Suara.com - Upaya mengatasi banjir di kawasan perkotaan seperti Jabodetabek selama ini masih didominasi pendekatan konvensional, yakni mengalirkan air secepat mungkin ke laut. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup efektif dalam menghadapi intensitas hujan ekstrem yang kian meningkat.
Produksi kebijakan dan perencanaan kota pun mulai dipertanyakan: bagaimana cara mengoptimalkan ruang terbuka hijau agar tidak hanya menjadi elemen estetika, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen teknis untuk mengurangi beban infrastruktur drainase?
Isu ini menjadi sorotan dalam diskusi Media Advisory bertajuk “Mengelola Risiko Banjir: Politik Kebijakan, Tata Ruang, dan Adaptasi di Kota-kota Pesisir di Indonesia” yang digelar di kantor WRI, Rabu (8/4/2026).
Mengenal Konsep Nature-based Solutions (NbS)
Salah satu pendekatan yang mengemuka adalah Nature-based Solutions (NbS) atau solusi berbasis alam. Research Specialist WRI Indonesia, Yudhistira Pribadi, menjelaskan bahwa NbS merupakan pendekatan yang memanfaatkan proses alami untuk menjawab persoalan lingkungan, termasuk mitigasi banjir.
Meskipun sering dianggap sebagai konsep baru, prinsip dasar NbS sebenarnya telah lama dikenal dan disebut sebagai reboisasi.
Namun, dalam konteks urban yang wilayahnya sudah terbangun, implementasi NbS memerlukan pemetaan teknis yang lebih kompleks untuk mengintegrasikan elemen alam ke dalam ruang kota yang terbatas.
Taman yang "Sengaja Dibanjirkan"
Salah satu bentuk implementasi NbS yang disoroti adalah Green Open Space Multifunction atau taman multifungsi. Konsep ini menawarkan penggunaan lahan ganda sebagai ruang publik dan area rekreasi pada saat cuaca normal, tapi secara teknis juga dirancang sebagai kolam retensi atau penyimpanan air sementara saat terjadi hujan ekstrem.
Baca Juga: Investasi untuk Anak Cucu Lewat Mangrove, Cara Warga Pesisir Lombok Timur Cegah Banjir Rob
Yudhis memaparkan bahwa inovasi ini berfungsi sebagai pelengkap infrastruktur yang sudah ada. "Ini bisa lebih efektif ketika dikombinasikan dengan taman-taman multifungsi untuk menambah kapasitas penyimpanan air sementara dan melengkapi pendekatan berbagai macam infrastruktur pengendalian banjir yang sudah ada," ungkapnya.
Dengan menahan air lebih lama di permukaan tanah melalui area hijau ini, beban pada saluran air di wilayah hilir dapat dikurangi, sehingga risiko luapan yang menyebabkan banjir dapat diminimalisir.
Menahan Bukan Sekadar Mengalirkan
Diskusi ini juga menekankan perlunya pergeseran paradigma dalam manajemen air nasional. Selama ini, pendekatan yang dilakukan cenderung hanya fokus pada upaya membuang air secepat mungkin ke laut (water conveyance). Oleh karena itu, NbS menawarkan strategi yang berbeda dengan melibatkan faktor alam secara aktif.
"Kita mencoba untuk melihat bahwa mungkin ini bisa digeser dari pendekatan mengalirkan air, jadi pendekatan untuk menahan air semaksimal mungkin bertahap dari hulu ke hilir, dengan melibatkan faktor alam juga," kata Yudhis menekankan pentingnya perubahan pola pikir tersebut.
Tantangan Tata Ruang
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 5 HP Murah 5G di Bawah Rp2 Juta, Koneksi Kencang untuk Multitasking
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Kronologi Pemerasan Sahroni: Didatangi di DPR, Diminta Rp 300 Juta, Dijebak hingga Ditangkap!
-
KPK Bongkar Dugaan Perintah Fadia Arafiq: ASN Diminta Menangkan Perusahaan Tertentu di Proyek Pemkab
-
Serahkan Rp11,4 Triliun, Prabowo Sentil Oknum Birokrasi Nakal
-
Rumah Saksi Kasus Ijon Bekasi Dibakar, Eks Penyidik KPK: Teror Serius terhadap Pemberantasan Korupsi
-
Gantikan Anwar Usman Jadi Hakim MK, Liliek Prisbawono Punya Harta Rp5,9 Miliar
-
Pembahasan RUU Perampasan Aset Kembali Bergulir, Dinilai Tepat Usai KUHAP Baru Berlaku
-
Deddy Sitorus Respons Ajakan Gibran Ngantor di IKN: Dengan Senang Hati, Tapi Masalahnya...
-
Kronologi Ahmad Sahroni Diperas Rp 300 Juta oleh Oknum yang Mengatasnamakan KPK
-
Resmi Dilantik Jadi Ketua Ombudsman 20262031, Hery Susanto Siap Benahi Internal Lembaga
-
Tradisi Taklimat Prabowo Dinilai Perkuat Koordinasi Pemerintahan