News / Nasional
Senin, 25 Mei 2026 | 12:02 WIB
Wakabareskrim Polri, Irjen Nunung Syaifuddin, mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan, gangguan transmisi akibat cuaca buruk. (Suara.com/Faqih)
Baca 10 detik
  • Polri memastikan pemadaman listrik massal di Sumatera pada 22 Mei lalu disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem, bukan sabotase.
  • Puslabfor dan PLN menemukan kabel transmisi putus akibat beban cuaca, bukan karena tindakan pemotongan yang disengaja manusia.
  • Gangguan transmisi tersebut memicu ketidakseimbangan frekuensi yang mengakibatkan 176 gardu induk di berbagai wilayah Sumatera mengalami pemadaman listrik.

Suara.com - Polri membantah adanya tindakan sabotase dalam peristiwa pemadaman listrik massal atau blackout di wilayah pulau Sumatera.

Wakabareskrim Polri, Irjen Nunung Syaifuddin, mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan, gangguan transmisi akibat cuaca buruk.

Nunung mengatakan dugaan ini diperoleh dari hasil penyelidikan antara pihaknya yang melibatkan Puslabfor dan PLN.

"Sampai dengan saat ini bisa kami pastikan tidak ditemukan adanya indikasi sabotase ataupun unsur kesengajaan dalam peristiwa blackout,” kata Nunung, di Bareskrim Polri, Senin (25/5/2026).

“Dugaan sementara mengarah pada faktor teknis dan cuaca yang ekstrem yang menyebabkan gangguan pada sistem transmisi kelistrikan," tambahnya.

Faktor cuaca buruk kata dia, menyebabkan frekuensi dan tegangan listrik tidak stabil memicu gangguan secara berantai.

Dampaknya yakni terjadi pemadaman listrik di wilayah Sumatera meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.

Sementara itu, ia memastikan tidak ada tindakan sabotase. Hal ini diperkuat dari temuan adanya kabel transmisi yang putus.

Kemudian, kondisi fisik tower transmisi dalam keadaan baik dan tidak ditemukan kerusakan signifikan pada struktur tower.

Baca Juga: Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!

"Kejadian putusnya kabel transmisi diduga terjadi secara tiba-tiba akibat pengaruh faktor cuaca yang dan masih memerlukan pendalaman lebih lanjut secara teknis maupun ilmiah," jelas Nunung.

Dugaan petugas di lapangan juga diperkuat dari keterangan para saksi. Masyarakat sekitar lokasi menyebut jika sempat terjadi ledakan sebelum terjadi pemadaman listrik.

"Masyarakat sekitar lokasi kejadian, menerangkan bahwa sesaat sebelum kejadian terjadi ledakan, baru terjadi pemadaman listrik di area sekitar tower transmisi," ucapnya.

Dugaan ini juga diperkuat dengan hasil pemeriksaan Puslabfor dan PLN. Berdasarkan hasil temuan, putusnya kabel bukan akibat dipotong oleh manusia. Melainkan, akibat gesekan, pengaruh angin, faktor panas akibat sambungan longgar menimbulkan rongga maupun faktor tarikan atau goyangan akibat cuaca ekstrem.

Seorang ibu dan anaknya di Aceh Barat menyalakan penerangan tradisional akibat pemadaman listrik bergilir pada Sabtu malam (23/5/2026). [Antara]

"Dia lebih bersifat atau berbentuk serabut, ya, seperti yang ada di depan. Jadi kalau itu sabotase, pasti potongan-potongannya lebih rapi," ungkap Nunung.

Diketahui bersama, sebagian wilayah Sumatera gelap gulita, pada Jumat (22/5) lalu. Ada 176 gardu induk di wilayah Sumatera yang terdampak pemadaman.

Load More