-
Harga emas berjangka stabil di dekat level US$4.000 setelah terkoreksi 9% dari puncak tertingginya (di atas US$4.350).
-
Analis Macquarie menduga harga sudah mencapai puncak, namun UBS dan Goldman Sachs memprediksi kenaikan lebih lanjut, dengan target setinggi US$4.900.
-
Kenaikan harga emas didukung oleh aksi borong bank sentral.
Suara.com - Harga emas berjangka global menutup pekan di dekat level US$4.000 per ons troi pada hari Jumat (7/11/2025) lalu. Harga logam mulia ini menunjukkan stabilitas relatif setelah sempat mengalami anjlok tajam pada bulan sebelumnya.
Lantas, apakah harga emas telah mencapai puncaknya, ataukah masih akan melanjutkan tren bullish yang fenomenal?
Emas, si 'logam kuning' yang tidak memberikan imbal hasil bunga ini, hingga kini masih berada di jalur untuk mencetak rekor tahunan terbaiknya sejak 1979.
Kenaikan fantastis ini didorong oleh tiga pilar utama: aksi borong yang masif oleh bank-bank sentral global, masuknya dana dalam volume besar ke dalam ETF (Exchange-Traded Funds) berbasis emas, serta peningkatan signifikan dalam pembelian koin dan batangan emas ritel.
Meskipun demikian, emas telah terkoreksi sekitar 9% dari harga puncaknya sepanjang masa, yang sempat melampaui US$4.350 bulan lalu.
Perdebatan mengenai apakah harga emas sudah mencapai puncak terbagi di kalangan analis ternama:
Sisi Koreksi (Macquarie Group): Analis dari Macquarie Group menduga bahwa harga emas kemungkinan besar sudah mencapai puncaknya. Alasan utama mereka adalah karena beberapa bank sentral di berbagai negara sudah mulai memotong suku bunga lebih dulu, mendahului Federal Reserve (The Fed) AS. Biasanya, pemotongan suku bunga membuat emas lebih menarik dibandingkan aset berbunga lainnya, namun momentum The Fed yang masih belum jelas menjadi faktor penekan.
Sisi Kenaikan (UBS & Goldman Sachs): Bertentangan dengan pandangan tersebut, analis dari UBS dan Goldman Sachs masih melihat potensi kenaikan yang signifikan.
Para analis Macquarie memprediksi bahwa penurunan harga emas ke depan akan berlangsung lebih lambat dibandingkan setelah puncak-puncak harga sebelumnya, dengan harga yang diperkirakan akan tetap jauh di atas level akhir 2023 sepanjang masa jabatan Presiden AS saat ini.
Baca Juga: Emas Antam Lompat Tinggi Lagi, Harganya Tembus Rp 2.296.000 per Gram.
Sebagai perbandingan, harga emas berada di kisaran US$2.000 per ons troi sekitar dua tahun lalu.
Analis secara umum sepakat bahwa risiko masih ada. Harga emas dapat melambung lebih tinggi jika ketegangan geopolitik global kembali memanas, atau jika kekhawatiran tentang besarnya utang pemerintah AS kembali muncul ke permukaan.
Laporan dari World Gold Council menyebutkan bahwa penguatan dolar Amerika merupakan pemicu utama di balik fluktuasi harga emas dari rekor tertingginya baru-baru ini.
Prediksi harga dari institusi besar menunjukkan optimisme jangka panjang:
UBS menargetkan harga emas di level US$4.200 per ons dalam 12 bulan ke depan. Mereka juga menetapkan target atas yang lebih agresif di US$4.700 per ons jika risiko politik dan pasar finansial meningkat.
Goldman Sachs bahkan lebih bullish, memprediksi emas akan mencapai US$4.900 per troi ons pada akhir tahun depan (2026). Mereka meyakini koreksi baru-baru ini disebabkan oleh spekulasi opsi beli, namun pembelian struktural yang persisten akan terus berlanjut, didorong oleh meningkatnya minat pada emas sebagai diversifikasi portofolio strategis.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Bedak Apa yang Bikin Muka Glowing? Ini 7 Rekomendasi Andalannya
- 7 Sepatu Running Adidas dengan Sol Paling Empuk dan Stabil untuk Pelari
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
Pilihan
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
-
Liburan Keluarga Berakhir Pilu, Bocah Indonesia Ditabrak Mati di Singapura
-
Viral Oknum Paspampres Diduga Aniaya Driver Ojol di Jakbar, Dipicu Salah Titik dan Kata 'Monyet'
-
Hasil Rapat DPR: Pasien PBI BPJS Tetap Dilayani, Pemerintah Tanggung Biaya Selama 3 Bulan
-
OJK Bongkar Skandal Manipulasi Saham, PIPA dan REAL Dijatuhi Sanksi Berat
Terkini
-
Waspada! Modus Phishing hingga Social Engineering Masih Intai Nasabah Bank
-
Pemerintah Klaim Harga Pangan Masih Stabil Jelang Imlek dan Ramadan
-
BUMN Kerahkan Produk Unggulan untuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera
-
Ubah Indentitas, Mayoritas Bisnis PIPA akan Lebih Condong ke Migas
-
Pastikan Harga Rumah Subsidi Tak Melejit, Menteri PKP: Program Gentengisasi Masih Dikaji!
-
Tok! Pemerintah Gratiskan PPN 100 Persen untuk Tiket Pesawat Lebaran 2026, Cek Syaratnya
-
DJP Endus Pengemplang Pajak di Sektor Baja dan Hebel
-
Alasan Pemerintah Gunakan Beras Bulog untuk Jemaah Haji
-
Layanan Perbankan Kini Bisa Diakses Lewat Smartwatch
-
11 Juta PBI BPJS Kesehatan Mendadak Nonaktif, Bagaimana Dana Jaminan Sosial Dikelola?