Suara.com - Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga menegaskan bahwa politik tak dapat dipisahkan dari BUMN. Pasalnya, BUMN memiliki hubungan erat dengan kebijakan dan keputusan-keputusan besar yang memerlukan persetujuan DPR.
Pernyataan tersebut untuk menanggapi banyaknya pendukung presiden terpilih Prabowo Subianto menjadi komisaris di beberapa BUMN, Mulai dari Bank Syariah Indonesia, Pertamina, hingga MIND ID.
"BUMN itu kan mendukung perusahaan milik pemerintah. Wajar kalau misalnya kita cari dari berbagai latar belakang, dan latar belakang politik tidak menjadi larangan, nggak ada larangan," ujar Arya kepada wartawan yang dikutip Jumat (14/6/2024).
Arya melanjutkan, sebenarnya latar belakang politik tidak menjadi masalah selama pihak yang ditunjuk menjadi komisaris tersebut kompeten.
"Yang kedua, mereka kalau selama itu kompeten ya tidak ada masalah dong. Jadi latar-latar belakang itu sehingga kita nggak bisa katakan bahwa kalau politik gak boleh, dan wajar juga, karena BUMN ini juga butuh dukungan politik," jelas dia.
Selain itu, Arya menyebut, kebutuhan akan dukungan politik ini dikarenakan banyak kebijakan dan keputusan BUMN yang harus melalui persetujuan DPR, seperti merger, holding, IPO, pembubaran, hingga penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) dan penugasan.
"Mau merger, DPR, mau holding, DPR, mau IPO, DPR, mau dibubarkan, DPR. Mau dapat PMN, penugasan, DPR. Jadi banyak kebijakan di BUMN itu berhubungan sama politik, berbeda dengan swasta," beber dia.
Arya pun menegaskan bahwa unsur politik tak dapat dihindari dalam BUMN selama keputusan-keputusan vital masih berkaitan dengan politik di DPR.
"Memang zamannya Pak SBY nggak ada orang politik? Memang zaman Gus Dur nggak ada orang politik? Memang zamannya Pak BJ Habibie nggak ada? Zamannya Bu Megawati nggak ada? Semua, zaman Pak Jokowi pun sebelumnya ada. Jadi gak usah dipertentangkan lalu kita jadi ‘wah nggak boleh’. Hei, jangan lupa, banyak keputusan kebijakan di BUMN itu tergantung pada DPR. Jadi jangan samakan dengan swasta, jangan samakan," imbuh dia.
Baca Juga: Prabowo-Gibran Diperingatkan, Program Makan Siang Bisa Ancam Keuangan Negara
Meskipun demikian, Arya mengingatkan bahwa profesionalisme harus tetap menjadi landasan utama dalam pengelolaan BUMN.
"Kita harus jaga profesionalisme, tapi kita tidak boleh munafik dan tidak boleh menafikkan bahwa unsur politik tidak masuk dalam BUMN," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Waspada! Modus Phishing hingga Social Engineering Masih Intai Nasabah Bank
-
Pemerintah Klaim Harga Pangan Masih Stabil Jelang Imlek dan Ramadan
-
BUMN Kerahkan Produk Unggulan untuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera
-
Ubah Indentitas, Mayoritas Bisnis PIPA akan Lebih Condong ke Migas
-
Pastikan Harga Rumah Subsidi Tak Melejit, Menteri PKP: Program Gentengisasi Masih Dikaji!
-
Tok! Pemerintah Gratiskan PPN 100 Persen untuk Tiket Pesawat Lebaran 2026, Cek Syaratnya
-
DJP Endus Pengemplang Pajak di Sektor Baja dan Hebel
-
Alasan Pemerintah Gunakan Beras Bulog untuk Jemaah Haji
-
Layanan Perbankan Kini Bisa Diakses Lewat Smartwatch
-
11 Juta PBI BPJS Kesehatan Mendadak Nonaktif, Bagaimana Dana Jaminan Sosial Dikelola?