Suara.com - Panggung perayaan Hari Kemerdekaan di berbagai daerah di Indonesia tak hanya diisi oleh parade busana adat dan pertunjukan seni yang meriah.
Di tengah lautan warna-warni itu, muncul sebuah "monster" yang konsisten mencuri perhatian dan menjadi simbol perlawanan rakyat yang paling gamblang: ogoh-ogoh tikus berdasi raksasa.
Fenomena ini kembali meledak di media sosial, menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat dalam menyuarakan kritik sosial semakin berani dan tanpa tedeng aling-aling.
Dari Sabang sampai Merauke, karnaval dan pawai budaya seolah menjadi arena bagi rakyat untuk meluapkan kegerahan mereka terhadap praktik korupsi yang tak kunjung usai.
Patung tikus berjas, berdasi, sambil menenteng koper bertuliskan "UANG RAKYAT" menjadi pemandangan yang jamak ditemui.
Simbolisme ini begitu kuat dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tikus, hewan pengerat yang identik dengan sifat rakus, kotor, dan merusak, dipakaikan atribut kaum elite—jas dan dasi, untuk merepresentasikan para pejabat korup.
Koper yang dibawanya bukan berisi dokumen penting negara, melainkan hasil jarahan uang milik rakyat. Ini adalah kritik visual yang menohok langsung ke jantung permasalahan tanpa perlu banyak kata.
Dalam beberapa unggahan yang viral, sindiran ini dibuat lebih spesifik dan menyakitkan.
Baca Juga: Digeledah KPK dan Ponselnya Disita, Kubu Gus Yaqut Bantah: Itu Bukan Miliknya!
Salah satunya menampilkan seorang peserta perempuan yang berdandan layaknya seorang terdakwa, lengkap dengan papan pengumuman di lehernya yang bertuliskan "KORUPSI DANA BANSOS".
Isu korupsi bantuan sosial, yang notabene adalah hak bagi masyarakat paling rentan, menjadi salah satu dosa yang paling tidak bisa dimaafkan oleh publik.
Mengangkatnya dalam sebuah karnaval adalah cara untuk memastikan bahwa memori kolektif bangsa tidak akan pernah melupakan pengkhianatan tersebut.
Kehadiran sosok-sosok ini di tengah kemeriahan karnaval menciptakan sebuah kontras yang ironis. Di satu sisi ada perayaan kemerdekaan, di sisi lain ada pengingat pahit bahwa negara ini masih "dijajah" oleh para koruptor dari dalam.
Ini bukan lagi sekadar hiasan pawai, melainkan sebuah bentuk "demokrasi jalanan", di mana rakyat menggunakan satu-satunya panggung yang mereka miliki untuk berteriak.
Unggahan di berbagai platform media sosial pun dibanjiri komentar yang menyuarakan sentimen serupa. Frustrasi publik terangkum dalam sebuah kalimat yang viral, menyertai foto-foto tersebut:
Tag
Berita Terkait
-
Digeledah KPK dan Ponselnya Disita, Kubu Gus Yaqut Bantah: Itu Bukan Miliknya!
-
Koruptor E-KTP Setya Novanto Bebas Bersyarat Tanpa Wajib Lapor, Eks Penyidik KPK: Negara Gagal!
-
Setya Novanto Bebas, Golkar Kasih Sinyal Belum Ajak Kembali ke Panggung Politik
-
Setya Novanto Bebas, Publik Tak Boleh Lupa Janji Sayembara Rp 1 Miliar Sang Koruptor
-
Ikut Karnaval Kemerdekaan HUT RI ke-80, Sri Mulyani Diteriaki Warga: Turunin Pajak Bu!
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Cuma Jeda 24 Menit! Dua KRL Rangkasbitung Diteror Pelemparan Batu, Pelaku Masih Misterius
-
Guru dan Kaposyandu Kini Jadi 'Mata-mata' BGN, Pantau Langsung Kualitas MBG
-
Daftar Tersangka Kasus Bea Cukai: Dari Pejabat Elite hingga Bos Korporasi
-
Respons Janji Prabowo, DPR Minta Hapus Klasterisasi Guru dan Jadikan Semua PNS!
-
Pleidoi Menohok Noel: Bela Buruh Diperas, Malah Dituduh Memeras
-
Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim
-
Muncul di Mabes Polri, Waka BGN Sony Sanjaya Jawab Isu Panas Kena OTT
-
Menyesal Pernah Jadi Wamenaker, Noel Ebenezer: Pedih Sekali Saya Dapat Jabatan Ini
-
Penasihat Hukum Klaim Noel Ebenezer Ada di Waktu dan Tempat yang Salah dalam Kasus K3
-
Tragedi Ebola Kongo: Disangka Virus Hoaks Hingga Kehilangan Seluruh Keluarga