- Mantan anggota BAIS TNI, Sri Radjasa Chandra, menduga kasus penyiraman Andrie Yunus merupakan operasi liar di luar institusi resmi.
- Operasi tersebut dinilai tidak memenuhi kaidah intelijen profesional, mengindikasikan lemahnya kontrol internal dan penyalahgunaan aparat.
- Sri mendorong mekanisme peradilan independen, seperti pengadilan koneksitas, untuk mengusut kasus secara transparan dan objektif.
Suara.com - Mantan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra mengungkap adanya dugaan operasi liar di balik kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Hal itu diungkap Sri dalam podcast Madilog bertajuk "ANCAMAN DI PEKARANGAN RUMAH PRABOWO' yang diunggah akun YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (31/3/2026).
Sri menilai peristiwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus tidak mencerminkan operasi intelijen resmi, melainkan indikasi operasi liar di luar kendali institusi.
“Saya mencurigai bahwa ini adalah bukan sepenuhnya operasi militer operasi intelijen... ini adalah operasi liar... rogue operation,” ungkapnya dikutip Suara.com.
Dalam praktik intelijen, Sri menyebut setiap operasi memiliki standar ketat, mulai dari kualitas personel hingga sistem pengamanan. Namun, hal tersebut justru tidak terlihat dalam kasus ini.
“Sudah menyalahi syarat-syarat dan kaidah-kaidah operasi intelijen... kualitas personel, kemudian kerahasiaan tidak ada, pengamanan tidak ada,” katanya.
Menurutnya, kegagalan memenuhi prinsip dasar tersebut menunjukkan bahwa operasi ini tidak dirancang secara profesional dalam kerangka institusional.
Keterlibatan anggota Denma BAIS TNI, lanjut Sri, memunculkan tanda tanya besar karena dinilai tidak sesuai dengan kaidah operasi intelijen. Dalam analisisnya, kondisi ini tidak lepas dari lemahnya kontrol internal serta adanya celah dalam rantai komando.
“Ketika dikatakan bahwa pelakunya adalah anggota Denma BAIS TNI, kemudian di dalam pikiran saya ada tanda tanya besar… Bahwa kemungkinan ini adalah operasi liar ya yang berada di luar garis komando formal,” ujarnya.
Baca Juga: Jaksa Agung Didesak Turun Tangan Seret Penyiram Air Keras Andrie Yunus ke Peradilan Umum
“Tentunya ada satu kekuatan besar... yang kemudian memanfaatkan petinggi TNI untuk menggunakan BAIS TNI secara tidak sehat, secara liar,” tambah Sri.
Sri juga menyoroti adanya indikasi operasi di luar prosedur resmi yang melibatkan aparat intelijen dan diarahkan untuk membentuk opini publik yang mendiskreditkan Presiden.
“BAIS kecolongan… ada operasi yang di luar format operasi yang dilaksanakan oleh BAIS tapi menggunakan aparat BAIS… kemudian untuk dibuka di hadapan publik dalam rangka mendiskreditkan Presiden,” beber Sri.
Salah satu poin paling krusial yang disampaikan Sri adalah dugaan bahwa operasi tersebut sengaja didesain untuk gagal dan kemudian diangkat ke ruang publik.
“Ada indikasi memang sengaja dibuat gagal... untuk diblow up,” tuturnya.
Ia juga menilai kegagalan yang terlalu mencolok justru menimbulkan kecurigaan bahwa ada motif strategis di baliknya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan