Bisnis / Ekopol
Kamis, 05 Maret 2026 | 06:05 WIB
Netanyahu. (Al Jazeera)
Baca 10 detik
  • Kementerian Keuangan Israel melaporkan kerugian ekonomi mencapai 9,4 miliar shekel per minggu akibat eskalasi konflik udara.
  • Pembatasan status siaga "Merah" memicu penutupan sekolah serta pembatasan mobilitas pekerja produktif.
  • Peralihan status siaga menjadi "Oranye" diharapkan menurunkan kerugian mingguan menjadi 4,3 miliar shekel.

Suara.com - Kementerian Keuangan Israel merilis laporan suram mengenai dampak finansial dari eskalasi perang udara yang sedang berlangsung melawan Iran.

Berdasarkan data yang dipaparkan pada Rabu (4/3/2026), kerusakan ekonomi yang diderita negara tersebut diperkirakan menembus angka 9,4 miliar shekel atau setara dengan Rp45,12 triliun setiap minggunya.

Lonjakan kerugian fantastis ini merupakan konsekuensi langsung dari penerapan pembatasan ketat kategori "Merah" oleh Home Front Command Israel.

Status siaga tertinggi ini memaksa penutupan institusi pendidikan secara total, pembatasan mobilitas pekerja, hingga mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan yang ditarik dari sektor-sektor produktif.

Menyikapi potensi kebangkrutan sistemik, Kementerian Keuangan Israel dilaporkan telah mendesak pihak keamanan untuk menurunkan status pembatasan dari "Merah" menjadi "Oranye".

Dalam skenario "Oranye" atau aktivitas terbatas, ekonomi diharapkan bisa lebih bernapas karena tempat kerja diizinkan beroperasi dengan protokol tertentu.

Jika transisi ke status "Oranye" berhasil dilakukan, estimasi kerugian ekonomi diprediksi dapat ditekan hingga menjadi 4,3 miliar shekel (sekitar Rp20,6 triliun) per minggu.

Namun, keputusan ini sepenuhnya bergantung pada intensitas serangan balasan yang datang dari wilayah Iran dan sekutunya.

Ilustrasi tentara yang mengoperasikan interceptor rudal di perang Iran vs Israel dan AS. (Gemini AI)

Laporan Reuters menyebutkan, agenda militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dimulai sejak Sabtu lalu melalui serangan udara ke wilayah Iran.

Baca Juga: Berapa Cadangan Minyak Indonesia? Bahlil Ngaku Optimis Tak Terdampak Perang AS-Iran

Aksi ini memicu gelombang balasan yang menghantam berbagai titik di Israel dan seluruh kawasan Timur Tengah.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ekonomi lokal, tetapi juga menjalar ke pasar global akibat terganggunya jalur ekspor energi di kawasan Teluk.

Pejabat senior dari AS dan Israel memperingatkan bahwa kampanye militer ini kemungkinan besar tidak akan selesai dalam waktu singkat dan bisa berlangsung selama berpekan-pekan.

Saat ini, kehidupan di kota-kota besar Israel praktis terhenti. Sekolah-sekolah masih ditutup rapat, acara publik dilarang, dan aktivitas perkantoran dilarang kecuali untuk layanan esensial.

Sebagian besar karyawan sektor swasta kini terpaksa melakukan pekerjaan dari rumah (work from home), yang secara teknis menurunkan produktivitas di sektor industri berat dan manufaktur.

Padahal, ekonomi Israel baru saja menunjukkan tren pemulihan pasca konflik dengan Hamas di Gaza. Pada tahun 2025, ekonomi Israel masih mampu tumbuh sebesar 3,1%.

Load More