Konferensi pers Kedai Kopi terkait paparan hasil survey Setya Novanto dan Ade Komaruddin. [Suara.com/Ummy Hadyah Saleh]
Partai Golongan Karya (Golkar) akan menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang akan di selenggarakan pada April mendatang untuk memilih Ketua Umum Partai Golkar.
Salah satu lembaga survei yakni Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) melakukan survei terkait kriteria calon ketua umum Partai Golkar. Juru Bicara KedaiKOPI, Hendro Satrio mengatakan, hasil survei menunjukkan mantan Ketua DPR Setya Novanto memperoleh peringkat pertama dengan kategori calon Ketua Umum Partai Golkar terpopuler dengan presentase 35,80 persen dibanding Ketua DPR Ade Komaruddin yang hanya 25,00 persen.
"Di peringkat pertama Setya Novanto yakni 35,80 persen, lalu di peringkat kedua Priyo Budi Santoso 26,80 persen, Ade Komarudin di peringkat ketiga 25,00 persen," ujar Hendro dalam jumpa pers hasil survei calon ketua umum Golkar di Resto Dua Nyonya Cikini, Jakarta, Kamis (3/3/2016).
Sementara kata Hendro, Syahrul Yasin Limpo yang juga Gubernur Sulawesi Selatan berada di peringkat keempat dengan memperoleh presentase 20 persen, lalu di peringkat ke lima Idrus Marham memperoleh presentase 19,04 persen.
"Kemudian menyusul di peringkat selanjutnya Aziz Syamsudin yang memperoleh 17,60 persen, Airlangga Hartanto 12,60 persen, Indra Bambang Utoyo 11,20 persen, Zaki Iskandar 9,40 persen dan Mahyuddin mendapatkan perolehan sebesar 8,40 persen," ucapnya.
Selain itu, berdasarkan survei, publik masih menginginkan ketua umum Partai Golkar yang memiliki pengalaman di Partai Golkar, lalu pernah menjadi pengurus DPP Partai Golkar, pimpinan DPR dan pernah menjadi Ketua Fraksi Golkar.
"Hasil surveinya, calon ketua umum yang berpengalaman di Golkar dengan presentase 59,80 persen, lalu pernah menjadi pengurus DPP Golkar 9,80 persen. Kemudian pernah menjadi pimpinan DPR 3,40 persen dan juga pernah menjabat ketua Fraksi Golkar di DPR dengan presentase 3,20 persen," tutur Hendri.
Lebi lanjut, hasil survei KedaiKOPI menunjukkan ketua umum terpilih nantinya tidak boleh memiliki dua jabatan dengan hasil presentase sebesar 42,89 persen. Serta harus mengundurkan diri dari jabatan lain bila terpilih jadi ketua umum Golkar yakni sebesar 13,83 persen.
"Lalu calon ketua umum yang merangkap jabatan dengan syarat bisa bekerja dengan baik dengan presentase 13,23 persen. Serta bisa merangkap jabatan asal membentuk ketua harian partai dengan presentase 3,81 persen," imbuhnya.
Adapun figur Partai Golkar yang dianggap berpengaruh bisa menyelamatkan dua kepengurusan Golkar, yang berpolemik selama ini yakni Jusuf Kalla yang juga Wakil Presiden memperoleh peringkat tertinggi yakni 21,60 persen, lalu Aburizal Bakrie 20 persen.
"Tokoh lain ada Akbar Tanjung 17,60 persen, Priyo Budi Santoso 16 persen, Muladi dengan presentase 2,40 persen, Agung Laksono 0,40 persen, dan Hajriyanto Thohari mendapat perolehan 0,40 persen," ungkapnya.
Untuk diketahui, survei ini dilakukan kepada 500 responden yang tersebar secara prorosional di seluruh Indonesia.
Responden adalah pengguna telepon yang dipilih secara acak menggunakan metode sampel acak sistematis. Komposisi responden di setiap daerah mempertimbangkan proporsi antar jumlah penduduk di setiap daerah.
Survei ini menggunakan margin of error (MoE) kurang lebih 4,38 pada tingkat kepercayaan 9,5 persen. Lalu Proses pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 29 Februari sampai 1 Maret 2016 melalui wawancara via telepon dan menggunakan kuesioner terstruktur. Kemudian responden pemilih berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah, ketika survei dilakukan.
Komentar
Berita Terkait
-
Berburu Kursi Empuk, Trik Pragmatis Golkar 'Anti-Oposisi' Demi Amankan Kekuasaan
-
Bahlil Semprot AMPI: Satu Periode Empat Kali Ganti Sekjen, Pengkaderan 'Enggak Jelas'
-
Bahlil Wajibkan Anggota DPR dari Golkar Ikut TOT: Biar Tahu Mana Kepentingan Partai dan Pribadi
-
Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Golkar Tegaskan Komitmen Sanksi Bagi Kader Bermasalah
-
Golkar Buka Suara Soal Kepala Daerah Marak Kena OTT, Singgung Mahalnya Biaya Politik
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan