- Pertamina dan PLN mengeluh ke DPR bahwa kompensasi serta subsidi yang menjadi hak mereka belum dibayar oleh Kemenkeu.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah dan mengaku sudah melunasi kewajiban pemerintah ke kedua BUMN itu.
- Purbaya meminta para petinggi BUMN itu mengadap dirinya.
Suara.com - Komisi XI DPR RI menggelar rapat kerja dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait dengan realisasi pembayaran kompensasi dan subsidi dalam APBN 2025.
Dalam kesempatan itu Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyampaikan adanya keluhan dari sejumlah BUMN yang belum dibayarkan subsidi dan kompensasinya. Untuk itu dia meminta penjelasan dari Menteri Keuangan.
"Karena banyak sekali beberapa dari mereka kompensasi 2024 yang belum dibayar dan kemudian alokasi subsidi 2025 yang belum sepenuhnya belum dijalankan," kata Misbakhun saat rapat di Gedung DPR-MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (30/9/2025).
Menanggapi hal tersebut, Purbaya menyatakan bahwa kompensasi kepada seluruh BUMN pada 2024 telah dibayarkan.
"Ya setahu saya sampai saat sekarang yang 2024 semuanya sudah dibayarkan datanya," jawab Purbaya.
Purbaya dengan tegas meminta kepada BUMN yang merasa belum dibayar bisa datang menghadapnya.
"Nanti kalau mereka ada klaim data yang belum dibayar, suruh menghadap saya secepatnya. Tapi, yang data yang kita miliki seperti itu," ujarnya.
"Memang 2025 masih ada yang belum dibayarkan, triwulan pertama, kedua. Tapi kami mengikuti prosedur yang sedang berjalan sekarang. Kalau kita lihat nanti bulan Oktober, yang triwulan pertama, kedua, akan kami bayarkan penuh," sambungnya.
Sebelumnya, dalam rapat dengan Komisi XI DPR pada Senin (29/9/2025), dua BUMN yakni PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) mengaku belum menerima pembayaran subsidi serta kompensasi dari pemerintah untuk tahun 2024.
Baca Juga: Ada yang Belum Sepakat, ESDM Tak Bisa Paksa SPBU Swasta Ambil BBM Murni dari Pertamina
Kepada Komisi XI, Pertamina dan PLN mengaku kompensasi yang belum dibayarkan pemerintah mencapai Rp27,6 triliun pada kuartal I 2025. Sebagian di antaranya berasal dari tagihan kompensasi 2024.
Ada pula anggaran program diskon tarif listrik yang juga belum dibayar pemerintah, yakni sekitar Rp13,6 triliun dan DIPA kekurangan subsidi tahun 2024 sebesar Rp3,82 triliun untuk PLN.
Berita Terkait
-
Anggaran Subsidi Energi Bocor, Menkeu Purbaya Akui Selama Ini Tak Tepat Sasaran
-
BBM RI Dituding Mahal Dibandingkan Malaysia, Menkeu Purbaya Bongkar Harga Jual Pertamina
-
Bukan Permanen, ESDM: Pembelian BBM Murni Pertamina oleh SPBU Swasta Hanya Solusi Kekosongan Stok
-
Menkeu Purbaya ke Istana Bawa Berkas, tapi Ngaku Cuma 'Makan Siang Gratis'
-
Menteri 'Koboi' Ancam Copot Anak Buah
Terpopuler
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Dasco: Masyarakat Tak Perlu Menimbun Persediaan BBM
-
Efisiensi! Beli BBM Pertalite Dibatasi 50 Liter per Kendaraan
-
Purbaya Pastikan APBN Aman Hadapi Harga Minyak Meski Tembus 100 Dolar AS per Barel
-
Jangan Terlena Konflik Timur Tengah, Ada Bom Waktu di Laut Cina Selatan, RI Bisa Kena Getahnya
-
Digilas Harga Minyak Dunia, Nilai Tukar Rupiah Terus Lemas
-
Sempat Menguat, IHSG Berujung Terkoreksi ke Level 7.048
-
Heboh Aturan Isi Pertalite Dibatasi 50 Liter, BPH Migas Buka Suara
-
Dukung Kebutuhan Bisnis dan Industri di Jatim, Epson Resmikan Solution Center di Surabaya
-
Mentan Singgung Selat Hormuz, Sebut Indonesia Bisa Bikin 'Kiamat' Komoditas CPO
-
Indonesia Dorong Jepang Percepat Pengembangan Blok Masela