- Pada Kamis, 8 Januari 2026, IHSG dibuka dan diperdagangkan di level 8.946, menunjukkan penguatan 0,17 persen hingga pukul 09.12 WIB.
- Penguatan IHSG ditopang oleh aksi beli investor asing senilai Rp229 miliar serta kinerja sektor industri dasar berbasis nikel dan emas.
- Proyeksi teknikal mengindikasikan IHSG berpotensi menguji resistance 8.960-8.970, namun terdapat risiko koreksi jangka pendek karena kondisi overbought.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah menghijau di level 8.946 pada awal perdagangan, Kamis, 8 Januari 2026.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.12 WIB, IHSG masih melonjak naik 0,17 persen ke level 8.959.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 6,22 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 3,67 triliun, serta frekuensi sebanyak 563.900 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 327 saham bergerak naik, sedangkan 247 saham mengalami penurunan, dan 384 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, RLCO, NSSS, BSIM, KOKA, IFSH, BRRC, DADA, LUCY, OPMS, NINE, PPGL.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, VICI, ARTA, NICL, LRNA, CITY, INCO, RMKE, OBMD, MHKI, ASLI, INPC.
Proyeksi IHSG
IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) pada perdagangan sebelumnya. Mengutip BRI Danareksa Sekuritas edisi 8 Januari 2026, IHSG ditutup menguat 0,13 persen ke level 8.944.
Penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa global yang cenderung beragam. Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,94 persen ke level 48.996,08, sementara S&P 500 turun 0,34 persen ke posisi 6.920,93. Adapun Nasdaq justru menguat tipis 0,16% ke level 23.584,28.
Baca Juga: Danantara Bagi-bagi Porsi Saham BRI, BNI, Bank Mandiri ke BP BUMN
Dari dalam negeri, BRI Danareksa Sekuritas mencatat penguatan IHSG ditopang oleh aksi beli investor asing dengan nilai net foreign buy sebesar Rp229 miliar di pasar reguler.
Sektor basic industry menjadi penopang utama, terutama saham-saham berbasis nikel dan emas, seiring tren kenaikan harga komoditas global.
Secara teknikal, momentum IHSG dinilai masih positif meski mulai terbatas. IHSG diproyeksikan berpeluang menguji area resistance di kisaran 8.960 hingga 8.970, dengan level support berada pada rentang 8.895–8.910.
Namun demikian, analis mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung. Indikator teknikal jangka pendek menunjukkan kondisi pasar yang sudah berada di area overbought, sehingga risiko koreksi jangka pendek masih terbuka.
Dari sisi aliran dana (flow), minat pasar tidak hanya berlanjut pada saham-saham komoditas nikel dan emas. BRI Danareksa Sekuritas juga mencermati mulai masuknya perhatian investor ke tema waste to energy (WTE), seiring rencana pemerintah membangun 34 proyek WTE pada 2026.
Adapun saham-saham yang direkomendasikan dalam riset tersebut antara lain TOBA, ANTM, dan PPRI.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari