News / Nasional
Rabu, 08 April 2026 | 13:20 WIB
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. [Instagram/@b.netanyahu]
Baca 10 detik
  • Pengamat HI UGM menyatakan kesepakatan gencatan senjata AS-Iran memicu ketidakpastian keamanan serta melemahkan posisi militer Israel di Timur Tengah.
  • Pemerintah Israel terancam mengalami krisis politik domestik karena ketergantungan besar mereka terhadap dukungan militer Amerika Serikat kini berkurang.
  • Iran diprediksi menjadi pemenang strategis pascakonflik yang meningkatkan pengaruhnya serta menguasai jalur vital perdagangan minyak di Selat Hormuz.

Suara.com - Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diprediksi akan membawa dampak signifikan bagi peta politik domestik Israel.

Pengamat hubungan internasional (HI) UGM, Muhadi Sugiono, menilai Israel kini berada dalam posisi yang cukup mengkhawatirkan. Hal ini mengingat ketergantungan militer mereka terhadap dukungan Washington.

"Nah, ada kemungkinan Netanyahu akan terguling juga dan muncul pemimpin-pemimpin seperti dari Partai Buruh yang dulu selalu bisa membawa perdamaian dengan Palestina, lebih lunak terhadap Iran, dan sebagainya," kata Muhadi kepada Suara.com, Rabu (8/4/2026).

Menurut Muhadi, selama ini Israel selalu memandang Iran sebagai ancaman terbesar di kawasan Timur Tengah.

Pasalnya, Iran berada pada posisi yang berbeda dengan negara-negara Teluk lainnya, dalam hal tidak memiliki kemampuan bahkan kemauan untuk memimpin atau berkata tidak kepada negara-negara besar seperti Amerika atau Israel.

"Maka Israel ingin Iran itu enyah. Namun, ketidakberanian Israel untuk menghadapi Iran sendirian membuat mereka selalu berupaya menarik keterlibatan militer AS dalam konflik tersebut," ujarnya.

Muhadi menambahkan bahwa di bawah kepemimpinan Donald Trump, Israel sebenarnya sempat merasa berhasil usai AS terlibat secara militer menyerang Iran.

Namun, karakter Trump yang ia ibaratkan sebagai pebisnis tanpa strategi jangka panjang justru menimbulkan ketidakpastian bagi masa depan pertahanan Israel.

Situasi saat ini menunjukkan bahwa Iran justru muncul sebagai pihak pemenang dalam perang, sementara AS memilih untuk mundur melalui kesepakatan gencatan senjata. Hal ini, kata Muhadi, menjadi ketakutan terbesar bagi pemerintahan Israel saat ini.

Baca Juga: Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan

"Israel takutnya adalah ternyata Iran bukan hanya tidak lumpuh, tetapi tetap bertahan dan bahkan Amerika yang mundur," ungkapnya.

Mundurnya dukungan penuh AS di medan tempur diprediksi akan mengubah konstelasi domestik di Israel.

"Ya, kalau AS tidak ada di belakang Israel, Israel tidak akan berani. Kemudian juga balasan dari Iran ke Israel sudah menimbulkan sikap di masyarakat Israel untuk tidak melanjutkan sikap agresif itu," ucapnya.

Dalam tatanan baru pascakonflik ini, Muhadi memandang Iran sebagai pemenang strategis yang kini memegang kendali penuh, termasuk atas jalur vital Selat Hormuz.

"Apalagi kalau sekarang Amerika sudah menyepakati kesepakatan yang diajukan oleh Iran, itu nanti akan merembet karena Iran sebagai pemenang perang dalam kasus ini," tegasnya.

Load More