- Saham BBCA terkoreksi tajam pada Rabu, 4 Maret 2026, ditutup melemah 1,77% di level Rp 6.950 akibat tekanan jual masif.
- Penurunan signifikan BBCA dipicu oleh ketidakpastian geopolitik global yang mendorong aksi jual bersih investor asing senilai Rp 183 miliar.
- Koreksi BBCA menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,32% ke 7.596,57, meskipun analis masih mempertahankan rekomendasi BELI.
Data perdagangan menunjukkan bahwa investor asing terus melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) pada saham-saham unggulan (Lq45), di mana BBCA menjadi target utama.
Dalam kurun waktu dua hari saja (2-3 Maret 2026), total aksi jual asing terhadap BBCA telah mencapai Rp 183 miliar. Jika diakumulasikan sepanjang tahun berjalan, arus modal keluar (capital outflow) asing dari saham ini sudah sangat fantastis, yakni mencapai Rp 16,97 triliun.
Efek domino dari jatuhnya saham dengan bobot terbesar seperti BBCA langsung terasa pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan sesi I siang ini, IHSG terpantau anjlok signifikan sebesar 343,20 poin atau merosot 4,32% ke level 7.596,57.
Penurunan ini melengkapi rangkaian koreksi beruntun setelah pada hari-hari sebelumnya IHSG juga telah melemah masing-masing sebesar 0,96% dan 2,65%.
Kondisi bursa secara keseluruhan terlihat sangat merah padam. Sebanyak 748 saham tercatat mengalami penurunan, dan hanya 68 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 142 saham lainnya stagnan.
Total transaksi di bursa hari ini mencapai Rp 18,06 triliun, yang melibatkan pertukaran 33,08 miliar lembar saham melalui lebih dari 2 juta kali transaksi. Angka transaksi yang tinggi ini menunjukkan adanya kepanikan (panic selling) di kalangan pelaku pasar.
Meskipun harga saat ini sedang terjerembab, tidak semua pihak melihat kondisi ini sebagai akhir dari segalanya. KB Valbury Sekuritas, dalam laporan kemarin, justru mempertahankan rekomendasi BELI untuk saham BBCA.
Dengan menggunakan metode Gordon Growth Model (GGM), mereka menetapkan target harga jangka panjang di level Rp 11.080.
Alasannya cukup fundamental. Target harga tersebut mencerminkan proyeksi Price to Book Value (P/B) tahun 2026 sebesar 4,1 kali. Jika dibandingkan dengan harga saat ini yang diperdagangkan pada P/B sebesar 2,7 kali, maka valuasi BBCA dinilai sudah sangat murah dan menarik secara historis.
Baca Juga: Rekomendasi Saham IHSG yang Diprediksi 'Tahan Banting' saat Perang Meletus
Berita Terkait
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
-
Siasat Dadan Hindayana Cs Korupsi MBG: Pakai Yayasan Sendiri, Sedot Miliaran Rupiah Tiap Hari!
-
Momen Unik Penahanan Dadan Cs, Satu Tersangka Tertinggal Mobil Tahanan hingga 'Dikepung' Wartawan
-
Pakai Rompi Pink dan Diborgol, Kejagung Resmi Tahan Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Cs
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
Terkini
-
RUU P2SK Disepakati, Besok Dibawa ke Paripurna
-
Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor
-
Punya Lisensi, WSKT Mulai Garap Proyek Infrastruktur di Arab Saudi
-
IHSG Anjlok Karena Investor Ragukan Kredibilitas Kebijakan Pemerintah
-
Purbaya Ungkap DPR Bisa Evaluasi LPS, OJK, dan BI berkat RUU P2SK
-
Strategi Bertahan di Tengah Rupiah yang Semakin Jatuh ke Jurang
-
Dirikan Brand Minyak Telon, Alumni Geografi UGM Berhasil Pasarkan Produk hingga Asia Tenggara
-
Purbaya Ungkap Fungsi dan Tugas Baru OJK di RUU P2SK, Ini Rinciannya
-
IPO SpaceX Siap Pecahkan Valuasi Tertinggi dalam Sejarah, Setara 10 Kali Lipat APBN
-
S&P Dikabarkan Bahas Downgrade Utang RI, Benarkah?