- Dwinanda Linchia Levi, dosen Untag Semarang, ditemukan meninggal tanpa busana di kamar hotel Semarang pada Senin (17/11) setelah autopsi awal indikasi aktivitas berlebih.
- Ratusan mahasiswa aliansi "Justice for Levi" berunjuk rasa di Mapolda Jateng pada Rabu (19/11) menuntut transparansi pengusutan kematian dosen mereka.
- Polda Jateng menjamin pengusutan kasus ini mendapat atensi khusus dan akan melibatkan berbagai pihak dalam gelar perkara untuk menentukan unsur pidana.
Suara.com - Teka-teki kematian Dwinanda Linchia Levi (35), dosen Hukum Pidana Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, mulai menemui titik terang meski masih diselimuti sejumlah kejanggalan.
Hasil autopsi awal menunjukkan adanya indikasi aktivitas berlebih sebelum korban ditemukan tak bernyawa tanpa busana di sebuah kamar hotel di Semarang, Senin (17/11).
Korban pertama kali ditemukan oleh seorang perwira menengah Polda Jawa Tengah, AKBP Basuki (56), yang kemudian melaporkan insiden ini ke Polsek Gajahmungkur.
Temuan ini sontak memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa yang mencium adanya hal-hal ganjil di balik kematian dosen mereka.
Ratusan mahasiswa yang mengatasnamakan aliansi "Justice for Levi" mendatangi Mapolda Jawa Tengah pada Rabu (19/11) untuk menuntut transparansi.
Perwakilan mahasiswa, Antonius Fransiskus Polu, mengungkapkan informasi yang mereka terima terkait kondisi terakhir sang dosen.
“Siang hari beliau sempat periksa. Beliau punya riwayat darah tinggi. Ketika kembali ke indekos, ada aktivitas berlebih yang menyebabkan jantungnya pecah. Yang menjadi kejanggalan, posisi beliau ditemukan tergeletak tanpa busana,” ujar Frans di hadapan jajaran pejabat utama Polda Jateng.
Kecurigaan mahasiswa tidak berhenti di situ. Mereka mempertanyakan status saksi kunci, AKBP Basuki, serta jeda waktu yang dinilai tidak wajar sejak korban terakhir kali terlihat hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia.
“Di penginapan itu yang tinggal hanya Bu Levi. Sementara saksi kunci (AKBP Basuki) ini kami belum tahu apakah pengunjung atau bukan. Tidak ada yang kami temukan di lokasi,” tegas Frans, menyuarakan keraguan rekan-rekannya.
Baca Juga: Deretan Fakta AKBP Basuki, Benarkah Ada Hubungan Spesial di Balik Kematian Dosen Untag?
Sambil membentangkan spanduk bertuliskan "Justice for Levi", para mahasiswa menegaskan akan terus mengawal proses penyelidikan hingga tuntas. Mereka memberikan ultimatum bahwa pergerakan yang lebih besar akan dilakukan jika kasus ini tidak diusut secara transparan.
“Kami percaya penyidik bekerja maksimal. Harapan kami kasus ini diusut tuntas dan transparan. Jika tidak, pergerakan akan berlanjut,” katanya.
Menanggapi tekanan publik, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Artanto, memastikan bahwa pihaknya memberikan atensi khusus pada kasus ini.
Ia meminta semua pihak untuk bersabar dan memberikan ruang bagi tim penyidik untuk bekerja secara profesional.
“Kami sedang berproses. Temuan pasti akan kami sampaikan. Polisi menggali keterangan saksi, ahli, maupun petunjuk lain. Proses ini tidak bisa selesai satu-dua hari,” kata Kombes Artanto.
Polda Jateng berjanji akan menggelar perkara secara terbuka dengan melibatkan pengawas internal dan eksternal, termasuk perwakilan keluarga, untuk menentukan apakah ada unsur pidana dalam peristiwa ini.
“Penyidik akan memaparkan seluruh hasil kepada peserta gelar perkara. Nanti disimpulkan apakah peristiwa ini masuk ranah pidana atau bukan,” ujarnya.
“Kami memahami kegundahan mahasiswa dan civitas academica. Kami sangat berempati dan memberikan atensi khusus pada kasus ini," tambahnya.
Berita Terkait
-
Deretan Fakta AKBP Basuki, Benarkah Ada Hubungan Spesial di Balik Kematian Dosen Untag?
-
Geger Kematian Dosen Cantik Untag: AKBP Basuki Dikurung Propam, Diduga Tinggal Serumah Tanpa Status
-
7 Fakta Kematian Dosen Untag di Kos: AKBP B Diamankan, Kejanggalan Mulai Terungkap
-
Kematian Kacab Bank: Polisi Tambah Pasal Pembunuhan, Tiga Anggota Kopassus Jadi Tersangka
-
Cemburu Berujung Maut: Teriakan Minta Tolong Bongkar Aksi Sadis Pembunuhan di Condet!
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
-
Ironi Hukum: Menuju Indonesia Emas, Ternyata Emasnya Ada di Rumah Febrie!
-
Bikin Melongo! Polri Pamerkan 74 Kg Emas hingga Ratusan Miliar Hasil Sitaan Kasus Jampidsus
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
Terkini
-
Jawa Tengah Darurat Korupsi? 4 Kepala Daerah Terjaring OTT KPK dalam Waktu Singkat
-
KPK Ungkap Modus Bupati Sukoharjo, Gunakan SK Paksa ASN Setor Insentif hingga Rp2,93 Miliar
-
Klarifikasi Kejati Jateng: Tak Ada Pemeriksaan Personel Polri Terkait SPPG
-
KPK Tetapkan Bupati Sukoharjo dan Dua Pejabat Pemkab Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan
-
Drama Perceraian Bupati Gowa Berbuntut Laporan Polisi: Mantan Suami Cium Aroma Kesaksian Palsu
-
Habiburokhman Tegaskan Mundurnya Jampidsus Febrie Tak Boleh Hentikan Pengusutan Kasus Korupsi
-
The 2nd IBOS Expo 2026 Siap Digelar, Hadirkan Lebih dari 100 Peluang Bisnis dari Berbagai Industri
-
Jaksa Agung Resmi Terima Pengunduran Diri Febrie Adriansyah dari Jampidsus
-
Intelijen Israel Bongkar Dugaan Skenario Iran Bunuh Trump, Washington Respon Santai
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur