Bisnis / Makro
Selasa, 27 Januari 2026 | 20:07 WIB
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, pada Selasa (27/1/2026) menyoroti kenaikan harga bawang putih yang dinilai berpotensi menjadi ancaman baru inflasi pangan pada awal 2026. [Antara]
Baca 10 detik
  • Mendagri Tito Karnavian menyoroti kenaikan harga bawang putih sebagai potensi ancaman inflasi pangan awal tahun 2026.
  • Kenaikan harga bawang putih terjadi di ratusan daerah, menunjukkan tekanan harga struktural akibat ketergantungan impor.
  • BPS mencatat harga bawang putih naik konsisten secara nasional dari Desember 2025 ke Januari 2026.

Suara.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyoroti kenaikan harga bawang putih yang dinilai berpotensi menjadi ancaman baru inflasi pangan pada awal 2026. Komoditas tersebut menunjukkan tren kenaikan harga yang konsisten di berbagai daerah.

Tito menyebut, meski kontribusi bawang putih terhadap inflasi nasional belum sebesar komoditas lain, tren kenaikan yang meluas perlu diwaspadai sejak dini agar tidak menjadi penahan utama penurunan inflasi.

“Bawang putih ini memang ada banyak jumlah Kabupaten/Kota yang mulai mengalami kenaikan harga bawang putih,” ujar Tito saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (27/1/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan data pemantauan, jumlah daerah yang mencatat kenaikan harga bawang putih terus bertambah dari minggu ke minggu. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga yang bersifat struktural.

Tito menilai, kenaikan harga bawang putih tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor. Ketika terjadi gangguan distribusi atau dinamika harga global, dampaknya langsung terasa di tingkat konsumen.

“Walaupun secara andil terhadap IPH belum besar, tapi kalau kita lihat trennya, ini sudah mulai meningkat,” kata Tito.

Tito mengingatkan, jika tidak dikendalikan sejak awal, bawang putih berpotensi menjadi komoditas penahan inflasi pangan, terutama saat momentum konsumsi meningkat.

Ia meminta kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat pengawasan distribusi bawang putih, termasuk memastikan kelancaran pasokan dan mencegah praktik penimbunan.

“Kalau tren naik seperti ini dibiarkan, nanti akan terasa ke masyarakat,” ujarnya

Baca Juga: Tito Karnavian Resmikan Huntara Agam, Dorong Percepatan Bantuan dan Validasi Data Korban Bencana

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menguatkan pernyataan tersebut. Ia menyebut, secara nasional harga bawang putih menunjukkan tren kenaikan bulanan sejak Desember 2025.

“Harga bawang putih di bulan Desember adalah Rp39.030 per kilogram. Di Januari minggu keempat sudah naik menjadi Rp39.810 per kilogram,” ungkap Amalia.

Menurut Amalia, kenaikan harga bawang putih terjadi di ratusan kabupaten dan kota. Bahkan, lebih dari 200 daerah tercatat mengalami kenaikan harga komoditas tersebut.

Kondisi ini, lanjutnya, berbeda dengan beberapa komoditas hortikultura lain seperti cabai merah dan bawang merah yang justru mulai mengalami koreksi harga pada Januari 2026.

Load More