News / Internasional
Rabu, 22 April 2026 | 17:08 WIB
Di tengah agresi militer AS yang kewalahan melawan Iran, Presiden Donald Trump justru sibuk bahas legalisasi narkoba psikedelik dan melontarkan candaan konyol di Ruang Oval. [IG/@realdonaldtrump]
Baca 10 detik
  • Donald Trump secara mengejutkan tandatangani perintah eksekutif untuk percepat legalisasi medis narkoba psikedelik di saat AS sedang terlibat konflik berat dengan Iran.
  • Sikap abai Trump terlihat jelas saat ia melontarkan candaan untuk meminta narkoba tersebut di Ruang Oval bersama Joe Rogan, yang menuai kritik publik.
  • Fokus aneh Washington pada obat psikedelik ini berbanding terbalik dengan ketangguhan militer Republik Islam Iran yang terus menggagalkan agresi AS di Timur Tengah.

Dorongan Riset Medis atau Kepentingan Sesaat?

Secara historis, tidak selalu mudah bagi para ilmuwan untuk melakukan penelitian tentang penggunaan medis psikedelik maupun menemukan terapi praktis berbasis bukti di Amerika Serikat.

Dua tahun yang lalu, FDA bahkan sempat menolak permohonan untuk menyetujui MDMA sebagai pengobatan PTSD dan dengan tegas meminta penelitian yang lebih mendalam.

Pada akhir tahun lalu, FDA juga memutuskan untuk tidak memberikan pertimbangan yang dipercepat untuk pengobatan psilocybin sintetis milik perusahaan Compass Pathways.

Walau begitu, perintah eksekutif baru dari Trump ini dianggap sebagai sebuah berita positif yang membawa angin segar bagi industri rintisan yang sedang berkembang pesat tersebut.

"Kami sangat senang melihat bahwa dasar dari perintah eksekutif tersebut adalah kebutuhan untuk memberikan pilihan pengobatan baru kepada pasien yang sangat membutuhkannya," kata CEO Compass Pathways, Kabir Nath.

Potensi Bahaya dari Tekanan Politik

Mason Marks menilai bahwa kebijakan kontroversial ini benar-benar mewakili pergeseran sikap terhadap psikedelik yang dapat berdampak jauh lebih besar di masa depan.

Di sisi lain, para ahli juga memperingatkan kemungkinan buruk bahwa tekanan dari Gedung Putih dapat membuat perawatan berisiko ini disetujui secara terburu-buru.

Baca Juga: Iran Serang Kapal Kontainer Dekat Selat Hormuz

"Itu adalah sebuah kekhawatiran. Itu tidak akan baik bagi siapa pun," ujar Marks mengingatkan.

"Hal ini benar-benar dapat memundurkan kemajuan yang telah dicapai," tambahnya untuk menyoroti bahaya intervensi politik dalam sains medis.

Presiden Trump secara blak-blakan mengakui bahwa perintah itu dipicu oleh obrolan santainya bersama pembawa acara siniar Joe Rogan tentang zat halusinogen bernama ibogaine.

Mengabaikan Geopolitik demi Zat Halusinogen

Obat psikedelik yang diturunkan dari akar semak Afrika ini memang telah dipelajari potensinya untuk membantu mengobati penderita PTSD dan cedera otak traumatis.

Meskipun demikian, ibogaine terbukti dapat menyebabkan aritmia jantung yang sangat fatal sehingga penelitiannya sempat dihentikan secara total di AS pada dekade 1990-an.

Load More