News / Internasional
Rabu, 08 April 2026 | 13:36 WIB
Selat Hormuz
Baca 10 detik
  • Koalisi 30 negara merancang strategi militer untuk membuka kembali akses pelayaran Selat Hormuz.

  • Inggris memimpin tekanan internasional terhadap Iran guna mengakhiri blokade jalur energi global.

  • Eskalasi militer Iran-Israel memicu lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya distribusi minyak dunia.

Pada tahap awal, dukungan kuat datang dari negara-negara berpengaruh seperti Prancis, Jerman, Italia, serta Belanda.

Negara dari kawasan Asia, yakni Jepang, juga turut memberikan komitmennya dalam mendukung inisiatif pembukaan jalur tersebut.

Keterlibatan banyak negara mencerminkan betapa vitalnya posisi Selat Hormuz bagi stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional.

Konflik fisik yang terjadi di daratan kini merembet pada keamanan jalur distribusi komoditas paling berharga di dunia.

Ketegangan militer yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah menjadi pemicu utama dari krisis pelayaran ini.

Situasi mulai memburuk secara signifikan pada akhir Februari lalu ketika serangan militer berskala besar terjadi.

Tepat pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Aksi militer tersebut memancing respons keras dari pihak Teheran yang segera melakukan tindakan balasan di lapangan.

Pihak Iran kemudian membalas aksi tersebut, dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Baca Juga: Ke Mana Mojtaba Khamenei Setelah Gencatan Senjata AS - Iran?

Saling balas serangan ini menciptakan efek domino yang melumpuhkan aktivitas komersial di sepanjang jalur Selat Hormuz.

Terhentinya operasional pengiriman di selat tersebut berdampak langsung pada ketersediaan cadangan energi masyarakat global.

Selat Hormuz dikenal luas sebagai jalur utama bagi pengiriman pasokan minyak serta LNG untuk pasar internasional.

Minimnya volume distribusi mengakibatkan stok bahan bakar di berbagai belahan dunia mengalami penyusutan yang tajam.

Akibat situasi tersebut, harga bahan bakar di sebagian besar negara melonjak.

Kenaikan harga ini memicu inflasi yang memberatkan masyarakat di banyak negara yang bergantung pada impor energi.

Load More