-
Koalisi 30 negara merancang strategi militer untuk membuka kembali akses pelayaran Selat Hormuz.
-
Inggris memimpin tekanan internasional terhadap Iran guna mengakhiri blokade jalur energi global.
-
Eskalasi militer Iran-Israel memicu lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya distribusi minyak dunia.
Pada tahap awal, dukungan kuat datang dari negara-negara berpengaruh seperti Prancis, Jerman, Italia, serta Belanda.
Negara dari kawasan Asia, yakni Jepang, juga turut memberikan komitmennya dalam mendukung inisiatif pembukaan jalur tersebut.
Keterlibatan banyak negara mencerminkan betapa vitalnya posisi Selat Hormuz bagi stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional.
Konflik fisik yang terjadi di daratan kini merembet pada keamanan jalur distribusi komoditas paling berharga di dunia.
Ketegangan militer yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah menjadi pemicu utama dari krisis pelayaran ini.
Situasi mulai memburuk secara signifikan pada akhir Februari lalu ketika serangan militer berskala besar terjadi.
Tepat pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Aksi militer tersebut memancing respons keras dari pihak Teheran yang segera melakukan tindakan balasan di lapangan.
Pihak Iran kemudian membalas aksi tersebut, dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Baca Juga: Ke Mana Mojtaba Khamenei Setelah Gencatan Senjata AS - Iran?
Saling balas serangan ini menciptakan efek domino yang melumpuhkan aktivitas komersial di sepanjang jalur Selat Hormuz.
Terhentinya operasional pengiriman di selat tersebut berdampak langsung pada ketersediaan cadangan energi masyarakat global.
Selat Hormuz dikenal luas sebagai jalur utama bagi pengiriman pasokan minyak serta LNG untuk pasar internasional.
Minimnya volume distribusi mengakibatkan stok bahan bakar di berbagai belahan dunia mengalami penyusutan yang tajam.
Akibat situasi tersebut, harga bahan bakar di sebagian besar negara melonjak.
Kenaikan harga ini memicu inflasi yang memberatkan masyarakat di banyak negara yang bergantung pada impor energi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina