Suara.com - Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik dicopot Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno pada Jumat (20/4/2018) lalu.
Pencopotan Elia Massa Manik disebut-sebut disebabkan karena kelangkaan BBM Premium dan kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan.
Elia Massa Manik merupakan bos Pertamina pilihan Presiden Jokowi saat menggantikan Dwi Soetjipto pada Maret 2017. Penunjukan Elia menjadi bos BUMN migas ini karena kinerjanya saat memimpin PT Elnusa.
Anggota Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir menilai, pencopotan Elia Massa Manik tanpa seizin Presiden Jokowi. Padahal, pada saat itu Presiden Jokowi yang menunjuk langsung Elia Massa Manik untuk duduk di kursi nomor satu di BUMN Migas itu.
"Oleh karena itu, Pak Jokowi seyogyanya membatalkan keputusan RUPS tersebut," ujar Inas saat dihubungi, Kamis (26/4/2018).
Inas menjelaskan, pencopotan Elia Massa Manik lebih disebabkan oleh like and dislike Menteri BUMN Rini Soemarno.
Alasannya, Elia Massa yang dia nilai tidak patuh pada kehendak menteri untuk merubah nomenklatur direktorat di Pertamina yang tidak melibatkan jajaran direksi Pertamina serta perubahan nomenklatur tersebut tidak melalui kajian yang sebagaimana mestinya.
"Persoalan like and dislike inipun terjadi ketika Dwi Soetjipto masih menjabat sebagai Dirut Pertamina. Di mana, ketika itu Dwi dicurigai oleh Rini sedang berupaya merebut posisi Rini Soemarno," tegasnya.
Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Arie Gumilar mengaku khawatir dengan adanya pergantian direksi PT Pertamina (Persero) dalam waktu singkat.
Baca Juga: Soal Pencopotan Dirut Pertamina, Wamen ESDM Ngeles
Elia Massa Manik yang baru duduk di kursi direktur utama Pertamina dicopot usai 13 bulan menjabat.
Menurut Arie, perombakan yang terlalu singkat tak akan membuat kemajuan di dalam tubuh perusahaan pelat merah ini. Apalagi, Pertamina dituntut untuk bisa mengalahkan kinerja Petronas, Malaysia.
"Kita dituntut pemerintah mengalahkan Petronas Malaysia. Namun, jika terus seperti ini, kemajuan perusahaan untuk mengejar ketertinggalan pasti akan terganggu," ujar Arie dihubungi secara terpisah.
Berita Terkait
-
IHSG Meroket 5%, Begini Nasib Saham-saham BUMN
-
Pertamina: Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Mengikuti Regulasi yang Berlaku
-
Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
-
Dilema Pertamina Naikkan Harga Pertamax, Ekonom: Kalau Ditahan Terus Bisa Gerus Keuangan Negara
-
Layanan Kereta Indonesia Disebut Sudah Setara Global
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Prabowo Bukan Negarawan, Tapi Wisatawan!
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Terkini
-
Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu 2027 Sebesar Rp 49,8 Triliun ke DPR
-
Ibu Dian, Nasabah PNM Lampung yang Menggerakkan Perempuan untuk Berani Berdaya
-
Harga Minyak Dunia Anjlok, Kapan Harga Pertamax Turun?
-
IHSG Meroket 5 Persen: Transaksi Rp17 Triliun, Ini Saham-saham yang Diborong
-
Kunjungi Sekolah Rakyat Jabar II, Komisi V DPR Optimistis Siap Beroperasi Tahun Ajaran Baru
-
Prajogo Pangestu Full Senyum, Saham TPIA Paling Diburu Investor Asing di Sesi I
-
IHSG Meroket 5%, Begini Nasib Saham-saham BUMN
-
Investor Berpesta! IHSG Naik 5 Persen, AMMN dan DEWA Meroket
-
AS-Iran Damai: Pasar Melesat, Harga Minyak Diprediksi Terus Turun ke Level 70 Dolar
-
Utang Luar Negeri Membengkak Tembus Rp7.784 Triliun, Pemerintah Fokus Biayai 3 Sektor Ini