- Penyiraman air keras pada aktivis KontraS diindikasi sebagai upaya pelemahan sistemik dan "kudeta merayap" terhadap Presiden.
- Mantan intelijen menyarankan Presiden melakukan pembersihan internal untuk mengatasi dualisme loyalitas di lingkaran kekuasaan terdekat.
- Diperlukan evaluasi dan pergantian pejabat strategis seperti Kapolri atau Panglima TNI untuk memulihkan legitimasi publik.
Suara.com - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS dinilai bukan sekadar tindak kriminal, melainkan bagian dari dinamika kekuasaan yang lebih kompleks. Mantan intelijen negara, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, melihat adanya indikasi ancaman sistemik yang mengarah pada pelemahan pemerintahan dari dalam.
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Sri menyampaikan bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks politik kekuasaan yang tengah berlangsung.
“Kalau saya mencermati ini ada sasarannya adalah dalam rangka pembusukan Presiden, dan juga ini langkah-langkah apa namanya kudeta merayap,” ujarnya, dikutip Selasa (31/3/2026).
Menurut Sri, pola yang terjadi menunjukkan adanya akumulasi tekanan yang tidak bersifat langsung, tetapi perlahan melemahkan legitimasi pemerintahan. Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk krisis multidimensional yang berpotensi menjatuhkan kekuasaan tanpa konfrontasi terbuka.
“Kita lihat bahwa begitu multidimensional ancaman ini... negara kekuasaan ini jatuh bukan karena ada satu kekuatan bersenjata, tapi akumulasi dari krisis-krisis,” katanya.
Desakan Pembersihan Lingkar Kekuasaan
Sri menilai respons Presiden sejauh ini belum menyentuh akar persoalan. Menurutnya, kemarahan atau kekecewaan saja tidak cukup tanpa langkah struktural yang tegas.
“Seharusnya Presiden melaksanakan langkah-langkah vetting, pembersihan di lingkungan terdekatnya... yang masih berafiliasi dengan kekuatan lama,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa persoalan utama terletak pada adanya dualisme loyalitas di dalam institusi negara, yang membuka ruang bagi konflik kepentingan.
Baca Juga: Pesan Haru Keluarga Andrie Yunus di DPR: Orang Lampung Itu Pelampung Penyelamat Demokrasi
“Presiden juga harus melihat di mana kemungkinan kerawanan-kerawanan ini, termasuk potensi dualisme loyalitas,” kata Sri.
Dalam perspektif intelijen, kondisi tersebut dinilai berbahaya karena dapat mengganggu soliditas komando dan efektivitas pengambilan keputusan di tingkat tertinggi.
Presiden Dinilai Terisolasi
Sri menyebut adanya kemungkinan kesinambungan kepentingan dengan kekuasaan lama. Ia menilai warisan kekuasaan dari pemerintahan sebelumnya di bawah Joko Widodo masih kuat memengaruhi struktur saat ini. Kondisi tersebut membuat Presiden seolah bekerja sendiri tanpa dukungan optimal dari jajaran pembantunya.
“Ujung-ujungnya Presiden hari ini seperti kesepian. Semua persoalan ditangani sendiri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung adanya hambatan komunikasi di sekitar Presiden yang menyebabkan informasi penting tidak tersampaikan secara utuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis