- Nilai tukar rupiah menguat 0,16% ke level Rp16.576 per dolar AS, didorong oleh pernyataan Gubernur The Fed, Jerome Powell, yang ditafsirkan sebagai sinyal dovish.
- Proyeksi pasar yang meyakini The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada pertemuan 29 Oktober mendatang melemahkan Dolar AS dan menopang penguatan Rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan di pasar valuta asing.
Pada penutupan perdagangan Rabu sore (15/10/2025), kurs rupiah tercatat menguat sebesar 27 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.576 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.603 per dolar AS.
Analis mata uang, Ibrahim Assuabi, yang juga menjabat sebagai Direktur Laba Forexindo Berjangka, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini terutama dipengaruhi oleh sentimen dari bank sentral Amerika Serikat (AS).
Faktor Utama Pendorong Kenaikan Nilai Tukar Rupiah
Kenaikan nilai tukar rupiah didorong oleh dua faktor utama yang saling berkaitan, yaitu:
1. Pernyataan Gubernur The Fed yang Ditafsirkan Dovish
Penyebab paling krusial adalah pernyataan dari Gubernur Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, yang dinilai oleh pasar sebagai sinyal dovish (cenderung longgar atau mendukung suku bunga rendah).
Dikutip via Antara, Ibrahim Assuabi mengutip bahwa Powell, saat berbicara di pertemuan National Association for Business Economics di Philadelphia, mengakui bahwa ekonomi AS mungkin berada pada jalur yang lebih kuat dari perkiraan, namun ia secara bersamaan memberikan peringatan mengenai potensi melemahnya pasar tenaga kerja di AS.
Powell menegaskan bahwa The Fed akan menetapkan kebijakan suku bunga berdasarkan evolusi prospek ekonomi dan keseimbangan risiko, bukan berdasarkan jalur yang sudah pasti.
Baca Juga: Rupiah Masih Loyo Lawan Dolar Amerika Serikat di Sore Ini
Hal ini ditafsirkan pasar sebagai kesiapan The Fed untuk menyesuaikan kebijakan moneter jika diperlukan.
2. Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Komentar Powell secara langsung memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed berpotensi melakukan pemangkasan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober dan Desember 2025.
Proyeksi penurunan suku bunga ini secara otomatis akan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahkan nilai tukar Dolar AS terhadap mata uang global, termasuk Rupiah.
Menurut data dari CME Fed Watch, peluang The Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada pertemuan 29 Oktober mendatang saat ini mencapai 97 persen.
Meskipun pemerintahan federal AS sempat tutup (shutdown) dan laporan data ekonomi resmi tertunda, Powell menyatakan The Fed memiliki sumber data internal yang menunjukkan prospek ketenagakerjaan dan inflasi AS tidak banyak berubah sejak pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September 2025.
Hal ini semakin mendukung proyeksi bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga seperempat poin pada akhir bulan ini.
Di pasar domestik, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama menunjukkan pergerakan datar di level Rp16.577 per dolar AS, sama seperti hari sebelumnya, mencerminkan stabilnya nilai tukar Rupiah di tengah sentimen positif global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
Kegagalan Investasi TaniHub Risiko Bisnis, Bukan Tindak Pidana
-
Eks Dirut BVI Bantah Terima Kickback dari Investasi TaniHub
-
TASPEN Cepat Kilat, 99 Persen Pensiunan Terima Gaji Ke-13 di Hari Pertama Tanpa Potongan
-
Asuransi Astra Rayakan Eksistensi 70 Tahun dengan ACTION! dan Apresiasi Pewarta 2026
-
RUU P2SK Disepakati, Besok Dibawa ke Paripurna
-
Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor
-
Punya Lisensi, WSKT Mulai Garap Proyek Infrastruktur di Arab Saudi
-
IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah
-
Purbaya Ungkap DPR Bisa Evaluasi LPS, OJK, dan BI berkat RUU P2SK
-
Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang