Suara.com - Kematian Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, di Teheran minggu lalu mengejutkan banyak pihak. Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel, banyak yang berasumsi bahwa Israel bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Berikut beberapa fakta menarik tentang bagaimana dan mengapa Haniyeh dibunuh di Teheran:
Israel, melalui Mossad, memegang peranan penting dalam operasi ini. Alat peledak yang membunuh Haniyeh dipasang di bawah tempat tidurnya oleh dua agen Iran yang telah direkrut oleh Mossad. Mereka berasal dari unit keamanan Ansar al-Mahdi, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang seharusnya bertanggung jawab mengamankan gedung dan tamu-tamunya. Para penjaga ini kemudian disuap dan diselundupkan keluar dari Iran setelah pembunuhan.
- Penempatan Alat Peledak
Kontradiksi dalam laporan yang beredar menunjukkan bahwa alat peledak tidak diletakkan beberapa minggu atau bulan sebelumnya, seperti yang diperkirakan. Sebaliknya, rekaman kamera keamanan mengungkapkan bahwa peledak ditempatkan pada hari kejadian, sekitar sembilan jam sebelum diaktifkan ketika Haniyeh memasuki kamarnya. Ledakan yang dipicu dari jarak jauh terjadi pada pukul 01:37 dini hari waktu setempat.
- Strategi Operasi
Mossad merancang operasi dengan cermat, memanfaatkan jaringan mata-mata yang tersebar di Teheran dan kolaborator lokal. Informasi intelijen yang dikumpulkan selama 20 tahun tentang program nuklir Iran dan perekrutan anggota IRGC memungkinkan operasi ini berhasil. Haniyeh dibunuh saat kunjungannya ke Teheran untuk menghadiri pelantikan presiden baru Iran.
Para agen Mossad menghadapi tantangan besar dalam memantau wisma tempat Haniyeh menginap, yang berada di atas bukit dan dikelilingi hutan. Untuk mengatasi hal ini, lima agen memanjat pohon-pohon di sekitar gedung untuk mendapatkan pandangan yang jelas. Mereka melaporkan segera setelah Haniyeh tiba dan memantau lampu kamarnya untuk memberi sinyal kepada operator bom.
- Reaksi Iran dan Konsekuensi Diplomatik
Setelah pembunuhan, otoritas Iran menangkap 28 pejabat militer dan menyita gawai elektronik untuk menyelidiki keterlibatan anggota IRGC. Kemarahan Iran lebih terkait dengan penghinaan dari keterlibatan agen IRGC daripada kematian Haniyeh itu sendiri. Iran mengancam akan menjatuhkan hukuman berat kepada Israel sebagai balasan.
- Mengapa Tidak di Qatar?
Israel memilih untuk membunuh Haniyeh di Teheran ketimbang di Qatar, meskipun ada banyak kesempatan. Qatar berperan penting sebagai mediator dalam krisis penyanderaan antara Hamas dan Israel. Melakukan pembunuhan di Qatar bisa memperburuk hubungan diplomatik dan merusak perjanjian damai yang sedang dibahas. Dengan memilih Teheran, Israel menghindari komplikasi diplomatik yang mungkin timbul dari aksi di Qatar.
Berita Terkait
-
Mengapa Israel Memilih Menghabisi Ismail Haniyeh di Iran, Bukan di Tempat Lain?
-
Cerita 2 Warga Iran Terlibat atas Kematian Ismail Haniyeh, Tawaran Uang hingga Jaminan Keamanan di Eropa
-
Cara Mossad Rancang Pembunuhan Ismail Haniyeh dengan Operasi Canggih di Teheran
-
Penyakit Kulit Menyerang Ribuan Anak-anak di Gaza
-
Tolak Embargo! Kamala Harris Dukung Pengiriman Senjata ke Israel
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Percepat Pembangunan Huntap, Kasatgas Tito Dukung Penggunaan Dana Siap Pakai BNPB
-
'Saya Malu', Pengakuan Gus Irfan soal Kondisi NU Jelang Muktamar 2026
-
Rapor Merah 80 Tahun Polri: Berkhidmat pada Kekuasaan, Bukan Rakyat
-
Bukan Negara Vigilante: Mengapa Penyekapan Karyawan di Senen Berlangsung 21 Hari Tanpa Terdeteksi?
-
Lagu Bupati Purwakarta Dinilai Bias Gender, Partai Diminta Beri Teguran
-
Jakbar Darurat Judol, 89 Ribu Warga Setor Rp600 Miliar ke Bandar
-
Momen Hangat di Istana, Presiden Belarus Hadiahi Prabowo Pena Emas
-
Skandal Korupsi MBG: Kejagung Ungkap Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Proyek Motor BGN
-
Pendapatan Ojol Turun Usai Skema 8 Persen, DPR Minta Tarif Diatur
-
Flyover Latumenten Ditargetkan Beroperasi Akhir 2026, Bakal Urai Kemacetan Grogol Hingga Slipi