Suara.com - Bentrokan yang melibatkan ratusan pekerja di area smelter PT Gunbuster Nickel Industry atau PT GNI Morowali Utara, Sulawesi Tengah diduga akibat perselisihan antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja asing, termasuk yang berasal dari China. Jumlah karyawan China di PT GNI Morowali Utara memang cukup dominan.
Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Morowali Utara mencatat setidaknya ada 533 orang pekerja asing di PT GNI Morowali Utara. Rata-rata, mereka memiliki kontrak selama enam bulan untuk bekerja di smelter. Selebihnya, ada 11.000 pekerja yang berstatus Warga Negara Indonesia (WNI).
Seperti diketahui, kronologi bentrokan dimulai pada Sabtu (14/1/2023) malam sekitar pukul 21.20 WITA. Penyebab bentrokan diduga berawal dari ratusan pekerja yang memaksa masuk pos 4 pabrik smelter PT GNI. Mereka disebut-sebut ingin mogok kerja setelah tuntutan mereka tidak dituruti perusahaan.
Aparat yang berusaha mengendalikan massa di lokasi diduga tidak mampu meredamkan amarah massa hingga berujung bentrokan. Kabar terakhir, bentrokan menewaskan tiga orang, yakni satu tenaga kerja asing dan dua WNI.
Berdasarkan informasi terkait, ada bentrokan yang terjadi antara dua kubu pekerja di perusahaan tersebut. Bentrokan mulai terkendali usai aparat dari Kepolisian melerai dua kelompok pekerja.
Bahkan, setelah situasi sedikit terkendali, ratusan karyawan dilaporkan kembali melakukan aksi perusakan hingga membuat sejumlah kendaraan rusak terbakar. Keadaan mulai kembali terkendali usai aparat kepolisian berusaha mengendalikan situasi dengan kendaraan taktis yang disertai dengan tembakan gas air mata.
Sebelumnya, ramai dicuitkan di media sosial adanya dua kelompok pekerja yang terdiri dari pekerja lokal dan TKA. Dugaan sebelumnya, bentrokan terjadi karena adanya pemukulan TKA asing pada pekerja lokal terkait mogok kerja.
Namun demikian, klaim tersebut belum dapat dikonfirmasi kebenarannya. Banyak video tersebar terkait peristiwa ini. Namun, kebenaran dari unggahan di media sosial juga belum dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Partai Buruh pun angkat bicara terkait kasus kericuhan antarpekerja di Morowali Utara ini. Presiden Partai Buruh, Said Iqbal mengemukakan bahwa penyebab bentrok ini disebabkan berbagai faktor.
Salah satunya adalah karyawan yang menuntut manajemen perusahaan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja setelah sebelumnya dua karyawan yang bekerja di bagian crane tewas terpanggang.
Tewasnya dua pekerja tersebut, yakni Nirwana Selle asal Bugis dan I Made Defri Hari Jonathan asal Bali terjadi pada Desember 2022 silam, membuahkan tuntutan agar perusahaan meningkatkan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Tuntutan lain adalah gaji karyawan sebesar Rp3,6 juta per bulan dianggap terlalu kecil.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
-
Kronologi Bentrok Maut TKI dan TKA China di PT GNI, 3 Tewas dan 100 Mess Dibakar
-
Profil PT GNI, Perusahaan Nikel China Lokasi Kerusuhan Pekerja di Morowali Utara
-
PT GNI Milik Siapa? Bentrokan Maut WNI vs WNA hingga Tewaskan 2 Karyawan
-
Polisi Lakukan Upaya Dialog Selesaikan Konflik PT GNI, Perusahaan Terima 7 Tuntutan Pekerja
-
Bentrok Berdarah di PT GNI, Manajemen Ceritakan Detik-detik Awal Mula Kerusuhan Terjadi Hingga Ada Penjarahan
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Harga BBM Tak Naik, Purbaya Akui Anggaran Subsidi Bengkak hingga Rp 100 Triliun
-
IHSG Akhirnya Bangkit, Ternyata Ini Pemicunya
-
Rupiah Ditutup Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp16.983
-
Siap-siap! Investor Bank Danamon Raih Dividen Rp 142 per Saham
-
Transformasi Kerja dan Efisiensi Energi Keniscayaan di Tengah Dinamika Global
-
Pengamat: Penjatahan BBM Subsidi Masih Wajar dan Efektif Tekan Konsumsi Energi
-
Harga Stabil Rp4.500, PGN Dorong BBG Jadi Opsi Ekonomis Bagi Kendaraan
-
125 Tahun Mengabdi Untuk Negeri, Pegadaian Perkuat Layanan Digital Melalui Tring!
-
Belanja di Korea Selatan Kini Tidak Perlu Tukar Uang, Bisa Pakai QRIS
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti