- Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menilai laporan polisi atas materi "Mens Rea" Pandji tidak perlu dan mencederai demokrasi.
- Abdullah menekankan kritik melalui komedi adalah hak konstitusional yang ruangnya harus tetap dijaga secara beretika.
- Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 8 Januari 2026 atas tuduhan pelanggaran beberapa pasal KUHP.
Suara.com - Polemik seputar materi stand up comedy "Mens Rea" milik komika Pandji Pragiwaksono yang berujung laporan polisi mendapat sorotan tajam dari parlemen.
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menilai langkah hukum tersebut tidak perlu dan menyebut kritik yang disampaikan melalui medium komedi adalah hal yang wajar dalam iklim demokrasi.
Menurutnya, membawa setiap perbedaan pendapat atau ketidaknyamanan terhadap sebuah karya seni ke kantor polisi justru dapat mencederai kesehatan demokrasi itu sendiri.
Ia memandang bahwa ruang untuk kritik, sekalipun disampaikan dengan gaya satir dan jenaka, harus tetap dijaga sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara.
“Kritik yang disampaikan melalui Mens Rea adalah hal yang wajar. Setiap warga negara berhak menyampaikan kritik, termasuk lewat medium seni dan komedi, selama dilakukan dengan baik dan beretika,” kata Abdullah di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Politisi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyayangkan tren di mana perbedaan pandangan kerap diselesaikan melalui jalur hukum.
Baginya, respons yang lebih elegan dan mendidik terhadap sebuah konten yang tidak disetujui adalah dengan melontarkan kritik tandingan atau membuka ruang diskusi publik, bukan dengan pembungkaman melalui laporan kepolisian.
Abdullah menegaskan bahwa adu argumen dan gagasan di ruang publik jauh lebih sehat ketimbang adu laporan yang berpotensi mengkriminalisasi ekspresi.
“Kalau ada pihak yang tidak suka atau merasa tidak sependapat dengan materi Mens Rea, cukup disampaikan kritiknya. Tidak perlu semua hal dibawa ke ranah hukum,” tegasnya.
Baca Juga: Giliran PBNU Tegaskan Pelapor Pandji Pragiwaksono Bukan Organ Resmi: Siapa Mereka?
Meski demikian, pembelaan terhadap kebebasan berekspresi ini tidak datang tanpa catatan. Abdullah, yang duduk di komisi yang membidangi hukum dan HAM, mengingatkan para seniman, termasuk komika, untuk tetap sadar akan adanya batasan etika dan tanggung jawab moral dalam setiap karya yang ditampilkan di hadapan publik.
Keseimbangan antara kebebasan mengkritik dan tanggung jawab untuk tidak melanggar batas-batas kepatutan harus menjadi pegangan.
Menurutnya, kritik yang cerdas dan beretika justru akan memperkuat pilar-pilar demokrasi, bukan meruntuhkannya.
“Kritik itu penting dan dijamin oleh konstitusi, tetapi etika juga harus dijaga. Kritik yang disampaikan secara santun dan bertanggung jawab justru akan memperkuat demokrasi kita,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Pandji Pragiwaksono secara resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Kamis, 8 Januari 2026. Laporan ini diinisiasi oleh Angkatan Muda Nahdatul Ulama (NU) yang berkolaborasi dengan Aliansi Muda Muhammadiyah.
Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP/B/166/I/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Dalam laporannya, pihak pelapor menuduh Pandji melanggar sejumlah pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yakni Pasal 300 dan/atau Pasal 301 serta Pasal 242 dan/atau Pasal 243 KUHP. Sebagai barang bukti, pelapor telah menyerahkan rekaman video yang berisi potongan materi dari pertunjukan stand up comedy "Mens Rea".
Berita Terkait
-
Giliran PBNU Tegaskan Pelapor Pandji Pragiwaksono Bukan Organ Resmi: Siapa Mereka?
-
PP Muhammadiyah Tegaskan Laporan Terhadap Pandji Pragiwaksono Bukan Sikap Resmi Organisasi
-
PDIP Kecam Pelaporan Terhadap Pandji ke Polisi: Bentuk Intimidasi dan Pembungkaman Suara Rakyat
-
Polda Hentikan Penyelidikan Kematian Diplomat Arya Daru, Keluarga Protes Alasan Polisi
-
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polisi Terkait Dugaan Penistaan Agama dalam Materi 'Mens Rea'
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Siasat Busuk Eks Anggota Ombudsman Yeka Hendra Bela Mafia CPO Terbongkar, Kini Resmi Masuk Bui!
-
Mendagri Pastikan Pascabencana Sumatera Masuk Tahap Pemulihan, Anggaran Rp100,1 Triliun Disiapkan
-
Renduk Pemulihan Pascabencana Himpun 11.512 Kegiatan, Ini Skala Prioritasnya
-
Standardisasi Kemasan Rokok, Kebijakan Kesehatan atau Ancaman Ekonomi Rakyat?
-
Tak Pandang Bulu! Bareskrim Akui Anggota Polisi Berinisial AFH Terseret Kasus Narkoba B Fashion
-
Sambil Terisak, Megawati Tegaskan Indonesia Haramkan Hubungan Diplomatik dengan Israel
-
Uang Negara Menguap Triliunan! Kejagung Didesak Bongkar Mafia di Balik Investasi Telkomsel ke GoTo
-
Geger! Kafe AfterHour di Poins Square Hangus Dilalap Sijago Merah, Satu Karyawan Jadi Korban
-
Teka-teki 9 Kotak Jam Mewah Fadia Arafiq, KPK Buru Sisa Rolex yang 'Hilang' dari Wadahnya
-
Waspada Lewat S. Parman! Begal Modus Polisi Gadungan Gentayangan, Tuduh Korban Bawa Narkoba