Suara.com - Aksi seorang perempuan di Sentul, Jawa Barat yang baru-baru ini membawa anjing ke dalam masjid menjadi pembicaraan ramai di tengah publik Tanah Air.
Banyak pihak mengecamnya karena dinilai telah menodai agama. Ia pun kini ditahan oleh polisi karena aksinya tersebut.
Meski demikian, berdasarkan keterangan polisi pula, perempuan itu diketahui pernah memiliki masalah kejiwaan dan bahkan sampai dirawat. Ia kabarnya menderita apa yang disebut skizofrenia?
Lalu apakah skizofrenia itu? Simak penjelasan dari Edo S. Jaya, pengajar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dalam artikelnya di The Conversation Indonesia berikut ini:
Saat mendengar kata skizofrenia, kebanyakan orang mungkin rasanya asing dengan istilah tersebut. Padahal sebenarnya hampir setiap orang pernah melihat atau memiliki pengalaman sendiri dengan skizofrenia.
Apakah Anda pernah berinteraksi dengan orang yang seolah-olah berbicara dengan orang lain tapi tidak ada siapa-siapa? Apakah Anda pernah berinteraksi dengan orang yang merasa dikejar-kejar sesuatu tapi sebenarnya tidak ada siapa pun yang mengejarnya? Apakah Anda pernah berinteraksi dengan orang yang merasa dirinya diperlakukan tidak semestinya oleh siapa pun (bahkan oleh orang yang tidak dikenalnya) padahal tidak?
Bila Anda menjawab ya pada salah satu pertanyaan tersebut berarti mungkin Anda pernah melihat orang dengan skizofrenia (ODS) baik di kehidupan nyata atau mungkin lewat film.
Pada umumnya orang yang kerap disebut “gila” di jalanan atau yang dirawat di rumah sakit jiwa kemungkinan besar didiagnosis menderita skizofrenia. Dalam bahasa percakapan sehari-hari, kata “gila” seringkali merujuk ke kondisi skizofrenia. Penjelasan awam untuk fenomena ini seringkali berbau spiritual dan magis. Berdasarkan pengalaman saya menemui ODS sebagai klien, mereka semua sudah pernah dibawa oleh orang tuanya atau saudaranya untuk bertemu ke “orang pintar” yang memberikan pelayanan tanpa bukti ilmiah.
Pengalaman para ODS juga beragam. Ada yang menganggap skizofrenia itu disebabkan oleh roh jahat, sehingga ada yang ditangani dengan teknik penyiraman air untuk mengusir roh jahat. Ada juga yang mungkin sama-sama menganggap skizofrenia disebabkan oleh mekanisme roh jahat, tapi penanganannya dengan ritual pemotongan hewan tertentu. Tapi sains punya penjelasan yang berbeda.
Baca Juga: Wanita Pembawa Anjing ke Masjid Mengamuk saat Jalani Observasi Kejiwaan
1. Apa itu skizofrenia?
Orang dengan skizofrenia (ODS) seringkali didiagnosis skizofrenia karena menderita gejala-gejala mengganggu seperti mendengar bisikan-bisikan atau merasa dikejar-kejar oleh agen tertentu, misalnya Badan Intelijen Negara (BIN). Diagnosis skizofrenia dapat diberikan oleh dokter dengan spesialis kesehatan jiwa (psikiater) atau psikolog klinis dewasa.
Skizofrenia adalah gangguan psikologis berat yang diderita sekitar 0,4% dari populasi. Setiap tahunnya, diperkirakan ada sekitar 15 kasus baru per 100.000 orang. Di Indonesia menurut hasil Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas) dari Kementerian Kesehatan, gangguan psikologis berat diderita oleh 1,7 per 1.000 orang atau ada sekitar 400.000 warga Indonesia saat ini yang menderita gangguan psikologis berat seperti skizofrenia.
Konsep gangguan psikologis bernama skizofrenia ini sudah memiliki sejarah yang panjang. Skizofrenia secara konseptual dapat diusut ke terminologi dementia praecox yang dicetuskan oleh Emil Kraepelin pada 1880-an berdasarkan hasil penelitiannya terhadap pasien-pasien di Eropa dan Hindia Belanda (lokasi tepatnya Kota Bogor sekarang).
Bukti-bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa gejala awal skizofrenia dapat muncul pada masa remaja sekitar usia 15-17 tahun, tapi baru dapat didiagnosis skizofrenia pada usia dewasa. Umumnya skizofrenia muncul pada masa usia dewasa muda, yaitu sekitar usia 18-25 tahun, dan kasus skizofrenia yang baru muncul pada usia di atas 40 tahun itu jarang.
2. Apa penyebab skizofrenia?
Berita Terkait
-
Kawi Matin di Negeri Anjing: Potret Manusia yang Dipaksa Menjadi Monster
-
Apakah Pertanda Buruk? Simak Arti Mimpi Dikejar Anjing Lengkap Menurut Primbon Jawa
-
Review Film Eat Pray Bark: Saat Anjing Mengajari Manusia untuk Bersyukur
-
Usaha Keras Ery Makmur Pangkas 30 Kg, Kini Emosi Steven Wongso Katai Orang Gendut 'Anjing'
-
Bikin Anabul Happy, Ini Tren Snack Buat Kucing dan Anjing yang Lagi Naik Daun
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak