Ford (Wikipedia)

Meski begitu, pihak Angkatan Laut AS menegaskan bahwa setiap gangguan dapat ditangani dengan cepat dan tidak mengganggu operasional secara signifikan.

Dampak Penugasan Panjang terhadap Moral Awak

Penugasan selama hampir 9 bulan tanpa jeda menjadi faktor lain yang ikut disorot. Diketahui kapal induk USS Gerald R. Ford berangkat dari Naval Station Norfolk pada Juni 2025 dan sejak itu telah menjalani dua kali perpanjangan masa tugas.

Durasi penugasan yang panjang ini bahkan mendekati rekor pada era Perang Vietnam, ketika kapal induk bisa beroperasi lebih dari 300 hari tanpa kembali ke pangkalan.

Tekanan operasional yang tinggi di tengah konflik dinilai berdampak pada kondisi psikologis para awak kapal. Kritik datang dari Mark Warner, yang menilai awak kapal telah mencapai batas kemampuan mereka. Ia menyoroti bahwa keputusan militer yang agresif berpotensi membebani personel di lapangan.

Bahkan Senator AS Tim Kaine menyebut tekanan yang dialami kru sangat besar setelah berbulan-bulan jauh dari keluarga.

"Penugasan panjang ini memberikan tekanan serius terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan mereka," ujar Kaine dikutip dari USA Today.

Komandan gugus tempur kapal induk, Paul Lanzilotta, mengatakan kelelahan menjadi faktor utama selama misi panjang.

"Penugasan panjang memang menantang. Kelelahan menumpuk dan waktu jauh dari rumah sangat membebani para pelaut," ujarnya.

Baca Juga: Iran Serang Kapal Kontainer Dekat Selat Hormuz

Pengganti Disiapkan: USS George H.W. Bush

Sebagai bagian dari upaya pemulihan, kapal induk USS Gerald R. Ford direncanakan akan berlayar menuju Crete untuk menjalani proses perbaikan. Meski begitu, belum ada kepastian mengenai berapa lama pengerjaan tersebut akan berlangsung.

Penarikan sementara ini tentu berdampak pada kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pasalnya kapal ini membawa lebih dari 75 pesawat tempur termasuk F/A-18 Super Hornet yang selama ini berperan aktif dalam operasi serangan udara terhadap Iran.

Untuk menutup kekosongan tersebut, militer AS dikabarkan tengah menyiapkan kapal induk lain, yakni USS George H.W. Bush. Kehadiran kapal pengganti ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan dan stabilitas operasi militer di kawasan tersebut.

Sebelumnya, USS Gerald R. Ford terlibat dalam operasi militer di kawasan Karibia yang mencakup penindakan jaringan narkoba serta tekanan terhadap pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro.

Setelah itu, kapal ini kembali digeser ke Timur Tengah untuk memperkuat posisi militer Amerika Serikat termasuk mendukung operasi udara intensif terhadap target militer Iran.

Load More