- Proyek kereta gantung senilai Rp6,7 triliun di Taman Nasional Gunung Rinjani belum terdaftar resmi OSS.
- DPMPTSP NTB menyatakan proyek belum dapat diproses tanpa adanya kajian teknis dari dinas terkait yang telah disetujui.
- Investor PT ILR mengklaim AMDAL sudah disetujui pusat, tetapi masih menghadapi hambatan birokrasi perizinan.
Suara.com - Polemik pembangunan kereta gantung yang direncanakan melintasi Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), memasuki babak baru.
Proyek yang digadang-gadang menelan biaya hingga Rp6,7 triliun tersebut ternyata belum terdaftar di Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (Online Single Submission atau OSS).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma, menegaskan bahwa hingga saat ini PT Indonesia Lombok Resort (ILR) selaku investor asal China, belum pernah mengajukan perizinan melalui OSS.
“Kalau belum masuk OSS, belum berani kita katakan proyek itu berjalan atau tidak. Karena itu syaratnya,” kata Irnadi di Mataram, Jumat (21/11/2025).
Irnadi menjelaskan bahwa untuk bisa terdaftar di OSS, investor wajib memenuhi syarat-syarat teknis. Salah satu syarat krusial adalah adanya kajian teknis yang disetujui oleh dinas terkait di Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB.
“Hasil kajian dari dinas teknis, kan belum ada. Kalau belum ada (kajian teknis), berarti belum,” terangnya, dikutip dari Antara.
Irnadi juga menegaskan, meskipun investor pernah melaksanakan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan kereta gantung di kawasan hutan Desa Karang Sidemen, Lombok Tengah, hal itu tidak dapat dijadikan indikasi bahwa proyek tersebut telah berjalan.
“Itu (ground breaking) bukan pertanda proyek jalan, apalagi sifatnya MoU atau nota kesepahaman. Sebelum ada fakta terdaftar di OSS, tidak berani kita katakan itu berjalan dan belum berani kita proses,” tegas Irnadi.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, PT ILR sempat menemui Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, untuk menyampaikan rencana mereka membangun kereta gantung di kawasan Gunung Rinjani.
Baca Juga: Purbaya Duga Pakaian Bekas Impor RI Banyak dari China, Akui Kemenkeu Lambat Tangani
Humas PT ILR, Ahui, mengklaim Gubernur NTB secara eksplisit mendukung pembangunan tersebut, namun meminta agar faktor sosial dan lingkungan hidup diperhatikan.
Mengenai perizinan, Ahui menyatakan bahwa pengajuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah disetujui untuk dibahas di Kementerian Kehutanan, dan saat ini mereka tinggal menunggu arahan dari pemerintah pusat.
“Ya, AMDAL sudah disetujui tinggal tunggu pembahasan,” ujar Ahui.
Selain fokus AMDAL, tim investor juga tengah mempersiapkan perubahan izin dari Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) ke Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang harus diajukan ke Kementerian Kehutanan. Ahui mengakui adanya hambatan birokrasi yang panjang.
“Kita tahu di kementerian prosesnya lama. Jadi kita bergerak senyap, nanti kalau sudah terbit AMDAL-nya tiba-tiba aja jalan. Biar langsung kerja,” katanya, mengisyaratkan langkah cepat setelah perizinan di tingkat pusat terbit.
Meski pihak investor bergerak "senyap" di tingkat pusat, kepastian operasional proyek senilai triliunan rupiah ini di tingkat daerah masih menunggu registrasi dan kajian teknis di DPMPTSP NTB.
Berita Terkait
-
Misteri Diare Massal Hostel Canggu: 6 Turis Asing Tumbang, 1 Tewas Mengenaskan
-
Sinopsis Bloom Life, Drama China Terbaru Landy Li dan Guo Jun Chen
-
Keponakan Luhut Sebut RI Bakal Dibanjiri Investor Asing pada 2026, China Mendominasi
-
Sinopsis Burning Night, Drama China Terbaru Wang Yu Wen di Youku
-
Mengenal Jinlin Crater, Kawah Modern Terbesar di Bumi
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari