News / Nasional
Jum'at, 10 April 2026 | 13:30 WIB
Ilustrasi taman multifungsi di tengah kota (Freepik)

Suara.com - Upaya mengatasi banjir di kawasan perkotaan seperti Jabodetabek selama ini masih didominasi pendekatan konvensional, yakni mengalirkan air secepat mungkin ke laut. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup efektif dalam menghadapi intensitas hujan ekstrem yang kian meningkat.

Produksi kebijakan dan perencanaan kota pun mulai dipertanyakan: bagaimana cara mengoptimalkan ruang terbuka hijau agar tidak hanya menjadi elemen estetika, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen teknis untuk mengurangi beban infrastruktur drainase?

Isu ini menjadi sorotan dalam diskusi Media Advisory bertajuk “Mengelola Risiko Banjir: Politik Kebijakan, Tata Ruang, dan Adaptasi di Kota-kota Pesisir di Indonesia” yang digelar di kantor WRI, Rabu (8/4/2026).

Mengenal Konsep Nature-based Solutions (NbS)

Salah satu pendekatan yang mengemuka adalah Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam. Research Specialist WRI Indonesia, Yudhistira Pribadi, menjelaskan bahwa NbS merupakan pendekatan yang memanfaatkan proses alami untuk menjawab persoalan lingkungan, termasuk mitigasi banjir.

Meskipun sering dianggap sebagai konsep baru, prinsip dasar NbS sebenarnya telah lama dikenal dan disebut sebagai reboisasi.

Namun, dalam konteks urban yang wilayahnya sudah terbangun, implementasi NbS memerlukan pemetaan teknis yang lebih kompleks untuk mengintegrasikan elemen alam ke dalam ruang kota yang terbatas.

Taman yang "Sengaja Dibanjirkan"

Salah satu bentuk implementasi NbS yang disoroti adalah Green Open Space Multifunction atau taman multifungsi. Konsep ini menawarkan penggunaan lahan ganda sebagai ruang publik dan area rekreasi pada saat cuaca normal, tapi secara teknis juga dirancang sebagai kolam retensi atau penyimpanan air sementara saat terjadi hujan ekstrem.

Baca Juga: Investasi untuk Anak Cucu Lewat Mangrove, Cara Warga Pesisir Lombok Timur Cegah Banjir Rob

Yudhis memaparkan bahwa inovasi ini berfungsi sebagai pelengkap infrastruktur yang sudah ada. "Ini bisa lebih efektif ketika dikombinasikan dengan taman-taman multifungsi untuk menambah kapasitas penyimpanan air sementara dan melengkapi pendekatan berbagai macam infrastruktur pengendalian banjir yang sudah ada," ungkapnya.

Dengan menahan air lebih lama di permukaan tanah melalui area hijau ini, beban pada saluran air di wilayah hilir dapat dikurangi, sehingga risiko luapan yang menyebabkan banjir dapat diminimalisir.

Menahan Bukan Sekadar Mengalirkan

Diskusi ini juga menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam manajemen air nasional. Selama ini, pendekatan yang dilakukan cenderung hanya fokus pada upaya membuang air secepat mungkin ke laut (water conveyance). Oleh karena itu, NbS menawarkan strategi yang berbeda dengan melibatkan faktor alam secara aktif.

"Kita mencoba untuk melihat bahwa mungkin ini bisa digeser dari pendekatan mengalirkan air, jadi pendekatan untuk menahan air semaksimal mungkin bertahap dari hulu ke hilir, dengan melibatkan faktor alam juga," kata Yudhis menekankan pentingnya perubahan pola pikir tersebut.

Tantangan Tata Ruang 

Load More