Bisnis / Makro
Senin, 19 Januari 2026 | 11:53 WIB
Ilustrasi BUMI /freepik
Baca 10 detik
  • Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tertekan drastis pada Senin, 19 Januari 2026, menembus level psikologis Rp400.
  • Penurunan harga saham BUMI dipicu aksi jual bersih agresif investor asing mencapai Rp217 miliar pagi itu.
  • Koreksi BUMI terjadi berlawanan dengan rekor IHSG, di tengah antisipasi rebalancing indeks MSCI bulan Februari mendatang.

Suara.com - Tekanan jual terhadap saham raksasa batu bara, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), kian meruncing pada pembukaan perdagangan pekan ini.

Memasuki sesi I Senin (19/1/2026), harga saham BUMI terhempas ke bawah level psikologis Rp400, melanjutkan tren negatif yang telah terjadi sejak pekan lalu.

Hingga pukul 11.00 WIB, saham BUMI terpantau melemah ke level Rp394. Aktivitas perdagangan berlangsung sangat padat dengan volume mencapai 2,05 miliar saham yang berpindah tangan.

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 86.470 kali dengan nilai transaksi menembus Rp821 miliar di pertengahan sesi pertama.

Kejatuhan harga saham emiten pertambangan ini dipicu oleh aksi jual bersih (net sell) yang sangat agresif. Berdasarkan data RTI, BUMI mencatatkan net sell sebesar Rp217 miliar pada pagi ini saja, menempatkannya di urutan pertama saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing.

Kondisi ini memperpanjang catatan buruk BUMI di mata investor mancanegara. Sepanjang periode 12-15 Januari 2026 saja, total net sell asing pada saham ini sudah mencapai Rp963,8 miliar di pasar reguler.

Aksi pelepasan aset secara beruntun ini menjadi faktor utama yang menyeret harga BUMI turun drastis di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Pergerakan BUMI: Koreksi di Tengah Rekor IHSG

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatatkan rekor tertinggi baru, saham BUMI justru bergerak anomali dengan arah berlawanan. Berikut ringkasan pergerakannya dalam sepekan terakhir:

Baca Juga: Target Harga BBRI saat Sahamnya Ramai Diborong Investor Asing

Penurunan Tajam: Harga terkoreksi antara 10% hingga 12,77% hanya dalam waktu satu pekan.
Aksi Ambil Untung (Profit Taking): Analis menilai investor asing cenderung melakukan realisasi keuntungan setelah kenaikan signifikan pada periode sebelumnya.
Sentimen MSCI: Pasar mulai mengantisipasi adanya rebalancing indeks MSCI pada Februari mendatang, yang menyebabkan pergeseran minat investor.
Di sisi lain, pelemahan harga ini dimanfaatkan oleh sejumlah investor domestik untuk melakukan aksi "serok" atau buy on weakness. Investor lokal tampak mencoba menahan tekanan jual dengan melakukan akumulasi saat harga menyentuh level support teknikal.

## Analisis Teknikal: Support dan Resistance
Secara teknikal, pergerakan BUMI saat ini berada di bawah level support kuat sebelumnya yang berada di kisaran Rp406-Rp414. Apabila tekanan jual terus berlanjut, investor perlu mencermati kekuatan fundamental perusahaan dan sentimen global sektor komoditas. Untuk kembali ke tren penguatan, BUMI setidaknya harus mampu menembus kembali area resistance di level Rp430 hingga Rp444.

Meskipun secara mingguan mengalami kontraksi hebat, performa saham BUMI secara bulanan dan tahun berjalan (year-to-date) secara akumulatif sebenarnya masih berada di zona positif berkat reli panjang sepanjang tahun 2025 lalu.


DISCLAIMER: Investasi saham melibatkan risiko pasar yang tinggi. Data dan analisis di atas merupakan informasi publik dan bukan merupakan perintah untuk melakukan transaksi jual atau beli. Investor diharapkan melakukan riset mendalam dan mempertimbangkan manajemen risiko sebelum mengambil keputusan investasi di sektor pertambangan yang volatil.

Load More