Head of Research PUSKAPA UI, Widi Lara Sari, menyoroti dampak tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya juga ingin menyoroti hal ini, ketika seorang perempuan pindah, jangan lupa ada pekerjaan rumah tangga yang juga dibebani. Dia harus memikirkannya,” kata Widi.
Ia mencontohkan aktivitas sederhana seperti mencuci pakaian yang selama ini dilakukan di sungai atau sumber air dekat rumah bisa menjadi persoalan baru setelah relokasi.
“Misalnya mencuci baju, mungkin selama ini di kali dekat rumah. Kalau pindah, cuci bajunya di mana? Maka pertimbangan ini juga perlu dilihat,” ujarnya.
Widi menambahkan, banyak masyarakat yang tinggal di wilayah rentan sebenarnya tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk pindah ke lokasi yang lebih aman, meskipun menyadari ancaman yang mereka hadapi.
“Mereka tidak punya sumber daya untuk meninggalkan tempat tinggalnya ke tempat yang lebih baik,” katanya.
Dari Kampung ke Rusun: Adaptasi yang Tidak Mudah
Dalam konteks Jakarta, Andhika menilai relokasi warga ke rumah susun membutuhkan proses adaptasi sosial yang tidak singkat. Perubahan dari pola hidup kampung ke hunian vertikal memerlukan pembiasaan dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Relokasi kan enggak mungkin dari Ciliwung pindah ke gunung. Dari Ciliwung pasti pindahnya ke rusun,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?
Menurut Andhika, perpindahan ke rumah susun bukan hanya perubahan tempat tinggal, tetapi juga perubahan pola interaksi sosial, kebiasaan hidup, hingga cara masyarakat mengakses fasilitas sehari-hari.
“Perlu adanya pembiasaan dan itu perlu dilatih dan memang enggak mudah,” tambahnya.
Karena itu, pemerintah dinilai tidak cukup hanya menyediakan bangunan fisik. Pendampingan sosial dan penguatan kapasitas warga menjadi bagian penting agar masyarakat dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Indonesia Belum Punya Aturan Relokasi Iklim yang Komprehensif
Para pembicara sepakat bahwa pemerintah perlu mempersiapkan strategi adaptasi yang lebih komprehensif seiring meningkatnya risiko krisis iklim. Franky mendorong pemerintah daerah di wilayah yang rentan terhadap kenaikan muka air laut, gelombang panas, maupun krisis air untuk segera menyusun rencana aksi adaptasi.
“Bagi pemerintah di daerah-daerah yang rentan kenaikan muka laut, heat stress, atau kesulitan air harus menyusun adaptation action plan,” kata Franky.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Asa Baru Pascabencana: Anggaran Rp100 Triliun Disetujui DPR untuk Pulihkan Sumatra!
-
Bawa Mandat Prabowo Terkait RUU Polri, Menkum: UU Sudah Berlaku Dua Dekade, Perlu Disesuaikan
-
Miris! 6 Bulan Melaut Bertaruh Nyawa, Awak Kapal Perikanan Cuma Digaji Rp500 Ribu
-
Benarkah Pertumbuhan Ekonomi Selalu Merusak Alam? Studi Baru Justru Menemukan Sebaliknya
-
DPR Beberkan Poin-poin Perubahan di RUU Polri: Ada Soal Aturan Polisi Bertugas di Luar Institusi
-
Bukan Dibacok Begal! Pria di Tambora Patah Kaki Hantam Beton Gara-gara Mabuk
-
Bukan Sabotase, Ini Alasan PLN Butuh Waktu Lama untuk Pulihkan Listrik Sumatra
-
Sisi Getir Pasca-Bencana Sumatra: Masih Ada Sekolah yang Bertahan di Tenda dan Kelas Darurat
-
Menagih Janji di Atas Puing: Sepuluh Bulan Pedagang Taman Puring Menunggu
-
Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jateng Memuaskan, Tuai Berbagai Pujian