- Harga Bitcoin mengalami penurunan signifikan 16% dalam 30 hari.
- Tekanan jual kini didominasi oleh aksi jual spot terkonfirmasi dari arus masuk 15.924 BTC ke bursa dalam lima hari (13–18 November).
- Untuk pemulihan bullish, Bitcoin wajib menembus dan bertahan di atas resistensi kunci US$90.300.
Suara.com - Harga Bitcoin (BTC) menghadapi periode krusial setelah mengalami penurunan tajam yang menyebabkan kerugian 30 hari mencapai 16%.
Meskipun sempat rebound hari ini, dengan kenaikan 2,78% dalam 24 jam ke level US$92.410 (setara Rp1.551.355.829), para trader berada di persimpangan jalan: apakah harga akan pulih kembali atau bersiap menghadapi koreksi yang lebih dalam.
Secara fundamental, data grafik dan on-chain memberikan sinyal peringatan keras.
Jika harga Bitcoin tidak mampu segera kembali menembus dan bertahan di level kunci, titik terendah berikutnya berpotensi terbentuk jauh lebih rendah, bahkan mungkin di bawah level psikologis US$80.000.
Saat penulisan, kapitalisasi pasar Bitcoin berada di sekitar Rp30.866 triliun, dengan volume perdagangan harian tercatat sebesar Rp1.569 triliun.
Tekanan jual yang menimpa Bitcoin kini telah mengalami perubahan karakter. Sebelumnya, penurunan harga didominasi oleh likuidasi paksa (forced liquidation) posisi long (beli dengan leverage).
Kini, tekanan likuidasi tersebut mulai mereda, terbukti dari besarnya likuidasi posisi short (jual) di bursa seperti Binance yang mencapai US$3,56 miliar, jauh melampaui likuidasi posisi long (US$558 juta).
Meredanya likuidasi ini berarti penurunan harga yang terjadi belakangan ini lebih mencerminkan aksi jual spot (penjualan riil) yang disengaja, bukan lagi jual paksa. Aksi jual ini didukung oleh data cadangan BTC di bursa:
Antara 13 hingga 18 November, cadangan Bitcoin di seluruh bursa meningkat signifikan dari 2.380.595 BTC menjadi 2.396.519 BTC.
Baca Juga: Historis Harga Bitcoin Naik 96 Persen Pasca Pembatalan Shutdown Pemerintah AS
Artinya, terdapat arus masuk sebesar 15.924 BTC ke bursa hanya dalam lima hari—setara dengan sekitar US$1,43 miliar.
Arus masuk tertinggi ini merupakan sinyal adanya aksi jual spot yang masif dan mungkin dipicu oleh kepanikan.
Perubahan dari penurunan yang didorong likuidasi menjadi penurunan yang didorong oleh penjualan spot ini adalah faktor penting, karena jenis penurunan ini cenderung lebih terkendali, namun memiliki potensi untuk bertahan lebih lama, menjelaskan mengapa harga masih tertekan meskipun leverage telah banyak terhapus.
Dalam analisis harian yang dibagikan Pintu, guna memprediksi titik stabilisasi harga, analisis menggunakan indikator UTXO Realized Price Distribution (URPD) menjadi penting. URPD menunjukkan di harga mana koin terakhir dibeli, yang biasanya menjadi zona dukungan.
Namun, area harga antara US$89.600 hingga US$79.500 saat ini memiliki dukungan yang sangat tipis. Hanya sedikit koin yang terakhir berpindah tangan di rentang harga ini. Artinya, hanya sedikit pemegang koin yang memiliki motivasi kuat untuk mempertahankan level harga tersebut.
Kehilangan level US$90.300 menjadi sinyal yang sangat berbahaya karena membuka harga pada zona lemah yang luas. Jika Bitcoin terus ditutup di bawah level ini, peta URPD menunjukkan bahwa harga rentan jatuh hingga mendekati US$80.000.
Berita Terkait
-
Triliunan Rupiah Menguap Gegara Bitcoin Anjlok, Ini Fakta-fakta yang Wajib Diketahui
-
Caviar Rilis iPhone 17 Pro Bitcoin Edition Berlapis Emas, Harga Tembus Rp 1,1 Miliar
-
Pasar Kripto Goyang, Bitcoin Anjlok 30 Persen di Bawah USD90.000
-
Harga Bitcoin Tertekan Menuju Level Kritis, Bearish atau Peluang Akumulasi Penguatan?
-
Harga Bitcoin Tengah Ambruk, Investor Disarankan Ambil Langkah Ini
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari