-
Trump klaim wabah virus hanta di kapal pesiar terkendali dengan bantuan tim ahli.
-
WHO konfirmasi lima kasus virus Andes yang bisa menular antarmanusia di kapal tersebut.
-
Tiga orang meninggal dunia sementara pasien lainnya kini dirawat di beberapa negara Eropa.
Suara.com - Presiden Donald Trump menegaskan langkah pengendalian ketat sedang dilakukan menyusul temuan kasus hantavirus yang melanda sebuah kapal pesiar.
Klaim terkendalinya situasi ini muncul setelah tim ahli dikerahkan untuk memantau penyebaran virus yang telah memicu kewaspadaan internasional tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat memprioritaskan keselamatan warga di atas kapal melalui koordinasi diplomatik dan otoritas kesehatan global secara intensif.
Laporan terbaru dari The Hill, menunjukkan adanya varian virus Andes yang memiliki karakteristik unik yakni kemampuan menular secara terbatas di antara manusia.
Kapasitas penularan ini menjadi perhatian serius karena biasanya virus serupa hanya menyebar melalui kontak fisik dengan hewan pengerat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lima dari delapan kasus yang dicurigai telah terbukti positif melalui uji laboratorium.
Tragedi ini telah merenggut tiga nyawa penumpang kapal yang diduga kuat akibat infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan tersebut.
“Kami memiliki banyak orang, banyak orang hebat, yang mempelajarinya,” kata Trump.
“Seharusnya semuanya akan baik-baik saja, kami harap,” lanjutnya.
Baca Juga: Putus Hubungan dengan WHO, Amerika Serikat Berisiko Kehilangan Jejak Penyebaran Hantavirus
Hingga saat ini belum ada vaksin khusus namun penanganan medis sejak dini terbukti mampu meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Kapal yang memulai perjalanan dari Argentina ini kini sedang menuju Kepulauan Canary dengan membawa total 140 orang.
Pihak Oceanwide Expeditions melaporkan tidak ada lagi kru maupun penumpang yang menunjukkan gejala klinis tambahan di atas kapal.
Beberapa pasien telah dievakuasi ke Belanda dan Jerman guna mendapatkan perawatan intensif dalam kondisi yang dilaporkan stabil.
Terdapat juga pasien yang sedang menjalani observasi medis di fasilitas kesehatan wilayah Afrika Selatan serta Swiss.
WHO dan CDC menyatakan bahwa tingkat risiko kesehatan masyarakat secara luas dari virus ini masih tergolong rendah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Misteri Formasi Tak Lazim Drone Iran, Kesaksian Pilot F-15 Bikin Geger
-
Wacana Ekspor Satu Pintu Dinilai Berpotensi Perkuat Posisi Indonesia di Tengah Persaingan Global
-
Warga Sipiongot Senang Karena Jalan Diaspal Setelah Puluhan Tahun
-
Skandal Korupsi Kuota Haji: KPK Cecar Eks Dirjen PHU Hilman Latief Soal Modus Bagi-bagi 50 Persen
-
Masuk RS Polri Gegara Sakit Saluran Pencernaan! Penahanan Gus Yaqut Dibantarkan
-
Eks Plt Direktur PU Ditahan! Terima Suap BUMN dan Rekayasa Proyek Fiktif Rp16 Miliar
-
3 Tahun dalam Penyiksaan: Bagaimana Penyekapan YTR Bisa Luput dari Pantauan Sekitar?
-
Sasaran Turis Bali! 18 Kg Ganja Asal Amerika-Rusia Diselundupkan Lewat Trik Kompartemen Koper
-
Ditanya Nyesal Ikut Pilpres 2024, Anies Balik Tanya Publik: NyeseI Tak Memilih Saya?
-
Usut Dalang Pembagian Kuota Haji 50:50, Eks Dirjen PHU Kemenag Dicecar KPK