- Praktik pertanian tradisional masyarakat adat dinilai sebagai alternatif penting di tengah krisis pangan dan iklim, namun kurang data produktivitas.
- Studi menyoroti kesenjangan antara narasi dukungan dengan bukti ilmiah terukur mengenai skalabilitas dan produktivitas pertanian adat.
- Integrasi pertanian tradisional dan modern, didukung kebijakan serta investasi, dinilai krusial untuk ketahanan pangan dan lingkungan global.
Suara.com - Di tengah krisis iklim dan tekanan terhadap sistem pangan global, praktik pertanian tradisional masyarakat adat mulai kembali dilirik sebagai alternatif.
Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sistem seperti penanaman jagung, kacang, dan labu secara bersamaan mampu menjaga kesehatan tanah, mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati, serta mempertahankan pengetahuan ekologi tradisional.
Namun, di balik potensinya, masih ada persoalan mendasar: sejauh mana praktik ini bisa diterapkan dalam skala besar dan berkontribusi nyata terhadap kebutuhan pangan global.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Sustainable Food Systems menyoroti adanya kesenjangan antara narasi dukungan terhadap pertanian masyarakat adat dengan bukti ilmiah yang terukur.
Penelitian yang dilakukan oleh Kamaljit Sangha dari Charles Darwin University menemukan bahwa sebagian besar studi yang ada menekankan manfaat ekologis dan sosial, tetapi minim data kuantitatif terkait produktivitas dan skalabilitas.
“Ada nilai-nilai holistik yang selama ini tidak terlihat karena sistem pengukuran kita terlalu berfokus pada aspek ekonomi,” kata Sangha. Ia menilai, pengakuan terhadap nilai non-moneter—seperti ketahanan komunitas dan keberlanjutan lingkungan—perlu diperkuat agar mendapat perhatian kebijakan.
Di Antara Potensi dan Keterbatasan
Kajian terhadap 49 penelitian tentang masyarakat adat dan komunitas lokal menunjukkan bahwa praktik pertanian tradisional memiliki keunggulan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, kurangnya data empiris membuat pendekatan ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pertanian modern.
Padahal, tantangan ke depan semakin mendesak. Produksi pangan global diperkirakan harus meningkat hingga 35–56 persen pada 2050 untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia, tanpa memperluas lahan pertanian.
Baca Juga: Pemerintah Mau Stop Kran Impor Gula, Spekulan Siap Ambil Untung
Di saat yang sama, perubahan iklim terus menggerus produktivitas melalui penurunan kualitas tanah, hilangnya biodiversitas, dan perubahan nilai gizi.
Saat ini, sistem pangan global juga menyumbang sekitar 26 persen emisi gas rumah kaca, menjadikannya bagian dari masalah sekaligus kunci solusi.
Mencari Titik Temu
Studi ini tidak memposisikan pertanian tradisional dan modern sebagai dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, integrasi keduanya dinilai sebagai jalan tengah yang lebih realistis.
Pertanian masyarakat adat tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga berkontribusi secara ekonomi melalui cara yang tidak selalu tercatat dalam pasar—misalnya dengan mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk makanan, obat, dan kebutuhan lainnya.
Namun, faktor historis seperti kolonialisme turut memperlemah praktik ini. Banyak pengetahuan tradisional yang hilang atau tergeser oleh sistem pangan modern, sehingga keberlanjutannya terancam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
Terkini
-
Indonesia Siapkan Draft Element Paper untuk Perbaiki Tata Kelola Royalti Digital Global
-
Uni Emirat Arab: Amerika Harus Tuntaskan Iran, Tak Boleh Gencatan Senjata
-
Tergiur Penggandaan Black Dollar, WNA Korea Tertipu Duo Liberia di Jakarta
-
1.251 Dapur MBG Kena Sanksi, DPR Desak Pengawasan dan Sertifikasi Diperketat
-
Transformasi Pengelolaan Kendaraan Operasional: Dari Beli ke Sewa
-
Karena Ini, Pengacara Eks Wamenaker Noel Tuding KPK Tebang Pilih
-
Perdagangan Kayu Ilegal Masih Marak, Bisakah Sains Forensik Jadi Solusi?
-
Berawal dari Perkelahian Adik, Pemuda di Maluku Tewas Dipukul Prajurit TNI
-
Kapal Pertamina Tak Bisa Lewat Selat Hormuz, DPR Dorong Pemerintah Lakukan Diplomasi ke Iran
-
Aziz Yanuar Ungkap Noel Ajukan Penahanan Rumah untuk Uji Konsistensi Penegakan Hukum