- Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Atang Pujiyanto, kini sedang menjalani proses penyelidikan atas dugaan pengurusan perkara.
- Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, mengonfirmasi bahwa Kejaksaan Agung sedang menindaklanjuti kasus tersebut pada Rabu, 13 Mei 2026.
- Penyelidikan ini merupakan tindak lanjut dari proses klarifikasi yang sebelumnya dilakukan oleh bidang pengawasan internal Kejaksaan Agung.
Suara.com - Kasus dugaan pengurusan perkara yang menyeret Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Atang Pujiyanto, disebut telah masuk tahap penyelidikan.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Syarief Sulaeman Nahdi, membenarkan bahwa kasus tersebut kini ditangani pihaknya.
“Kita pelajari dulu,” kata Syarief di Kejaksaan Agung, Rabu (13/5/2026).
Sebelum ditangani penyidik Gedung Bundar, perkara ini sebelumnya ditangani oleh Jaksa Agung Muda Pengawasan.
Syarief juga tidak menampik saat disinggung mengenai dimulainya proses penyelidikan dalam perkara tersebut.
“Iya, iya (lidik),” ucap Syarief.
Sebelumnya, Atang Pujiyanto menjalani pemeriksaan di Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan.
Pemeriksaan itu diduga berkaitan dengan penanganan perkara saat Atang menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Utara.
Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, Ketut Sumedana, juga membenarkan adanya pemeriksaan terhadap anak buahnya tersebut saat dikonfirmasi.
Baca Juga: Satgas PKH Setor Rp10,2 Triliun ke Kas Negara, Kejagung Klaim Selamatkan Jutaan Hektar Hutan
Menurut dia, proses yang berjalan saat ini masih berada pada tahap klarifikasi di bidang pengawasan.
“Iya benar, masih tahap klarifikasi di bidang pengawasan,” kata Ketut Sumedana pada Jumat (8/5/2026) lalu.
Berita Terkait
-
Satgas PKH Setor Rp10,2 Triliun ke Kas Negara, Kejagung Klaim Selamatkan Jutaan Hektar Hutan
-
Kejagung Pamerkan Tumpukan Uang Rp10,2 Triliun Setinggi 2 Meter Hasil Denda Kehutanan
-
Bukan 3 Orang, Ternyata Kejagung Kasasi 8 Bankir yang Divonis Bebas di Kasus Sritex
-
Kejagung Tak Terima 8 Bankir Sritex Divonis Bebas, Pastikan Tidak Paksakan Perkara!
-
Kejagung Klaim Sudah Lacak Keberadaan Jurist Tan Buron Kasus Chromebook
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Peringati Tragedi Mei 1998, Komnas Perempuan Ingatkan Sejarah Kelam Kekerasan Seksual Massal
-
Pemilahan Sampah di Jakarta Dinilai Butuh Sistem Data yang Lebih Terbuka, Mengapa?
-
Jakarta Barat Dikepung Dua Proyek Besar, Arus Daan Mogot dan Latumenten Direkayasa
-
Anggota DPR Kecewa Menhub Absen Rapat Kecelakaan Maut: Yang Punya Gawe Kok Nggak Hadir?
-
Sita 2,3 Juta Hektare Lahan dan Rp10,2 Triliun, Jaksa Agung: Ini Bukan Sekadar Seremonial!
-
Bidan Tak Boleh Terima Titipan Bayi Jangka Waktu Lama, Pemkab Sleman Bakal Perketat Pengawasan
-
Jaksa Ungkap Surat Tuntutan Nadiem Makarim Setebal 1.597 Halaman
-
Diselipkan Dalam Gulungan Karpet, Polisi Bongkar Penyelundupan 760 Botol Merkuri ke Filipina
-
Netizen Tagih Maaf Personal Juri LCC Kalbar, Pimpinan MPR: Institusi Sudah Mewakili
-
Polisi Menduga Merkuri yang Diselundupkan ke Filipina Berasal dari Tambang Gunung Botak