Suara.com - Muhammad Nur Jamil, anak bungsu almarhumah Hj Najmiah Muin, korban penipuan dan penggandaan uang oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi senilai Rp200 miliar lebih di Makassar, Sulawesi Selatan menduga bundanya meninggal karena dibunuh.
"Kami menganalisa ada kecurigaan, waktu kami bawa ke rumah sakit di Makassar saat diangnosa pertama terkena maag. Kami kemudian kurang puas hasil diagnosa dokter waktu itu, lalu kami dibawa ke Singapura untuk berobat," sebut Nur di kediaman pribadinya jalan Sunu blok K/10, Tallo, Makassar, Selasa malam (4/10/2016).
Dirinya menyatakan, ibundanya dibawa ke Singapura untuk berobat dan memastikan penyakit yang diderita bundanya. Kemudian sang bunda pun meninggal dunia setelah berobat di negara tetangga itu lima bulan lalu.
"Dokter di sana mengatakan tidak apa-apa. Tetapi sewaktu masuk ICU sudah mulai terlihat keanehan, dari tangan terlihat mulai kehitaman dan lama kelamaan sampai pada kukunya terlihat hitam pekat," beber dia.
Sebelumnya, ia juga mengatakan, ada hubungan penyebab kematian ibundanya diketahui merupakan pebisnis jual beli tanah itu, setelah meminum air dalam botol kiriman dari suruhan Kanjeng Dimas atas nama VJ. Kendati demikian, dirinya tidak tahu persis berapa kali menerima air tersebut.
"Ada kiriman air dibawa suruhan Kanjeng Dimas itu ke bunda untuk diminum. Tetapi beberapa selang kemudian bunda jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, setelah beberapa saaat dirawat bahkan dibawa ke Singapura, namun bunda akhirnya meninggal dunia," ungkapnya.
Nur Jamil juga mengemukakan, telah beberapa kali protes dan memberikan saran serta memperingatkan ibu kandungnya itu agar tidak mempercayai adanya modus penggandaan uang, meski dilarang, bunda tetap tidak bergeming dan malah meminta dirinya ikut menemui kanjeng Dimas di Padepokan tepatnya di Probolinggo.
"Waktu itu saya akhirnya diajak kesana, awalnya saya curiga kenapa bawa koper, mungkin pakaian isinya, tetapi setiba disana setelah dibuka ternyata isinya uang semua, saya kaget," ulasnya menceritakan.
Selain itu, dirinya selalu mempertanyakan mengapa selalu mengirim uang sebanyak itu kesana bisa saja uang itu dipakai usaha lain, apakah itu dijamin. Tetapi bundanya mengatakan, uang tersebut akan dijadikan mahar dan akan mendapatkan keuntungan berlipat dan bisa dibagi-bagikan ke masyarakat.
"Almarhum memang punya sifat sosial yang tinggi. Awalnya, ada orang datang mempengaruhi dengan membawa ajaran agama, bunda kan orangnya beragama, setelah dipengaruhi akhirnya ikut hingga beberapa tahun. Mungkin saja bunda beberapa kali menuntut uang digadakan secepatnya agar kembali, tetapi ditolak oknum, kemudian diduga kuat bisa saja akhirnya diselesaikan," ungkap Nur.
Saat ditanyakan barang-barang yang disimpan bundanya yang kini diamankan polisi berupa emas batangan 400 kilo gram, mustika, keris yang diduga palsu termasuk uang palsu disimpan pada sembilan koper, kata dia membenarkan itu.
"Benar ada emas batangan beratnya sekitar 400 kilo gram, uang rupiah dan asing diduga palsu. jenglot, mustika dan keris lainnya dalam koper itu ada disimpan bunda. Sejak awal memang saya selalu curiga, dan ingin membuka, tapi bunda melarang karena masuk informasi bila membuka tanpa seizin kanjeng akan kena musibah," ucapnya.
Pria yang berprofesi sebagai pengusaha lintas kabupaten ini mengaku, setiap peti itu ingin dibuka ada telepon masuk dan melarang membuka peti lalu meminta mahar, pernah sebanyak Rp400 juta. Bahkan, ironisnya semua peti harus diminyaki dengan minyak khusus dengan harga cukup mahal.
"Katanya, kalau mau dibuka harus minta petunjuk kanjeng. Kalau tidak seizin kanjeng dibuka maka tidak jadi uang. Koper-koper itu datang satu persatu ada yang dibawakan dan adapula bunda yang bawa sendiri pulang," ulasnya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali