- Rosikin (50) mencari nafkah di Kramat Pulo, Jakarta Pusat, mengumpulkan sisa kelapa busuk menjadi kopra dengan harga Rp7.000/kg.
- Ia dulunya teknisi komputer di institusi bergengsi, beralih profesi karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan.
- Rosikin kini menghadapi masalah kesehatan akibat paparan asap pembakaran batok kelapa menjadi arang, demi menyambung hidup keluarga.
Siapa sangka, pria yang kini berlumur debu arang ini punya masa lalu yang jauh berbeda. Lima tahun lalu, Rosikin adalah seorang teknisi komputer. Tangannya terbiasa menyentuh sirkuit canggih, bukan batok kelapa.
Bahkan, ia pernah menangani proyek di institusi bergengsi.
“Terakhir di BI (Bank Indonesia),” kenangnya sambil terus memilah kelapa.
Nasib berubah ketika gelombang industri menghantam perusahaan kecil tempatnya bernaung.
“Kan PT-nya pada bangkrut. PT yang kecil-kecilnya bangkrut, kalah sama vendor yang gede. Jadi ya nggak dipekerjakan lagi,” ucap Rosikin tanpa nada sesal, melainkan sebuah penerimaan atas realitas.
Kini, setiap hari ia harus melaju dari Cikarang menggunakan kereta api. “Naik kereta dari Cikarang. Turun di Sentiong,” jelasnya.
Dari seorang teknisi menjadi pekerja informal di pinggir rel adalah lompatan hidup yang ekstrem. Tubuhnya kini menjadi saksi kerasnya kerjaan barunya.
“Capeknya lebih parah ini daripada kerja teknisi. Kalau teknisi kan capek di jalan, muter-muter doang. Kalau ini kan emang kena panas,” akunya.
Namun, di usia kepala lima, pilihan baginya adalah kemewahan yang tak lagi ia miliki. “Dari usia kan enggak bakalan mau orang,” ujarnya lirih.
Baca Juga: Akhirnya Diperbaiki, 'Jebakan Batman' Jalan Juanda Depok yang Bikin Celaka Pengendara
Cinta di Antara Karung Arang
Di balik ketangguhan Rosikin, ada Eliatun, sang istri yang setia mendampingi. Perempuan asal Brebes itu mengenang pertemuan mereka kembali di Jakarta dengan mata yang berkaca-kaca, teringat betapa drastisnya perubahan suaminya.
“Pas ketemu ya… kasihan banget. Kerja dulu kan dia teknisi, tapi kok dekil banget ya Allah,” kenang Eliatun sembari tersenyum kecut.
Pasangan yang menikah tanpa proses pacaran ini telah melewati dua dekade bersama. Bagi mereka, kemewahan bukan lagi soal harta, melainkan perut anak-anak yang terisi.
“Yang penting anak di rumah tuh makan enak, di sini dia susah yang penting anak istri tuh di sona enak,” ujar Eliatun menirukan prinsip hidup suaminya.
Namun, ada harga kesehatan yang harus dibayar mahal. Paparan asap pembakaran selama bertahun-tahun mulai menggerogoti tubuh Rosikin.
“Batuk terus… udah sebulan nggak sembuh-sembuh,” kata Eliatun. Air matanya perlahan luruh, meski ia mencoba tersenyum malu untuk menutupinya. Ia kini hanya bermimpi bisa membawa suaminya pulang ke Brebes untuk berobat. “Pengen sehat aja,” ucapnya lirih.
Mimpi yang Tersisa
Di sebuah warung kecil yang dipenuhi tumpukan karung arang—dari yang berat hingga plastik kresek merah eceran—keluarga ini menggantungkan harapan pada generasi berikutnya.
Sambil duduk di atas karpet bergambar di bawah hembusan kipas angin dinding, Eliatun menceritakan tentang kedua putranya. Si bungsu masih SMP, sementara si sulung tengah berjuang mencari kerja demi mengejar mimpi masa kecilnya.
“Cita-citanya dari kecil… pengen masinis,” kata Eliatun. Sebuah impian yang ironis sekaligus indah, mengingat ayahnya menghabiskan hari-hari justru di bawah deru kereta yang melintas.
Kisah Rosikin adalah potret tentang adaptasi. Tentang seorang manusia yang menolak menyerah meski keadaan menghempasnya dari ruang kantor yang nyaman ke kerasnya pinggir rel. Baginya, hidup bukan tentang meratapi masa lalu, melainkan tentang terus melangkah—sekalipun jalan itu dipenuhi debu dan asap arang.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Pramoedya dan Cerita Calon Arang: Pintu Masuk Menuju Dunia Sang Maestro
-
Breaking News! Pesawat Bonanza TNI AL Dikabarkan Kecelakaan di Runway Bandara Juanda
-
Akhirnya Diperbaiki, 'Jebakan Batman' Jalan Juanda Depok yang Bikin Celaka Pengendara
-
Bikin Pemotor Jatuh, Menyoal Kualitas Perbaikan Jalan Juanda Depok yang Cepat Rusak Total
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil
-
Ingin Setia: Debut Aziz Padurasta yang Meleburkan Reggae, Rock, dan Punk
-
Tren Botox Meningkat, Ini Pentingnya Memastikan Perawatan Dilakukan Sesuai Standar Medis
-
Sadar Kebijakan Tak Bisa Bahagiakan Semua Pihak, Rudy Susmanto Janji Terus Pembenahan di Bogor
-
Judi Online Kamboja Pakai Pulsa Buat Transaksi Rp890 M, 8 Markasnya Digerebek Bareskrim
-
Dasco Bicara Soal Rencana Dwikewarganegaraan Terbatas, Fasilitasi Diaspora Potensial
-
1.584 Personel Pasukan Gabungan Gelar Apel Kebangsaan di Bogor, Ada Apa?
-
Luruskan Pidato Prabowo, Mendikdasmen Jelaskan Soal Bahasa Asing Wajib Sejak SD