- Hasil pemantauan menunjukkan ribuan konten promosi produk tembakau beredar bebas.
- Tim pemantau menggunakan berbagai kata kunci termasuk istilah lokal seperti glinting atau sebat.
- Wida mengatakan konten-konten ini seringkali dikemas seolah tidak berbahaya.
Suara.com - Iklan rokok baik konvensional maupun elektronik masih marak beredar di platform digital, terutama YouTube. Padahal, sudah ada aturan pemerintah yang melarang iklan tersebut.
Wida Arioka dari SAFEnet mengungkapkan hasil pemantauan menunjukkan ribuan konten promosi produk tembakau beredar bebas dan bahkan dapat diakses anak-anak tanpa pembatasan usia.
“Kita bisa lihat bahwa sekarang iklan rokok atau produk tembakau lainnya diiklankan sebagai sebuah gaya hidup, tanpa menginformasikan konsekuensi dari penggunaan rokok itu,” ujarnya dalam acara SAFEnet, Selasa (28/10/2025).
Padahal, lanjutnya, sejak tahun 2000 sudah ada aturan dalam PP Nomor 38 Tahun 2000 yang membatasi penayangan iklan rokok untuk melindungi anak-anak dari paparan promosi tembakau.
Peraturan terbaru bahkan semakin tegas melalui PP Nomor 28 Tahun 2024, yang melarang total promosi produk tembakau dan rokok elektronik di media sosial termasuk YouTube.
Namun, pertanyaannya, apakah ada pengawasan nyata terhadap implementasi aturan tersebut?
Pemantauan dilakukan karena YouTube disebut sebagai platform yang paling banyak menayangkan iklan produk tembakau.
“Remaja menemukan iklan produk tembakau itu lebih banyak di YouTube. Seperti kita tahu, anak-anak pertama kali terpapar internet juga lewat YouTube,” jelasnya.
Untuk menelusuri konten tersebut, tim pemantau menggunakan berbagai kata kunci termasuk istilah lokal seperti glinting atau sebat, yang sering kali tidak terdeteksi oleh sistem YouTube.
Baca Juga: Berapa Penghasilan Youtube Dedi Mulyadi? Bak Bumi Langit Dibanding Gajinya Sebagai Gubernur Jabar
Pemantauan ini dilakukan menggunakan database Canary, sistem pemantauan yang disediakan oleh Vital Strategies, dari Agustus hingga Desember 2023 dan Maret hingga Agustus 2024.
Dari periode tersebut, ditemukan 2.328 iklan produk tembakau di YouTube, dengan mayoritas muncul dalam video berdurasi panjang, namun mulai banyak juga di format YouTube Short yang lebih sering ditonton anak muda.
“Beberapa kreator bahkan menaruh ulasan produk rokok di akhir video game,” ujar Wida.
Konten-konten ini seringkali dikemas seolah tidak berbahaya, bahkan mengajak penonton yang belum merokok untuk mencoba: “Kalau kamu belum memakai rokok, coba ini,” katanya menirukan salah satu konten.
Lebih mengejutkan lagi, sebagian konten memberikan tautan langsung ke marketplace seperti Tokopedia, tempat produk tersebut bisa dibeli.
Bahkan ada kreator yang secara terang-terangan membuka jasa ulasan berbayar untuk produk rokok.
Berita Terkait
-
Rokok Ilegal Ancam APBN, Ekonom Ingatkan Pengawasan Ketat di Tengah Jeda Kenaikan Cukai
-
YouTube Tambah Fitur Shorts Timer, Biar Gak Kecanduan Scroll Terus
-
Wacana Kebijakan Kemasan Rokok Polos Dinilai Bisa Ganggu Rantai Pasok IHT
-
Lamban Lindungi Rakyat dari Rokok dan Gula, 32 Organisasi Desak Pemerintah Tegakkan PP Kesehatan
-
Berapa Penghasilan Youtube Dedi Mulyadi? Bak Bumi Langit Dibanding Gajinya Sebagai Gubernur Jabar
Terpopuler
- 6 HP Murah RAM Besar Rp1 Jutaan, Spek Tinggi untuk Foto dan Edit Video Tanpa Lag
- 57 Kode Redeem FF Terbaru 25 Januari 2026: Ada Skin Tinju Jujutsu & Scar Shadow
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi Mobil Kecil untuk Wanita, Harga Mulai Rp80 Jutaan
- Detik-detik Menteri Trenggono Pingsan di Podium Upacara Duka, Langsung Dilarikan ke Ambulans
Pilihan
-
Pertamina Mau Batasi Pembelian LPG 3 Kg, Satu Keluarga 10 Tabung/Bulan
-
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
-
Purbaya Hadapi Tantangan Kegagalan Mencari Utang Baru
-
5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
-
Danantara Mau Caplok Tambang Emas Martabe Milik Astra?
Terkini
-
Mensos Paparkan Data Bencana Januari 2026: 34 Titik Melanda Indonesia, Jawa Jadi Wilayah Terbanyak
-
12 Aparat Hukum Diduga Perkosa Seorang Ibu di Papua, Saksi Mata Ungkap Kronologi Pilu
-
Mensos: Indonesia Resmi Miliki Data Tunggal DTSEN, Tak Ada Lagi Kementerian Punya Data Sendiri
-
Dua Bulan Bencana Sumatra: 1.204 Korban Meninggal, Ratusan Orang Hilang
-
Kemensos Butuh Rp2 Triliun Tangani Pasca-Bencana Sumatra, Anggaran Tersedia Baru Rp600 Miliar
-
KPK Ungkap Perusahaan Rudy Tanoesoedibjo Tak Salurkan Bansos
-
Isu Reshuffle Kabinet Mencuat, Menlu Sugiono: Saya Baru Dengar Sekarang
-
Isu Iuran Rp16,9 Triliun untuk Dewan Perdamaian, Menlu Sugiono: Itu Bukan 'Membership Fee'
-
Menteri PKP Maruarar Sirait Targetkan 2.603 Hunian Tetap di Sumatra Rampung Mei 2026
-
DPR Minta Perbaikan Infrastruktur Pascabencana Jangan Sampai Sia-sia Akibat Lingkungan Tak Terurus