Suara.com - Profesor Ilmu Pakan Indonesia, Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc.Agr dan Tumuwuh meluncurkan pakan komplit dalam mendukung swasembada susu dan daging nasional dalam Innovation Hub Summit 2025 di Science Techno Park (STP) IPB University. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk berbagi pengalaman, mengembangkan kerja sama, serta memperluas adopsi teknologi. Melalui forum ini, IPB mempercepat perjalanan inovasi dari laboratorium menuju industri.
Salah satu inovasi yang mendapatkan perhatian besar adalah PKF (Pakan Komplit Fermentasi), pakan revolusioner pertama di Indonesia yang memadukan konsentrat dan hijauan dalam satu formulasi siap pakai. Prof. Luki sendiri merupakan Guru Besar Ilmu Pakan Indonesia sekaligus inovator utama PKF.
Prof. Luki menegaskan, PKF lahir dari kebutuhan nyata peternak yang selama ini harus menghabiskan banyak waktu mencari hijauan untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi perah.
“Selama ini peternak harus menghabiskan 5-7 jam hanya untuk mencari rumput. Dengan PKF, semua kebutuhan hijauan dan konsentrat ada dalam satu produk. Hasilnya, produksi susu bisa meningkat hingga 24%,” jelasnya.
Sebagai pakan ternak fermentasi, PKF mengandung asam organik seperti asam asetat yang memberikan perlindungan alami terhadap virus, termasuk risiko penyakit mulut dan kuku (PMK).
“Dari kajian kami di Lembang, 90% sapi yang diberi PKF terbukti aman dari PMK. Ini jauh lebih baik dibandingkan kelompok kontrol yang hampir seluruhnya terpapar,” tambahnya.
Agar inovasi tidak berhenti pada riset, IPB menggandeng PT Tumuwuh Persada Utama sebagai mitra strategis untuk hilirisasi dan distribusi PKF. Meski produksi masih dalam proses peningkatan kapasitas, pakan ternak fermentasi PKF sudah mulai dikirim ke berbagai wilayah seperti Boyolali, Ponorogo, Pengalengan, dan Baturraden.
Yosep Purnama, penggagas bisnis Ternak PT Tumuwuh Persada Utama, menekankan bahwa misi mereka adalah memastikan inovasi lokal dirasakan manfaatnya oleh peternak di berbagai daerah.
“Kami ingin memastikan inovasi Indonesia kembali ke peternak Indonesia. PKF bukan hanya pakan, ini langkah percepatan produktivitas nasional menuju swasembada susu dan daging nasional” ujar Yosep.
Baca Juga: 5 Susu Penambah Berat Badan Tinggi Protein Rekomendasi Ahli Gizi, Waspada Produk Abal-abal
Kolaborasi ini sejalan dengan arah kebijakan ketahanan pangan nasional, khususnya untuk memperkuat sektor peternakan sebagai fondasi pemenuhan gizi bangsa. Menurutnya, kunci utama swasembada adalah nutrisi pakan yang efisien, bukan hanya penambahan populasi sapi.
Sementara itu, Billy Mambrasar, anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, menekankan bahwa inovasi seperti PKF sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk pemerataan pembangunan dan ketahanan pangan nasional.
“Inovasi PKF ini sangat relevan dengan agenda besar Presiden Prabowo Subianto terkait kedaulatan pangan dan pemerataan akses di seluruh wilayah, termasuk Papua. Dengan pakan yang lebih murah dan mudah diproduksi, peternak di wilayah yang akses logistiknya sulit seperti Papua akan sangat terbantu,” tuturnya.
Dengan PKF sebagai pakan ternak fermentasi yang menyederhanakan kerja peternak tanpa perlu mengarit rumput sekaligus meningkatkan produktivitas, inovasi ini berpotensi menjadi tulang punggung transformasi peternakan nasional.
Prof. Luki merupakan Profesor Tumbuhan Pakan Indonesia, pernah menjabat Dekan Faultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjabat selama dari tahun 2007 - 2015. Ia berupaya memajukan pendidikan di bidang ilmu peternakan terutama bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan.
Tidak sedikit hasil risetnya di bidang nutrisi ternak, ilmu tanaman pakan, dan nutrisi tanaman peternakan yang masuk dalam Inovasi Indonesia Paling Prospektif versi Business Innovation Center didukung Kementerian Riset dan Teknologi RI. ***
Berita Terkait
-
Pemprov Jateng Fokus Wujudkan Swasembada Pangan pada 2026, Inilah 14 Program Penunjangnya
-
Review Lengkap Susu Flyon: Manfaat, Komposisi, Cara Konsumsi dan Harga Terbaru
-
Bolehkah Minum Susu Mentah atau Raw Milk? Ternyata Banyak Klaim Kelirunya
-
Dari Beras hingga Susu UHT, Pemprov DKI Klaim Salurkan 16 Juta Pangan Bersubsidi
-
Pakar Sebut 2 Kunci Utama untuk Pemerintah Bisa Capai Swasembada Energi
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
Pilihan
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
-
6 HP 5G Paling Murah di Bawah Rp 4 Juta, Investasi Terbaik untuk Gaming dan Streaming
-
Airbus Umumkan A320 Bermasalah, Kemenhub Sebut 38 Pesawat di RI Kena Dampak
Terkini
-
PNM Hadirkan Program RE3 (Reduce, Re-love, Restyle) dari Karyawan untuk Masyarakat
-
Ide Bisnis Tanpa Modal untuk Mahasiswa, Mengasah Skill Sambil Menambah Penghasilan
-
MIND ID Perkuat Komunikasi Keberlanjutan demi Dukung Pembangunan Peradaban Masa Depan
-
Fundamental, PANI jadi Salah Satu Emiten Properti Terkuat di Pasar Modal
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
Pekan Ini Investor Saham Lakukan Transaksi Capai Rp30 Triliun
-
Banjir Sumatera Terparah 2025, Gubernur BI Ajak Masyarakat Sisihkan Rezeki untuk Membantu
-
Airbus Umumkan A320 Bermasalah, Kemenhub Sebut 38 Pesawat di RI Kena Dampak
-
Perusahaan Syariah Grup Astra Incar Ceruk Bisnis Haji Lewat Ekosistem Pembiayaan
-
Studi Ungkap Konsumen Suka Hadiah yang Diberikan Suatu Brand