Suara.com - PT Newmont Nusa Tenggara resmi memberhentikan operasi tambang di Batu Hijau, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Seiring dengan pemberhentian operasi dengan alasan “force majeure” tersebut, PT Newmont Nusa Tenggara juga merumahkan ribuan karyawan.
Keputusan untuk merumahkan karyawan dilakukan untuk menghindari tanggung jawab yang harus diberikan perusahaan kepada karyawan karena tidak berjalannya operasi tambang di Batu Hijau.
"Kami telah melakukan berbagai langkah dan upaya untuk membantu menyelesaikan masalah ekspor, dan mendukung kebijakan Pemerintah dalam meningkatkan kegiatan pengolahan dan pemurnian dalam negeri. Namun, perusahaan belum dapat melakukan ekspor konsentrat tembaga sejak Januari lalu dan belum menerima izin ekspor," kata Presiden Direktur PTNNT Martiono Hadianto dalam siaran pers yang diterima suara.com, Kamis (5/6/2014).
PT Newmont menyalahkan aturan baru yang diterapkan mulai 1 Januari lalu yang melarang perusahaan tambang mengekspor konsentrat. Selain itu, pemerintah Indonesia juga menerapkan pajak yang tinggi untuk ekspor hasil tambang yang belum diolah. Aturan ini diterapkan untuk meningkatkan pendapatan Indonesia dari industri tambang.
Sejumlah kalangan menilai, Indonesia kehilangan potensi pemasukan karena adanya ekspor mineral mentah yang belum diproses. Padahal, pemerintah bisa menerima pemasukan lebih besar apabila mineral tersebut diolah terlebih dahulu sebelum diekspor.
Untuk meminimalkan biaya pengeluaran dan menjaga kemampuan serta kesiapan perusahaan untuk kembali beroperasi, sekitar 80 persen dari 4.000 karyawan di Batu Hijau akan ditempatkan dalam status "stand by" dengan pemotongan gaji mulai 6 Juni 2014.
Kendati demikian, PT Newmont Nusa Tenggara tetap melakukan pembicaraan dengan Pemerintah guna mencari jalan keluar atas masalah ekspor itu.
"Kami berharap bahwa dialog yang terus dilakukan dengan Pemerintah akan dapat memberikan jalan keluar masalah ini dalam waktu yang tidak terlalu lama," ujarnya.
"Demi melindungi pekerjaan dan hak-hak serta kepentingan para pemangku kepentingan perusahaan, kami dengan hormat meminta agar pemerintah dapat mengizinkan Newmont untuk dapat melanjutkan kegiatan operasinya secara normal dengan mengizinkan perusahaan melakukan ekspor konsentrat tembaga, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam kontrak karya, sampai masalah ini terselesaikan," kata dia.
Pada bulan lalu, PT Newmont mengumumkan akan menghentikan seluruh kegiatan penambangan dan produksi di Batu Hijau dan merumahkan karyawaan akibat penuhnya tempat penampungan konsentrat di tambang Batu Hijau.
Kegiatan eksplorasi berhenti akibat imbas penerapan UU Minerba No 04/2009 yang melarang pengusaha mengekspor mineral mentah ke luar negeri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
IHSG Makin Terpuruk Pagi Ini, Kembali Bergerak ke level 6.900
-
BRI Multiguna Karya, Solusi Renovasi Rumah Nyaman Setelah Lebaran
-
Antam Tersedia di Pegadaian, Cek Harga Emas Antam, UBS dan Galeri 24 Hari Ini
-
Lo Kheng Hong Punya Saham BUMI? Intip Portofolio Terkini 'Warren Buffet' Indonesia
-
Harga Minyak Tembus 116 Dolar AS, Kendaraan Listrik Bakal Makin Laris?
-
Profil PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA): Emiten Produsen Emas, Pembuat EMASKU
-
Misteri Kapal Tanker Iran yang Ditahan di Indonesia, Bagaimana Statusnya Kini?
-
Program Take Over dari BRI Mudahkan Nasabah Pindah KPR, Suku Bunga Mulai 2,50 Persen
-
Prabowo Berjumpa Kaisar Naruhito dan PM Sanae Takaichi di Jepang, Bahas Apa Saja?
-
Nostalgia di Semarang, D'Kambodja Heritage by Anne Avantie yang Berkembang Bersama BRI