-
Militer Israel meluncurkan serangan udara mematikan ke Beirut dan kota Tyre di Lebanon selatan.
-
Perintah evakuasi massal mencakup 14 persen wilayah Lebanon dan memicu krisis kapasitas penampungan.
-
Kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sebulan.
Suara.com - Gelombang serangan udara militer Israel kembali mengguncang ibu kota Beirut dan wilayah Lebanon selatan secara masif. Operasi tempur ini diluncurkan beberapa jam setelah perintah pengosongan wilayah terbesar diterbitkan sejak kesepakatan gencatan senjata.
Langkah agresif Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tersebut langsung memicu eksodus besar-besaran warga sipil yang kini terlantar tanpa arah. Situasi di lapangan kian kritis karena lokasi penampungan di kota-kota aman dilaporkan telah melebihi kapasitas tampung.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 11 orang tewas akibat rentetan bom yang menghancurkan gedung pemukiman. Skala kehancuran tersebar merata mulai dari pusat kota Tyre hingga pinggiran timur yang berbatasan langsung dengan zona konflik.
Warga setempat menyaksikan kepulan asap raksasa menyerupai jamur membubung tinggi di antara kompleks apartemen padat penduduk. Api yang menyala sejak malam hari merembet cepat ke fasilitas publik dan kendaraan yang terparkir di jalanan.
Evakuasi mandiri terus berjalan di tengah ancaman serangan susulan yang diprediksi akan jauh lebih mematikan. Tim penyelamat bahkan terpaksa menghentikan proses evakuasi korban karena situasi keamanan yang sangat tidak kondusif.
"Kru penyelamat dan pemulihan terpaksa menghentikan pekerjaan mereka karena kondisi tetap 'terlalu berbahaya' dan para pekerja menerima telepon dari militer Israel yang memperingatkan mereka untuk mengevakuasi area tersebut," kata seorang anggota Hezbollah di Tyre menyatakan kepada BBC, dikutip Jumat (29/5/2026).
Perintah pengosongan teranyar mencakup area di sepanjang selatan Sungai Zahrani yang menjadi rumah bagi ratusan ribu jiwa. Wilayah geografi yang terdampak instruksi militer ini diperkirakan mencapai 14 persen dari total luas daratan Lebanon.
Kondisi tersebut memaksa otoritas lokal Tyre mengalihkan arus pengungsi menuju wilayah utara termasuk ke kota besar Sidon. Kendati demikian, fasilitas penampungan yang tersedia sudah tidak mampu lagi menampung gelombang manusia yang terus berdatangan.
Kepala delegasi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Lebanon, Agnes Dhur, memberikan peringatan keras atas krisis kemanusiaan ini. Agnes Dhur menyatakan:
Baca Juga: Harga Domba Capai Rp76 Juta! Cerita Miris Idul Adha 2026 Umat Muslim Gaza
"Permusuhan yang terus berlanjut menciptakan kondisi yang tidak dapat dipertahankan bagi warga sipil dan berisiko menimbulkan konsekuensi jangka panjang."
Trauma mendalam dirasakan oleh masyarakat sipil yang rumah dan tempat usahanya hancur total akibat konflik berkepanjangan. Banyak warga yang sebelumnya bersumpah tidak akan pergi, kini terpaksa mengemas barang berharga mereka demi menyelamatkan nyawa.
Rida, seorang warga berusia 52 tahun yang memiliki kafe di dekat pantai, mengungkapkan kepasrahannya. Rida menyatakan:
"Saya pergi ke pelabuhan di samping pantai dan banyak orang di sana. Orang-orang mengemas barang-barang mereka. Semua orang ketakutan."
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh keputusan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memperluas operasi darat di perbatasan. Keputusan tersebut diambil menyusul serangan drone Hezbollah yang menyasar tentara Israel dan pemukiman warga di wilayah utara.
Kedua belah pihak saat ini saling melempar tuduhan terkait pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang disepakati sejak 17 April. Israel berkukuh mempertahankan hak pertahanan diri, sementara Lebanon menilai serangan udara tersebut sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional.
Sejak konflik bersenjata ini pecah pada 2 Maret silam, korban jiwa dari kedua belah pihak terus berjatuhan. Data resmi Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 3.213 orang tewas, sedangkan pihak Israel melaporkan kehilangan 23 tentara dan empat warga sipil.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru
-
Kejagung Seret Marcella Santoso ke Kasasi, Incar Pencabutan Izin Praktik Advokat
-
Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
-
MAKI Desak Jaksa Tak Gentar Usut Dugaan Tambang Ilegal Kaltara yang Seret Nama Karuna Murdaya
-
Gegana Tak Sanggup? Ahli Nuklir UGM Turun Tangan Selidiki Api Misterius di Sleman
-
Misteri Belasan Luka Tusuk Balita di Bekasi Terungkap, Paman Sendiri Jadi Tersangka
-
Bawa Bukti ke Kejagung, PT PMM Bantah Tuduhan Penyelundupan: Itu Fitnah, Kasum TNI Salah Info
-
Sahroni Geram WNA Brunei Bikin Onar di Blok M: Segerakan Deportasi dan Blacklist
-
KPK Disebut Tak Lagi 'Sakti' Sejak Jadi ASN, Independensinya Hilang