News / Nasional
Senin, 25 Mei 2026 | 18:15 WIB
Sejumlah petani Pegunungan Kendeng menabuh lesung saat menggelar aksi di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (12/4).

Perempuan Jadi Ujung Tombak Sekaligus Ujung Tanduk

Sementara itu, perwakilan dari Solidaritas Perempuan, Dina Herdiana, menyebut perempuan saat ini berada pada posisi sebagai “ujung tombak” sekaligus “ujung tanduk” dalam menghadapi krisis iklim.

Di berbagai daerah, perempuan terlibat langsung menjaga pertanian keluarga, mengelola sumber air, hingga menyediakan bibit tanaman untuk memastikan ketersediaan pangan rumah tangga.

“Siapa lagi kalau bukan perempuan,” ujar Dina.

Meski menjadi aktor penting dalam upaya adaptasi perubahan iklim, menurut Dina, kontribusi perempuan belum diikuti oleh dukungan kebijakan yang memadai.

“Ternyata belum ada kebijakan yang spesifik untuk aksi-aksi yang berkaitan dengan krisis iklim yang itu mensupport atau memfasilitasi perempuan untuk melakukan aksi tersebut,” katanya.

Karena itu, ia menilai kebijakan iklim ke depan perlu lebih memperhatikan pengalaman dan kebutuhan perempuan. Bukan hanya sebagai kelompok rentan yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai aktor utama yang selama ini menjaga ketahanan pangan, sumber daya alam, dan keberlanjutan komunitas di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata.

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, mulai dari siklus El-Nino yang ekstrem hingga ancaman ketahanan pangan, Program GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia menyelenggarakan Festival Raksha Loka di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 22-23 Mei 2026.

Festival bertajuk “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan” ini merupakan selebrasi sekaligus ruang amplifikasi atas keberhasilan inisiatif pemulihan ekosistem berbasis komunitas yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir dalam fase Operational Phase 7 (OP7).

Baca Juga: Perempuan Era Digital: Tampil Kece di Luar, Pusing Sendiri di Akhir Bulan

Sejak Juli 2022, GEF SGP Indonesia bersama 86 mitra lokal telah bekerja di empat bentang alam strategis, yakni: DAS Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), Gorontalo (Wilayah Penyangga SM Nantu & Tahura BJ Habibie), serta Pulau Sabu Raijua (NTT). Upaya kolektif ini telah berhasil memulihkan ekosistem dari ancaman deforestasi, krisis air bersih, hingga degradasi pesisir.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More