Suara.com - Relokasi masyarakat dari wilayah yang terdampak krisis iklim kerap dipandang sebagai solusi logis ketika suatu kawasan tak lagi aman untuk dihuni.
Namun, para peneliti dan pembuat kebijakan mengingatkan bahwa memindahkan warga bukan hanya soal menyediakan tempat tinggal baru, melainkan juga menyangkut pekerjaan, relasi sosial, hingga keterikatan emosional yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Isu tersebut mengemuka dalam peluncuran buku Climate Change, Labour and Migration in Indonesia yang digelar di Jakarta, Senin (19/5/2026). Dalam diskusi tersebut, sejumlah narasumber menyoroti kompleksitas relokasi sebagai salah satu bentuk adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Relokasi Tak Sekadar Memindahkan Rumah
Kepala Sub Bidang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Bidang Perencanaan Pembangunan Tahunan Bappeda DKI Jakarta, Andhika Ajie, mengatakan perpindahan penduduk tidak dapat dipahami hanya sebagai proses pemindahan fisik dari satu lokasi ke lokasi lain.
“Jadi untuk memindahkan penduduk itu enggak gampang, karena sudah sekian lama berada di sana. Namanya manusia ya kita punya keterikatan emosional dengan lokasi tempat tinggal mereka,” ujar Andhika.
Menurut dia, rumah bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Di dalamnya terdapat kenangan, hubungan sosial, dan rasa memiliki yang dibangun selama bertahun-tahun. Karena itu, kebijakan relokasi sering kali menghadapi resistensi meskipun wilayah yang ditempati semakin rentan terhadap banjir, kenaikan muka laut, atau bencana iklim lainnya.
Ketika Mata Pencaharian Ikut Hilang
Selain ikatan emosional, tantangan terbesar dalam relokasi adalah hilangnya sumber penghidupan warga. Banyak pekerjaan bergantung pada lokasi dan jaringan pelanggan yang telah dibangun dalam waktu lama.
Baca Juga: Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?
“Pekerjaan misalnya dulunya tambal ban. Begitu direlokasi, langganan kita taunya di sana,” kata Andhika.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani. Ia menilai pemerintah perlu memastikan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat setelah relokasi dilakukan.
“Ketika masyarakat berpindah, negara harus memikirkan tidak hanya sekadar berpindah, tetapi juga livelihood. Misalnya nelayan ketika diberikan lahan di gunung, mereka harus menjadi petani. Apakah mereka akan dilatih?” ujar Franky.
Menurutnya, tanpa jaminan pekerjaan dan peningkatan keterampilan, relokasi berisiko menciptakan kelompok masyarakat baru yang rentan secara ekonomi.
Perempuan Menanggung Beban Adaptasi Lebih Besar
Persoalan relokasi juga tidak dirasakan secara merata. Perempuan dinilai menjadi kelompok yang menghadapi beban adaptasi lebih besar karena harus memastikan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan di lingkungan yang baru.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
Terkini
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
Jaksa KPK Tuntut Abdul Wahid 8,5 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp1,45 Miliar
-
Sekjen ASEAN Serukan Indo-Pasifik yang Terbuka dan Inklusif di Tengah Memanasnya Geopolitik
-
Kejari Jakbar Sita Uang Rp5,19 Miliar dari Kasus Korupsi Pembebasan Lahan Srengseng
-
Bahlil Lahadalia Siap Buka Data untuk Penyidikan Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara PLTU
-
BEM SI Dukung Pengusutan Dugaan Korupsi oleh Kortastipidkor Polri, Minta Tak Ada Intervensi
-
Kejagung Tepis Isu TNI Jaga Jampidsus Febrie Adriansyah Karena Ditarget Polri
-
TNI Jaga Rumah Jampidsus Febrie Ancam Supremasi Sipil dan Independensi Hukum
-
Kejagung Tegaskan Surat Edaran Jamintel soal Kewaspadaan Tak Terkait Penggeledahan Polri
-
Bukan Balas Dendam dan Politik! Polri Harus Profesional Usut Kasus Korupsi yang Seret Jampidsus