News / Nasional
Kamis, 09 April 2026 | 06:17 WIB
Emak-emak yang tergabung dalam Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) di salah satu Desa di Lombok Timur, NTB. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)
Baca 10 detik
  • Wahana Visi Indonesia menginisiasi program ASKA di Lombok Timur untuk membantu pengelolaan keuangan ibu rumah tangga nelayan.
  • Anggota ASKA rutin menabung melalui sistem saham setiap bulan untuk keperluan hari raya dan dana bantuan sosial.
  • Program ini berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota sekaligus menjadi sarana dukungan sosial saat para suami sedang melaut.

"Ada yang minjam ada bunganya. Nantinya kita bagi bersama," kata dia.

Sejumlah anggota Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) di salah satu Desa di Lombok Timur, NTB. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)

Benteng Sosial Saat Suami Melaut

Lebih dari sekadar simpan pinjam, ASKA menjadi ruang aman bagi para istri nelayan. Mengingat suami mereka kerap pergi melaut hingga 15 hari lamanya, para ibu ini harus saling mengandalkan satu sama lain.

"Karena di sini jarang ada laki-laki, makanya kita senang sering kumpul sama ibu-ibu," ucap Mastah.

"Kan suami kita 15 hari baru pulang, cuma 3-4 hari di rumah berangkat lagi," katanya menambahkan.

Ia menuturkan kebanyakan anggota di kelompok ini sudah seperti keluarga, di mana apabila ada anggota yang sakit akan diantar berobat oleh tetangga perempuan apabila suami sedang mencari ikan di laut.

"Gak ada anak lapar, kalau ibu pergi bapak gak ada minta bantuan ke kita," kata dia.

Selain itu mereka memastikan jika nantinya sudah tidak didampingi oleh WVI maka 'tabungan saham' yang kekinian sudah berjalan dua tahun akan terus dilanjutkan.

"Tetap lanjut. Serunya tuh pas mau pembagian buat beli baju lebaran, dan kita bisa bukber sama kelompok, seru kumpul," kata dia.

Baca Juga: Bukan Kekenyangan, Tiga Alasan Ini Bikin Siswa Ogah Habiskan Makan Bergizi Gratis

Perbedaan Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) dengan simpan pinjam lain. (Foto dok. WVI)

Kehadiran ASKA juga menjadi oase di tengah ancaman rentenir atau yang warga lokal sebut sebagai "bank rontok". Sebelum ada program ini, ada warga desa terjerat pinjaman cepat dengan bunga selangit yang justru mencekik ekonomi mereka.

"Bunganya besar di bank rontok. Kalau pinjam ke sana Rp1 juta misal, tapi gak dapat Rp1 juta, dan ada bunga di bank rontok," kata dia.

Project Coordinator MARVEL East Lombok, Maria Natalia Pratiwi, menuturkan di desa ini pihaknya membina 5 kelompok ASKA.

Sejak awal memang kata dia, sudah dibuat aturan atau SOP ada batasan pembelian saham di setiap bulannya, tujuannya agar tidak ada dominasi antara anggota satu dengan yang lain. Setiap pembelian saham juga akan tercatat dalam buku oranye tabungan saham.

"Minimal satu setiap kali pertemuan Rp10 ribu, maksimal Rp100 ribu agar gak dominan, dibagikan tergantung kesepakatan," katanya.

Selain itu untuk satu kelompok ASKA dibatasi, maksimal hanya boleh berisikan 25 anggota.

Load More