- BPI Danantara menyatakan PT Timah Tbk. (TINS) belum menjadi prioritas suntikan dana investasi BUMN saat ini.
- PT Timah diarahkan menyelesaikan masalahnya mandiri atau melalui induk usaha BUMN, MIND ID, terlebih dahulu.
- Danantara akan menjadi opsi terakhir penyuntikan modal jika PT Timah gagal berbenah dari tekanan operasional.
Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan PT Timah Tbk. (TINS) belum masuk radar BUMN yang akan disuntik dana.
BPI Danantara melihat, PT Timah masih bisa kuat untuk melakukan transformasi secara mandiri maupun dibantu oleh induk usaha MIND ID.
Managing Director Business III BPI Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan penyuntikan dana bukan jadi jalan bagi BUMN untuk memperbaiki kinerja. Danantara akan memberi kesempatan bagi BUMN untuk berjuang sendiri menghadapi masalah.
"Kalau perusahaan itu mampu, silakan berbenah secara mandiri. Kalau tidak, masih ada holding-nya. Nah, holding-nya itu kemudian tentunya kita," ujarnya di Jakarta, seperti dikutip Kamis (15/1/2026).
Febriany melanjutkan, PT Timah juga merupakan anak usaha MIND ID. Sehingga, segala permasalahan tentunya akan terlebih dahulu ditangani Holding sebelum Danantara.
Akan tetapi, Diakuinya, PT Timah memang masih hadapi tekanan berat, mulai dari penambangan ilegal hingga tumpah tindih perizinan.
"Sekarang mau dirapikan, dibersihkan, dan dikonsolidasikan. Saya rasa masa depannya sangat positif. Timah itu berperan besar terhadap suplai timah dunia," bebernya.
Mantan Bos Vale Indonesia ini menuturkan, Danantara sebenarnya sebagai pilihan terakhir, jika memang BUMN itu sudah menyerah dengan cara apapun.
Namun, ia memastikan, bukan tidak mungkin Danantara justru menggelontorkan modal, jika memang investasi industri timah terlihat menggiurkan.
Baca Juga: CEO Danantara: 1.320 Huntara Bakal Diserahkan ke Korban Banjir Sumatera Besok
Di sisi lain, Febriany menambahkan, BUMN-BUMN harus siap dalam melakukan transformasi. Jangan sampai, transformasi ini membuat tidak nyaman dilakukan semua pihak, akhirnya tidak berjalan baik.
"Change is always uncomfortable. If you feel comfortable, you are not growing. Tapi kalau Anda merasa tidak nyaman, there is a chance that you are growing," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Rupiah Terkapar ke Rp17.934, Nyaris Tembus Rp18.000 Akibat Perang AS-Iran Jelang Putusan BI
-
Apa Itu Sepatu Lari Carbon Plate? Ini Ciri-ciri, Kelebihan, dan Rekomendasi Merek Lokal hingga Luar
-
Persita Tangerang Rekrut Luquinhas, Eks Amazonas dengan Pengalaman Eropa
-
Siap-siap Panen Cuan! Dividen BBRI Diproyeksi Tembus 13 Persen, Minat Borong?
-
Sifat dan Karakter Shio Kambing dari Positif hingga Negatif
-
Meroket Lagi, IHSG Menuju Level 6.400
-
Chelsea Tikung Arsenal, Rekrut Morgan Rogers dengan Harga Fantastis!
-
Serangan Harimau Kembali Terjadi di Siak, Kali Ini Korbannya Pekerja Alat Berat
-
Kiamat Harga Gadget 2027? TSMC Naikkan Biaya Produksi Chip 10%, Raksasa Teknologi Mulai "Eksodus"
-
Live Malam Hari! Catat Jadwal Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026