Suara.com - Setiap tahunnya, diperkirakan 3500 bayi meninggal karena kecelakaan terkait tidur atau dapat disebut dengan sindrom kematian bayi mendadak atau Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
Tidak heran jika orangtua menjadi lebih protektif dan membuat pilihan teraman untuk bayi ketika mereka tidur. Misalnya, mencari tahu kapan bayi diperbolehkan tidur tengkurap.
Menurut Charles I. Shubin, MD , FAAP, seorang dokter anak dari Mercy Family Care Physicians, saat yang tepat untuk menengkurapkan bayi adalah ketika mereka sudah bisa membalik tubuhnya sendiri.
Bayi akan mulai bisa membalikkan tubuhnya sendiri pada usia sekitar empat hingga enam bulan. Ini menandai bahwa otot kaki, lengan, dan lehernya semakin kuat.
Oleh karena itu, mereka akan bisa menempatkan diri kembali ke posisi tidur yang aman, bahkan saat mereka tengkurap. Jadi, orang dewasa tidak perlu mengembalikan mereka ke posisi telentang.
Faktanya, semakin mereka dapat membalik tubuh sendiri justru semakin bagus. Sebab, stimulasi ini akan membuat otot-otot lehernya semakin kuat dan meningkatkan kontrol terhadap kepala.
Cara lain untuk memperkuat otot leher dan bahunya adalah saat mereka bermain dalam posisi tengkurap untuk beberapa waktu. Namun, jangan pernah meninggalkan bayi dalam keadaan ini sendiri tanpa pengawasan.
"Ketika mereka mendapatkan kontrol kepala yang lebih baik, mereka dapat menggerakkan kepala mereka," tutur Dr Shubin, melansir Insider.
Karena itu, kemungkinan orangtua akan memerhatikan mereka lebih suka tidur tengkurap. Tetapi, jangan terlalu sering membuat mereka tidur dalam posisi ini sampai usia satu tahun.
Baca Juga: Jangan Kebiasaan Tidur Miring dan Tengkurap, Ini 5 Dampak Kesehatannya
"Risiko SIDS berkurang pada usia satu tahun, jadi setelah itu, boleh saja bayi tidur tengkurap," kata Gina Posner, MD, dokter anak di MemorialCare Orange Coast Medical Center.
"Pada usia ini, bayi biasanya memiliki kontrol kepala yang baik dan cukup dapat menggerakkan kepalanya sehingga mereka tidak mati lemas," lanjutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?