- Pengamat HI UGM menyatakan kesepakatan gencatan senjata AS-Iran memicu ketidakpastian keamanan serta melemahkan posisi militer Israel di Timur Tengah.
- Pemerintah Israel terancam mengalami krisis politik domestik karena ketergantungan besar mereka terhadap dukungan militer Amerika Serikat kini berkurang.
- Iran diprediksi menjadi pemenang strategis pascakonflik yang meningkatkan pengaruhnya serta menguasai jalur vital perdagangan minyak di Selat Hormuz.
Suara.com - Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diprediksi akan membawa dampak signifikan bagi peta politik domestik Israel.
Pengamat hubungan internasional (HI) UGM, Muhadi Sugiono, menilai Israel kini berada dalam posisi yang cukup mengkhawatirkan. Hal ini mengingat ketergantungan militer mereka terhadap dukungan Washington.
"Nah, ada kemungkinan Netanyahu akan terguling juga dan muncul pemimpin-pemimpin seperti dari Partai Buruh yang dulu selalu bisa membawa perdamaian dengan Palestina, lebih lunak terhadap Iran, dan sebagainya," kata Muhadi kepada Suara.com, Rabu (8/4/2026).
Menurut Muhadi, selama ini Israel selalu memandang Iran sebagai ancaman terbesar di kawasan Timur Tengah.
Pasalnya, Iran berada pada posisi yang berbeda dengan negara-negara Teluk lainnya, dalam hal tidak memiliki kemampuan bahkan kemauan untuk memimpin atau berkata tidak kepada negara-negara besar seperti Amerika atau Israel.
"Maka Israel ingin Iran itu enyah. Namun, ketidakberanian Israel untuk menghadapi Iran sendirian membuat mereka selalu berupaya menarik keterlibatan militer AS dalam konflik tersebut," ujarnya.
Muhadi menambahkan bahwa di bawah kepemimpinan Donald Trump, Israel sebenarnya sempat merasa berhasil usai AS terlibat secara militer menyerang Iran.
Namun, karakter Trump yang ia ibaratkan sebagai pebisnis tanpa strategi jangka panjang justru menimbulkan ketidakpastian bagi masa depan pertahanan Israel.
Situasi saat ini menunjukkan bahwa Iran justru muncul sebagai pihak pemenang dalam perang, sementara AS memilih untuk mundur melalui kesepakatan gencatan senjata. Hal ini, kata Muhadi, menjadi ketakutan terbesar bagi pemerintahan Israel saat ini.
Baca Juga: Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
"Israel takutnya adalah ternyata Iran bukan hanya tidak lumpuh, tetapi tetap bertahan dan bahkan Amerika yang mundur," ungkapnya.
Mundurnya dukungan penuh AS di medan tempur diprediksi akan mengubah konstelasi domestik di Israel.
"Ya, kalau AS tidak ada di belakang Israel, Israel tidak akan berani. Kemudian juga balasan dari Iran ke Israel sudah menimbulkan sikap di masyarakat Israel untuk tidak melanjutkan sikap agresif itu," ucapnya.
Dalam tatanan baru pascakonflik ini, Muhadi memandang Iran sebagai pemenang strategis yang kini memegang kendali penuh, termasuk atas jalur vital Selat Hormuz.
"Apalagi kalau sekarang Amerika sudah menyepakati kesepakatan yang diajukan oleh Iran, itu nanti akan merembet karena Iran sebagai pemenang perang dalam kasus ini," tegasnya.
Berita Terkait
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Hasil Lengkap Investigasi PBB soal TNI Tewas karena Proyektil Israel
-
Ke Mana Mojtaba Khamenei Setelah Gencatan Senjata AS - Iran?
-
Usai Pernyataan Gencatan Senjata, Trump Dikhawatirkan Berubah Pikiran Lagi
-
Donald Trump Murka ke CNN karena Beritakan Kemenangan Iran: Kalian Jahat
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Kemasan Rokok Seragam Berisiko Tabrak UU Merek, Wamenkum: Jangan Over Regulation!
-
Sebut Polri Paling Korup, Burhanuddin Muhtadi Bongkar Kelemahan Survei IndexMundi
-
Jalan Cinta Amblas Nyaris 90 Derajat, DKI Bongkar Pemicunya: Tanggul Kali Sunter Retak!
-
Isi Amplop Menhut Raja Juli Masih Misteri, KPK Duga Suap Hutan Kuansing Pakai Dolar Singapura
-
Jokowi Mau Jadikan Jateng 'Kandang Gajah', Gerindra: Bagus, Kompetisi Politik Makin Sehat!
-
Bupati Kuansing Diduga Kumpulkan Duit dari 914 Anggota KUD untuk Suap Pelepasan Hutan
-
Aksi Bersih-bersih atau Cari Aman, Kenapa Menhut Raja Juli Baru Lapor Amplop Usai OTT KPK?
-
Eks Pimpinan KPK Sebut Menhut Raja Juli Akal-akali Balikin Amplop: Tetap Suap, Bisa Jadi Tersangka
-
Kader PSI Kalsel Desak Jokowi Segera Dilantik Jadi Ketua Dewan Pembina, Begini Respons Kaesang
-
Duet 'Indonesia Emas 2045' dan 'India Maju 2047', PM Narendra Modi: Kita Mitra Alami