News / Internasional
Rabu, 20 Mei 2026 | 17:32 WIB
Pemimpin junta Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing saat menghadiri parade militer memperingati 78 tahun angkatan bersenjata Myanmar di Naypyidaw, Myanmar, Senin (27/3/2023). [Dok.Antara]
Baca 10 detik
  • Militer Myanmar merebut kembali kota perbatasan Mawtaung dari kelompok oposisi pada Selasa, 19 Mei 2026 setelah operasi besar.
  • Operasi militer selama dua pekan tersebut melibatkan ratusan bentrokan dan mengakibatkan korban jiwa di kedua belah pihak.
  • Keberhasilan ini memperkuat kendali junta atas jalur perdagangan internasional antara Myanmar dan Thailand senilai jutaan dolar AS.

Kondisi itu membuat kelompok pro-demokrasi semakin tertekan di medan tempur.

Di sisi politik, junta militer Myanmar juga mulai menunjukkan upaya memperkuat legitimasi pemerintahannya.

Setelah lima tahun pemerintahan militer, junta menggelar pemilu terbatas yang tidak melibatkan partai pendukung Aung San Suu Kyi.

Parlemen hasil pemilu tersebut kemudian memilih pemimpin kudeta Min Aung Hlaing sebagai presiden sipil.

Sejumlah pengamat demokrasi menilai pemilu tersebut hanya menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan militer di Myanmar.

Load More