Bisnis / Makro
Rabu, 21 Januari 2026 | 08:44 WIB
Ilustrasi logo Bank Indonesia. [Antara]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia diprediksi menahan suku bunga acuan pada 4,75% dalam RDG hari ini, Rabu (21/1/2026).
  • Keputusan ini diambil karena tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang masih kuat dan sensitif.
  • Penurunan suku bunga ditunda hingga volatilitas nilai tukar mereda, diperkirakan paling cepat semester II-2026.

Suara.com - Suku bunga acuan diramal akan ditahan pada pengumuman Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada hari ini, Rabu (21/1/2026).

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan alasan BI menahan suku bunganya dikarenakan tidak ingin memberi tekanan pada rupiah.

Pasalnya, pergerakan mata uang Indonesia terhadap dolar masih berada di zona merah.

"Pada RDG Bank Indonesia Januari 2026, BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 4,75 persen. Pertimbangannya terutama karena tekanan nilai tukar rupiah masih kuat dan sentimen pasar sedang sensitif terhadap isu fiskal, sehingga ruang untuk menurunkan suku bunga tanpa menambah tekanan pada rupiah menjadi terbatas," jelasnya saat dihubungi Suara.com.

Dalam situasi seperti ini, menurunkan suku bunga justru berisiko memperlebar selisih imbal hasil terhadap aset luar negeri.

Sehingga, menekan arus dana portofolio, dan pada akhirnya membuat stabilitas nilai tukar makin menantang.

Ilustrasi Rupiah. [Pixabay]

"Dari sisi domestik, alasan untuk buru-buru memangkas suku bunga juga belum terlalu kuat karena indikator permintaan dan aktivitas masih relatif terjaga," katanya.

Dia menambahkan, keyakinanan konsumen tetap berada di zona optimis dengan indeks 123,5 pada Desember 2025, yang berarti rumah tangga masih melihat kondisi ekonomi cukup baik.

Di sisi dunia usaha, Survei Kegiatan Dunia Usaha menunjukkan kinerja masih terjaga pada triwulan IV 2025 dan pelaku usaha bahkan memperkirakan perbaikan pada triwulan I 2026.

Baca Juga: Thomas Djiwandono Mundur dari Gerindra, Jadi Calon Kuat Deputi Gubernur BI

"Artinya, BI lebih rasional mengambil posisi berjaga sambil menunggu tekanan rupiah mereda. Arah penurunan suku bunga kemungkinan baru terbuka kalau volatilitas nilai tukar mereda dan pasokan valas membaik, sebagian proyeksi juga menempatkan penurunan berikutnya baru paling cepat akhir kuartal II-2026 atau pada semester II-2026," imbuhnya.

Sambil menahan suku bunga acuan, BI tetap bisa melonggarkan kondisi likuiditas dan menekan suku bunga pasar uang jangka pendek lewat pengaturan instrumen operasi moneter.

Sehingga, dukungan ke kredit dan aktivitas tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas rupiah.

Load More