News / Nasional
Selasa, 04 Februari 2020 | 14:13 WIB
Andre Rosiade, politikus Gerindra, saat ikut aparat polisi menggerbeek PSK di Padang, Sumatera Barat, 26 januari 2020. [Twitter/Andre Rosiade]

Jadi, pada hari kejadian itu, AS mengantar NN hingga ke depan pintu kamar 606 sekitar pukul 14.00 WIB.

"AS hanya sampai depan pintu kamar. Hanya menunjukkan ini nomor kamarnya," ujar NN.

Ketika NN masuk ke dalam, pelanggan sudah menunggunya.

"Pertama kali masuk, dia bertanya tentang harga. Lalu aku bilang tadi bukannya sudah deal di chat (dengan AS)? Ya, berapa (tanyanya)? Aku bilang delapan ratus ribu kan! (Dia jawab) lima ratus ribu bagaimana, tiga ratus ribu lagi ditransfer. Kebetulan aku punya e-bangking. Oh ya sudah boleh, aku bilang. Kan sama."

"Ternyata, (pria itu mengaku bahwa) e-bangking-nya tidak bisa digunakan. (Dia menawarkan) bagaimana kalau nanti setelah 'main', sisanya dia ke bawah, aku pegang handphone-nya. Aku jawab tidak bisa. Kalau mau, abang turun saja dulu. Ambil uangnya. Lanjut, dia lalu bilang gimana Rp 750.000, ini aku ada nih, ini uang jajanku enggak ada lagi ni. Dia akhirnya mengeluarkan uang Rp 750.000 yang kemarin jadi barang bukti," kata NN menceritakan kronologi.

Setelah menyepakati soal tarif, NN  dan pria tersebut melakukan hubungan badan di kamar mandi hotel tersebut.

Nah, beberapa saat setelah itu, dia mendengar ada yang memencet bel pintu. NN sempat bertanya kepada pria yang bersamanya tentang siapa orang yang telah memencet bel pintu.

Pria itu menjawab bahwa yang memencet bel mungkin petugas kebersihan kamar hotel.

Padahal, menurut NN, kamarnya masih rapi. Pria itu lalu keluar dari kamar mandi dan mengambil bajunya yang dilepaskan sebelumnya.

Baca Juga: Andre Rosiade Minta Stop Nyinyir soal Banjir, Faizal Assegaf Bela Warganet

"Karena panik, aku ngikutin dia dari belakang. Dia membuka pintu, aku di belakang dia. Aku nyari handuk tidak ada di situ. Biasanya semua hotel, handuk ada. Kalau ini enggak ada. Ini kok kayak direncanain gitu. Maksudnya, kalau memang mau menggerebek aku. Begitu ketuk pintu, wartawan ada, aku juga kan enggak bisa lari. Aku juga enggak bisa bohong. Bukti ada, aku enggak bisa bohong," jelas NN.

Namun, dari penggerebakan yang direncakan itu, ada hal yang mengganjal bagi NN, ialah mengapa dirinya 'dipakai' terlebih dahulu baru digerebek.

"Mengapa harus ‘pakai’ aku dulu," ujarnya dengan suara terbata-bata, kesal.

Ketika pria yang telah menggunakan jasanya itu membuka pintu, NN tidak tahu lagi pria itu ke mana, alias hilang tanpa jejak.

Soalnya, banyak orang yang masuk lewat pintu itu. NN awalnya terjepit di belakang pintu.

Melihat orang-orang membawa kamera, dalam keadaan masih bugil, NN lalu lari bersembunyi ke kamar mandi.

"Aku bilang, aku tidak mau keluar jika tidak ada yang ngambil baju," ujarnya.

Untung saja, saat itu, ada seorang wanita yang yang membantunya mengambilkan pakaian yang tergeletak di salah satu  pojok sudut kasur. Setelah memasang pakaian, NN baru keluar.

"Kejadian penggerebekan itu terjadi sekitar 14.30 WIB," ujarnya.

