- Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.043 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 8 April 2026 pagi ini.
- Pelemahan rupiah disebabkan oleh penguatan dolar AS serta kekhawatiran investor terkait konflik geopolitik dan pelanggaran kesepakatan.
- Kondisi ini sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di Asia, kecuali dolar Hong Kong yang mencatatkan penguatan tipis.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah berbalik melemah pada pagi ini. Padahal, rupiah sempat menguat selama satu hari.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Kamis (8/4/2026) dibuka ke level Rp17.043 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,18 persen dibanding penutupan pada Rabu (8/4/2026) yang berada di level Rp17.012 per dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp17.009 per dolar AS. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi dolar AS yang mulai rebound.
"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas tertekan oleh rebound pada dolar AS namun didukung oleh sentimen risk on," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kata dia, pasar mulai meragukan apabila gencatan senjata dapat bertahan. Pasalnya, Amerika Serika dinilai akan melanggar kesepakatan.
"Investor juga merespon tuduhan Iran bahwa AS telah melanggar kesepakatan, dengan menyinggung serangan Israel terhadap Lebanon. Range 16.950-17.100," jelasnya.
Sementara itu, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,39 persen. Disusul, ringgit Malaysia yang tertekan 0,22 persen.
Selanjutnya, ada won Korea Selatan yang turun 0,21 persen dan yen Jepang terdepresiasi 0,16 persen. Lalu ada baht Thailand yang terkoreksi 0,12 persen.
Berikutnya, dolar Taiwan dan dolar Singapura sama-sama turun 0,07 persen. Diikuti, yuan China yang melemah tipis 0,04 persen di pagi ini.
Baca Juga: Rupiah Tertekan saat Fundamental Ekonomi Kokoh, Peluang Dongkrak Ekspor
Sedangkan, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah naik tipis 0,004 persen terhadap the greenback.
Berita Terkait
-
Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
-
Kurs Rupiah Akhirnya Tembus Rp 17.000
-
Rupiah Makin Keok saat Harga Minyak Meroket, Pengamat Ungkap Kabar Buruk
-
BI Perkuat Stabilitas Rupiah Lewat Instrumen SVBI dan SUVBI
-
Dolar AS dan Harga Minyak Diprediksi Melonjak, Rupiah Tertekan
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Cara Gabung Shopee Affiliate, Tips untuk Ibu Rumah Tangga Dapat Cuan Tambahan
-
BCA Syariah Gandeng BEI dan Henan Sekuritas Edukasi Investasi Syariah Mahasiswa PNJ
-
Lagi Butuh Dana Darurat? Gini Cara Pinjam Uang di Shopee Pakai SPinjam
-
Dokumen Rencana Kunker Bareng Keluarga ke New York Jadi Sorotan, Menteri PU: Batal, batal!
-
BRI dan Danantara Percepat Transformasi untuk Tingkatkan Efisiensi Pendanaan
-
Purbaya Masih Kaji Permintaan Said Iqbal soal Hapus Pajak JHT
-
Inovasi Water-Based Dipamerkan untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
-
Apresiasi Atas Pelayanan Sepenuh Hati, Karyawan PNM Asal Papua Diberangkatkan ke Negeri Sakura
-
PFII Diramalkan Akan Bawa Rp500 Triliun ke Indonesia
-
Kemasan Rokok Polos: Siapa Sebenarnya yang Menanggung Biaya Regulasi?