“Ya namanya juga anak-anak, baru bisa merangkak usia 4 tahun,” ujar pihak keluarga.
“Masih merangkak, kan tadinya lahir prematur saat usia kandungan masih 6 bulan, masih mending lah bisa hidup juga,” katanya melanjutkan.
Kondisi prematur itu berdampak besar pada perkembangan fisik dan mental Raya. Hingga usia empat tahun, balita itu belum mampu berbicara.
“Belum bisa bicara juga, belum bisa apa-apa akibat prematur itu. Bicara juga pakai bahasa isyarat,” ujarnya.
Meski demikian, keluarga tetap rutin membawanya ke Posyandu untuk memantau tumbuh kembangnya.
“Sering kalau ke Posyandu,” kata pihak keluarga.
Kabar soal orang tua raya yang disebut mengalami gangguan jiwa sebelumnya sempat di beritakan di berbagai media nasional. Sedangkan ayahnya disebut mengidap penyakit tuberkulosis atau TBC.
Dengan latar belakang kedua orang tua dan kondisi ekonomi yang sulit, tubuh kembang Raya menjadi terganggu.
Ayah Raya hanya bekerja serabutan sebagai petani yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Sebut Rakyat Sama Saja dengan Politisi Korup: Sama Serakah dan Buasnya
Karena kondisi lingkuhan yang kotor dan kurangnya pengawasan, pertumbuhan Raya terganggu hingga kondisi kesehatannya semakin memprihatinkan.
Kematian Raya yang tubuhnya banyak mengeluarkan cacing sempat viral di media sosial. Cacing-cacing tersebut sebagian besar masih hidup dan keluar melalui hidung, saluran pembuangan, dan lainnya.
Kabar soal Raya itu kemudian sampai di telinga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Atas kejadian miris yang menimpa warga Sukabumi iut, Dedi memberikan sanksi berupa penundaan bantuan bagi desa tersebut.
Kontributor : Rizka Utami
Berita Terkait
-
Hormat ke Kereta Kencana, Dedi Mulyadi Dirujak Netizen: Tinggalkan Pemimpin yang Suka Syirik!
-
Dedi Mulyadi Berlutut di Depan Kereta Kencana: Antara Pelestarian Budaya dan Tuduhan Penistaan Agama
-
Mensos Gus Ipul Bantah Pihaknya Terlambat Tangani Kasus Balita Raya yang Tubuhnya Penuh Cacing
-
Bertemu Dedi Mulyadi KW, Sikap Ibu-ibu Minta Diborong Dagangannya Dikecam Tak Pantas
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Klaim Penyebab Kematian Raya Bukan Gegara Cacingan
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Nasib Pandji Pragiwaksono di Tangan Polisi, Penyelidik Mulai Analisis Barang Bukti Materi Mens Rea
-
Aksi Ekstrem Pasutri Pakistan di Soetta: Sembunyikan 1,6 Kg Sabu di Lambung dan Usus
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!
-
KPK Bongkar Alasan Jerat Eks Menag Yaqut: 'Permainan' Kuota Haji Tambahan Jadi Pemicu