NN menegaskan, dia tidak kenal siapa pelanggan yang bersamanya. Dia juga tidak tahu yang memesannya kepada AS itu atas nama Rio adalah Andre Rosiade. Dia bahkan tidak tahu Andre Rosiade itu siapa.

Berdasarkan struk reservasi yang diperoleh Covesia, Andre Rosiade mem-booking hotel tersebut pada 26 Januari 2020 dengan waktu check-in pukul 14.00 WIB. Sementara waktu check out pukul 12.00 WIB pada tanggal 27 Januari 2020.

Andre Rosiade memesan hotel tersebut dengan menggunakan KTP atas nama Bimo Nurahman, pria kelahiran Jakarta, 21 Juni 1994, belakangan diketahui pria itu merupakan ajudan Andre.

Covesia.com menemukan foto profil Bimo Nurahman di LinkedIn dan memperlihatkan foto wajah Bimo tersebut kepada NN melalui layar android. Kata NN, bukan pria itu yang bersamanya di kamar.

"Orang yang bersama saya umurnya mungkin sekitar 40-an," terang NN.

NN berharap dia bisa dibebaskan. Untuk saat ini, anaknya sedang dititipkan kepada tetangganya.

Saat NN minta dia dibebaskan, Kabid Humas Polda Sumbar Stefanus yang duduk di sebelah saat wawancara tersebut mengungkapkan "Jalani dulu prosesnya."

Sementara itu, saat dihubungi via telepon, Andre Rosiade menjelaskan prostitusi online memang nyata di Kota Padang.

"Tujuan penggerebekan itu untuk membongkar praktik prostitusi online. Agar seluruh pihak, pemerintah provinsi, pemerintah kota, masyarakat, menyadari bahwa di tengah kita ada prostitusi online. Jangan menutup mata. Ini harus kita sikapi," ujarnya kepada Covesia.com.

Dia berharap semua pihak agar bisa memperbaiki diri untuk memberantas maksiat ini.

Saat ditanyakan apakah pria yang bersama NN di dalam Ruang 606 Hotel (Kyriad) Bumi Minang adalah orang bayarannya sendiri, Andre menjawab, "Itu domain pihak kepolisian. Silakan tanya ke pihak kepolisian. Bukan urusan saya."

Nah, ketika ditanyakan lebih lanjut apa benar dirinya yang mem-booking kamar hotel, Andre pun menjawab, "Yang saya pastikan kamar itu tidak pernah atas nama saya. Saya tidak pernah ke resepsionis. Saya tidak pernah membayar.”

Andre Rosiade menyatakan tidak pernah memesan kamar itu.

"Saya dalam proses menyurati (hotel Kyriad) Bumi Minang menanyakan kenapa ada (struk reservasi) yang beredar atas nama saya," ujar Andre.

Bertolak belakang dengan pernyataan Polda Sumbar, Andre Rosiade membantah bahwa dirinya yang memesan PSK melalui akun temannya, "Saya pribadi tidak pernah memesan."

Dia menegaskan, prostitusi daring itu memang nyata di Kota Padang. Bahkan, kata Andre, Polres Padang juga berhasil membongkar kasus prostitusi daring menggunakan aplikasi MiChat.

Aplikasi itu, kata Andre, memang telah digunakan sebagai sarana transaksi prostitusi online di Kota Padang.

"Apa kita mau gempa terjadi di Kota Padang. Apa mau tsunami terjadi di Kota Padang. Kita tahu, mengapa kita harus diam. Lalu jika Andre Rosiade membongkar, apa semua harus kebakaran jenggot, ribut, protes. Pertanyaan, polisi tidak mungkin menetapkan seseorang menjadi tersangka kalau tidak ada bukti ," terangnya.

Dia meminta Covesia untuk menanyakan ke Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah bagaimana upaya yang akan dilakukan untuk mencegah prostitusi daring via aplikasi MiChat di Kota Padang.

"Jangan ambo (saya) yang dipojokkan. Tanya dong wali kota. Mengapa bapak diam. Tanyakan terkait iko (ini) apa kebijakan apak (Bapak)," imbuhnya.

Load More