- Pada Senin (19/1/2026), IHSG diprediksi bergerak datar cenderung melemah, berpotensi di rentang 9.000 hingga 9.150.
- Investor asing tercatat net buy Rp474 miliar pada perdagangan terakhir, meskipun ada saham perbankan besar mencatat net sell.
- Sentimen global dipengaruhi usulan Trump mengenai pembatasan suku bunga kartu kredit yang menekan sektor keuangan AS.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini, Senin (19/1/2026), dengan potensi pergerakan mendatar (sideways) namun dibayangi kecenderungan melemah.
Setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup terapresiasi 0,47% ke level 9.075, IHSG kini dihadapkan pada volatilitas bursa regional dan global yang bergerak variatif.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Fanny Suherman dalam kajian hariannya, memproyeksikan IHSG akan bergerak pada rentang support 9.000-9.040 dan resistance 9.100-9.150. P
elemahan indeks Nikkei (-0,93%) dan Kospi (-0,58%) pada pembukaan pagi ini menjadi indikator awal adanya tekanan dari pasar Asia.
Bagi investor yang mencari peluang di tengah pasar yang konsolidasi, berikut adalah beberapa pilihan saham secara teknikal:
ASII (Astra International): Speculative Buy di area 7.050, target terdekat 7.125-7.200. Batasi risiko (cutloss) jika di bawah 7.000.
CUAN (Petrindo Jaya Kreasi): Speculative Buy di area 1.835-1.850, target 1.890-1.910. Cutloss jika di bawah 1.835.
INKP (Indah Kiat Pulp & Paper): Speculative Buy di area 9.875-9.950, target 10.100-10.300. Cutloss jika di bawah 9.875.
INET & DEWA: Rekomendasi Buy if Break pada level masing-masing 525 dan 770 dengan target kenaikan jangka pendek.
Baca Juga: Aturan Baru Purbaya, DJP Bisa Sita hingga Jual Saham Jika Warga Tak Bayar Pajak
Data transaksi menunjukkan dinamika menarik pada aliran modal investor mancanegara.
Secara akumulatif, asing mencatatkan net buy sekitar Rp474 miliar pada perdagangan terakhir, dengan fokus utama pada saham BBRI, PTRO, BMRI, INCO, dan JPFA.
Namun, Samuel Sekuritas memberikan catatan penting mengenai adanya divergensi di pasar reguler.
Saham perbankan raksasa seperti BMRI dan BBCA justru mencatatkan net sell masing-masing sebesar Rp108 miliar dan Rp98,3 miliar.
Sebaliknya, saham ANTM, BBNI, dan GOTO menjadi incaran beli asing di pasar reguler. Secara performa, BBRI dan ASII bertindak sebagai penggerak utama (leading movers), sementara BMRI dan MDKA menjadi penekan indeks (lagging movers).
Sentimen Global: Efek "Trump" dan Kinerja Wall Street
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
Terkini
-
Harga Emas di Pegadaian Stabil, Pembeli Bisa Pesan Secara Online
-
Daftar Kode SWIFT BNI dan Cara Pakai untuk Transfer Internasional
-
Bencana Sumatera Jadi Alarm Keras: Pemerintah Didesak Perketat Standar Tata Kelola Tambang
-
Rentetan Penelitian Ungkap Kerusakan Permanen Akibat Tambang Ilegal
-
Pergerakan Saham BUMI: Dilepas Asing, Diborong Lokal, Proyeksi Masih Kuat?
-
Membangun Fondasi Ekonomi Masa Depan Melalui Pendidikan Dini
-
Proyeksi IHSG 19 Januari: Menimbang BI Rate di Tengah Gejolak Tarif Global
-
Alasan Proof of Reserve (PoR) Penting dalam Bursa Kripto, Ini Penjelasannya
-
Nilai Tukar Won Merosot, Laba Korean Air Ikut Anjlok 20%
-
Target Harga BBRI saat Sahamnya Ramai Diborong Investor Asing