- Menteri LH menarik persetujuan lingkungan dan memanggil perusahaan terindikasi penyebab kerusakan lingkungan pascabencana dahsyat Sumatera.
- Investigasi fokus pada pembukaan kebun sawit menyisakan kayu yang memperparah dampak banjir bandang di wilayah tersebut.
- Kementerian menggandeng universitas lokal untuk melakukan kajian mendalam mengenai penanganan serta upaya pemulihan pascabencana.
Suara.com - Pemerintah mengambil langkah luar biasa menyusul bencana hidrometeorologi dahsyat yang melumpuhkan sebagian wilayah Sumatera.
Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengumumkan 'gebrakan' keras dengan menarik seluruh dokumen persetujuan lingkungan di daerah terdampak dan siap memanggil paksa sejumlah perusahaan yang terindikasi menjadi biang keladi kerusakan.
Langkah tegas ini diambil setelah analisis mendalam menunjukkan bahwa meskipun curah hujan tercatat sangat ekstrem—mencapai 9,7 miliar kubik air di Aceh hanya dalam dua hari—kondisi tersebut diperparah secara brutal oleh daya dukung lanskap lingkungan yang sudah kadung rusak.
"Jadi kami dengan dukungan dari Komisi 12 akan melakukan penelusuran detil terkait dengan permasalahan ini, mulai dari sisi korporasi tentu kami mulai hari ini akan menarik kembali semua persetujuan lingkungan dari dokumen lingkungan yang ada di daerah-daerah bencana," ujar Hanif di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Tak berhenti pada evaluasi dokumen, Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) juga telah mengantongi nama-nama perusahaan yang diduga kuat berkontribusi memperparah bencana.
Berbekal pantauan citra satelit, surat panggilan resmi telah dilayangkan dan para bos perusahaan tersebut diwajibkan hadir untuk memberikan keterangan pada hari Senin pekan depan.
"Kemudian selanjutnya kami juga minggu depan sudah mulai memanggil entitas-entitas yang kami indikasikan berdasarkan kajian sementara dari citra satelit berkontribusi memperparah dari bencana banjir ini. Jadi kami telah melakukan surat panggilan, jadi hari Senin kami harap mereka datang untuk menjelaskan sesuatunya," tegasnya.
Salah satu temuan spesifik yang menjadi sorotan utama adalah praktik pembukaan kebun sawit. Kebijakan zero burning (tanpa bakar) yang selama ini diterapkan justru meninggalkan 'bom waktu'.
Tumpukan kayu (log) sisa pembukaan lahan yang hanya disingkirkan ke tepi, berubah menjadi proyektil perusak masif saat tersapu oleh arus banjir bandang yang dahsyat.
Baca Juga: Pakai Citra Satelit, Pemerintah Buru Terduga di Balik Kayu Gelondongan Banjir Sumatra
"Kemudian ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log. Karena memang kan zero burning, sehingga kayu itu tidak dibakar tapi dipingkirkan. Ternyata banjirnya yang cukup besar mendorong itu menjadi bencana berlipat-lipat. Ini juga kami akan cek, jadi semua potensi akan kami cek," jelas Hanif.
Fokus investigasi tahap awal akan diarahkan ke kawasan Batang Toru, Sumatera Utara. Menurut Hanif, lanskap wilayah ini secara geografis sangat rentan, berbentuk seperti huruf "V" di mana air dari segala penjuru berkumpul di area tengah yang padat permukiman.
Ironisnya, wilayah hulu yang seharusnya berfungsi sebagai benteng pertahanan alami berupa hutan penyangga, justru telah beralih fungsi secara masif.
"Karena berdasarkan kajian peta satelit kami, di bagian hulu yang harusnya berupa hutan, ini fungsinya secara tata ruang justru kepada pertanian lahan kering dan pertanian basah. Padahal tempatnya di puncak ya, sehingga begitu terjadi bencana seperti ini," paparnya.
Data KLHK menunjukkan skala kerusakan yang mengkhawatirkan. Dari total 340 ribu hektare di kawasan tersebut, sekitar 50 ribu hektare di bagian hulu kini telah menjadi lahan kering tanpa tegakan pohon.
"Tidak ada pohon di atasnya, sehingga begitu hujan sedikit, ya sudah kita bayangkan," tambah Hanif.
Berita Terkait
-
Pakai Citra Satelit, Pemerintah Buru Terduga di Balik Kayu Gelondongan Banjir Sumatra
-
PT Toba Pulp Lestari Milik Siapa? Pernah Ditutup Gus Dur, Disorot Imbas Banjir Sumatera
-
Waspada! Ratusan Pengungsi Banjir Sumatra Diserang Demam, Ini Biang Keroknya
-
Tragedi Banjir Sumbar: 161 Jenazah Dikenali, Puluhan Lainnya Masih 'Tanpa Nama', Mayoritas Anak-anak
-
Hati Ivan Gunawan Tergerak, Salurkan Rp150 Juta untuk Korban Banjir Sumatera Lewat Mandjha Hijab
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
Terkini
-
PPA Sulsel: Pelaku Kekerasan Anak Harus Diproses Hukum
-
Dampingi UMKM hingga Raih Izin Resmi, Inilah Upaya BRI Perkuat Ekonomi Lokal
-
Potret Akses Pendidikan di Aceh Barat, Guru dan Siswa Seberangi Sungai Lewat Kabel Baja
-
Cara Cabut Berkas Motor Terbaru, Ini Syarat dan Langkah Praktisnya Biar Nggak Ribet
-
Oppo Find X10 Series Dikabarkan Direvisi, Pro Max Berpotensi Gantikan Varian Ultra
-
Dikira Rehat Saat Cari Nafkah, Sopir Truk Tebu di Malang Ditemukan Meninggal dalam Kabin
-
Mengejar Pajak Motor Sampai Pertamina, Giliran Koruptor Hanya Kias Semata
-
4 Zodiak yang Menarik Keberuntungan Melimpah Hari ini 21 Juli 2026
-
Sering Delay? INACA Ungkap Mengapa Penerbangan di Indonesia Begitu 'Unik' dan Sulit Tepat Waktu
-
Leandro Paredes Cekik Pemain Spanyol, FIFA Janjikan Investigasi Mendalam